AYO BELAJAR “Contoh Memebuat Program Remidial”

800px-Pyrocumulus_Cloud_Station_Fire_082909http://vadzayudia.blogspot.com

Berikut bagaimana cara menyusun program remidial:

CONTOH PROGRAM REMIDIAL

Sekolah                                 :     SMP Negeri  …………

Kelas / Semester                   :     VIII (Delapan) / Genap

Mata Pelajaran                      :     Matematika

Ulangan Harian  ke                :     2

Tanggal Ulangan Harian         :     1 Maret 2011

Bentuk Soal UH                    :     Uraian

Materi UH  (KD/Indikator)       :    4.2 Menghitung keliling dan luas lingkaran

1.  Menghitung keliling lingkaran

2.  Menghitung luas lingkaran.

3.  Menggunakan rumus keliling dan luas lingkaran dalam memecahkan soal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari.

Rencana Ulangan Rem         :     8 Maret 2011
KKM                                 :     70

No.

Nama Siswa

Nilai Ulangan

Indikator yang tidak dikuasai

Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remidial

Nomor Soal yang dikerjakan dalam Tes  Remidial

Nilai Tes Rem

Ket.

( 1 )

( 2 )

( 3 )

( 4 )

( 5 )

( 6 )

(7)

(8)

1.

Aco

65

2, 3

Diberikan Bimbingan Khusus dan tugas Individu

1, 2, 3, 4

85

Tuntas

2.

Besse

68

3

Diberikan Tugas khusus

3, 4

98

Tuntas

3.

Dst…………

Sengkang,                    2011

Guru Mata Pelajaran

UMAR MUHADI

NIP.

Keterangan :

  • Pada kolom ( 6 ), masing-masing indikator dibuatkan 1 atau 2 nomor soal dengan tingkat kesukaran berbeda-beda

        Misalnya     :    Indikator 2 menjadi 2 soal yaitu nomor 1, 2

                               Indikator 3 menjadi 2 soal yaitu nomor 3, 4

  • Pada kolom ( 7 ), nilai yang diperoleh hanya digunakan untuk menentukan tuntas atau tidak tuntasnya  dari siswa yang telah ikut remidial, karena nilai yang akan diolah adalah nilai batas ketuntasan. Artinya bahwa Aco dan Besse  memperoleh nilai setelah remidial masing-masing 70 (batas ketuntasan).

Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial

1.    Cara yang dapat ditempuh

a.       Pemberian bimbingan secara khusus dan perorangan bagi peserta didik yang belum atau mengalami kesulitan dalam penguasaan KD tertentu.

b.      Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran regular.

      Bentuk penyederhanaan itu dapat dilakukan guru antara lain melalui:

      a.  Penyederhanaan strategi pembelajaran untuk KD tertentu

      b.  Penyederhanaan cara penyajian (misalnya: menggunakan gambar, model, skema, grafik, memberikan rangkuman yang sederhana, dll.)

       c.  Penyederhanaan soal/pertanyaan yang diberikan.

2.    Materi dan waktu pelaksanaan program remedial

 a.      Program remedial diberikan hanya pada KD atau indikator  yang belum tuntas.

 b.     Program remedial dilaksanakan setelah mengikuti  tes/ulangan KD tertentu atau sejumlah KD dalam  satu kesatuan

Teknik pelaksanaan penugasan/pembelajaran  remedial:

v        Penugasan individu diakhiri dengan tes (lisan/tertulis) bila jumlah peserta didik yang mengikuti remedial maksimal 20%.

v       Penugasan kelompok diakhiri dengan tes individual (lisan/tertulis) bila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi lebih dari 20% tetapi kurang dari 50%. Pembelajaran ulang diakhiri dengan tes individual (tertulis) bila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi lebih dari 50 %.

CONTOH PROGRAM PENGAYAAN

Sekolah                            :  SMP Negeri ……………

Kelas / Semester              :   VIII (Delapan) / Genap

Mata Pelajaran                 :   Matematika

KKM Mata Pelajaran       :  70

Materi  (KD/Indikator)      :   4.2 Menghitung keliling dan luas lingkaran

1.  Menghitung keliling lingkaran

2.  Menghitung luas lingkaran.

3.  Menggunakan rumus keliling dan luas lingkaran dalam memecahkan soal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari.

No.

Nama Siswa

Nilai Ulangan

Bentuk Pengayaan

1. Condeng 90 Contoh:

1.     Memberikan soal-soal  pemecahan masalah, misalnya soal-soal Olimpiade yang terkait dengan materi lingkaran.

2.     Memanfaatkan  Condeng dan Dandang untuk menjadi Tutor Sebaya

2. Dandang 100
Dst ……………..

Sengkang,             2011

Guru Mata Pelajaran

UMAR MUHADI

NIP.

Pelaksanaan Program Pengayaan

1.      Cara yang dapat ditempuh:

a.      Pemberian bacaan tambahan atau berdiskusi yang bertujuan memperluas wawasan bagi KD tertentu

b.      Pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/paragraf, dll.

c.       Memberikan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan

d.      Membantu guru dalam membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan.

2.      Materi dan waktu pelaksanaan program pengayaan

a.       Materi Program pengayaan diberikan sesuai dengan KD-KD atau indikator  yang dipelajari , bisa berupa penguatan materi yang dipelajari maupun berupa pengembangan materi

b.      Waktu pelaksanaan program pengayaan adalah:

  • setelah mengikuti tes/ulangan  KD tertentu  atau  kesatuan KD tertentu, dan  atau
  • pada saat pembelajaran dimana siswa yang lebih cepat tuntas dibanding dengan teman lainnya maka dilayani dengan program pengayaan

Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran,  kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.

Diposkan oleh Rumah Ma

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Dalam proses pembelajaran di sekolah, aktivitas belajar tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar. Masalah kesulitan belajar ini sudah merupakan masalah umum yang terjadi dalam proses pembelajaran.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar seorang siswa di sekolah dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Oleh karena itu, seorang guru harus dapat mengidentifikasi setepat mungkin faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kesulitan belajar pada diri siswa tersebut.

Kesulitan belajar yang dialami siswa di sekolah bias bermacam-macam, baik dalam hal menerima pelajaran, menyerap pelajaran, atau kedua-duanya. Setiap siswa pada prinsipnya mempunyai hak untuk mencapai prestasi belajar yang memuaskan. Namun, dalam kenyataannya, jelas bahwa siswa-siswa tersebut memiliki perbedaan, baik dalam kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan, maupun pendekatan belajar yang tepat untuknya. Karena itulah saya, memilih judul “Pendidikan dan Pengajaran Remedial” untuk makalah ini. Sehingga, diharapkan permasalahan ini mendapatkan solusi atau perbaikan yang tepat bagi dunia pendidikan.

B. Tujuan

  1. Agar siswa dapat atau mengubah cara belajar kearah yang lebih baik.
  2. Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
  3. Agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.
  4. Memahami lebih jauh tentang “Pendidikan dan Pengajaran Remedial”.

Bab II

Program Remedial

Dalam Proses Belajar Mengajar

A. Pengertian Pengajaran Remedial (Perbaikan)

Dilihat dari arti katanya, istilah remedial berasal dari kata remedy (bahasa Inggris) yang berarti obat, memperbaiki, atau menolong. Karena itu , remedial berarti hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan. Pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat mengobati, menyembuhkan, atau membetulkan pengajaran dan membuatnya menjadi lebih baik dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang maksimal.

Remedial merupakan suatu sistem belajar yang dilakukan berdasarkan diagnosa yang komprehensif (menyeluruh), yang dimaksudkan untuk menemukan kekurangan-kekurangan yang dialami siswa dalam belajar. Kegiatan remedial (perbaikan) dalam proses pembelajaran merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberian bantuan yang berupa kegiatan perbaikan yang telah diprogram dan disusun secara sistematis.

Tantangan, krisis dan kesenjangan belajar berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah siswa yang mengalami kesulitan belajar di sekolah, terutama bagi siswa lamban belajar dan berprestasi rendah.Dalam proses pembelajaran, akan selalu ada siswa-siswa yang memerlukan bantuan, baik dalam hal mencerna materi pelajaran maupun dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialaminya. Sering ditemui seorang atau sekelompok siswa yang tidak mencapai prestasi belajar yang diinginkan. Hasil belajar seorang siswa kadang-kadang berada di bawah rata-rata bila dibandingkan dengan hasil belajar teman-teman sekelasnya. Siswa-siswa seperti inilah yang perlu memperoleh pengajaran remedial.

Dalam proses pembelajaran, seorang guru sudah barang tentu bertanggung jawab untuk membantu dan membimbing siswa untuk memperoleh hasil belajar yang optimal. Seorang guru sangat diharapkan untuk dapat menciptakan situasi pembelajaran yang efektif, efisien, dan relevan. Agar hal ini dapat tercapai, maka seorang guru harus memiliki kompetensi yang beraneka ragam.

Salah satu kompetensi guru yang dimaksud adalah bahwa seorang guru harus mempunyai kemampuan untuk melakukan diagnosis kesulitan belajar siswa. Artinya, ia bukan saja harus dapat menganalisis bahan pelajaran yang disampaikannya, tetapi juga berbagai kesulitan yang mungkin dialami oleh siswa dalam menerima pelajaran tersebut.

Dapat dikatakan bahwa pengajaran remedial ini merupakan bagian yang integral dari suatu proses pembelajaran yang menghendaki ketuntasan dalam pencapain TPK (tujuan pembelajaran khusus). Sebenarnya, apabila ada persiapan yang matang, artinya seorang guru memikirkan terlebih dahulu akibat dari metode, materi, dan alat yang akan digunakan, akan mempermudah siswa maupun guru dalam proses pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan kata lain, program remedial ini akan berhasil dengan baik apabila didahului oleh adanya suatu upaya guru untuk dapat mengidentifikasikan kesulitan belajar siswa dengan baik.

Semua faktor yang mempengaruhi hasil belajar hendaknya ditelusuri untuk mengetahui faktor mana yang berperan pada hasil belajar siswa. Faktor yang paling utama adalah guru dan siswa sendiri.

Dilihat dari faktor guru, keberhasilan belajar siswa paling tidak dipengaruhi oleh:

  1. Kesiapan guru dalam mengajar.
  2. Penguasaan guru terhadap materi pelajaran.
  3. Kemampuan bawaan guru.
  4. Kemampuan guru dalam berkomunikasi.

Dalam hal ini, seorang guru membutuhkan informasi dari hasil tes diagnostik tersebut untuk mengontrol dan memperbaiki cara mengajar yang dipergunakannya. Bila ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari suatu pokok bahasan, maka guru dapat melakukan tes diagnostik belajar dan menganalisis hasilnya, sehingga ia dapat mengusahakan adanya perbaikan atau penyesuaian cara mengajar yang dipergunakannya dengan materi yang diajarkan.

Sementara, dilihat dari faktor siswa, keberhasilan belajar siswa dapat dipengaruhi oleh:

1. Kesiapan belajar siswa.

2. Kebiasaan belajar siswa.

3. Sikap belajar siswa.

4. Ada atau tidaknya kesulitan belajar yang dialami oleh siswa pada umumnya.

5. Ada atau tidaknya kesulitan siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran tertentu.

Dalam hal ini, siswa harus mampu mengetahui hal-hal apa yang belum dikuasainya dalam belajar, sehingga ia dapat mencari jalan pemecahan masalah kesulitan belajar yang dialaminya. Kesulitan belajar yang timbul ini harus segera diketahui sedini mungkin agar dapat segera ditangani. Untuk itulah, perlu dilakukan tes diagnostic belajar. Dengan tes diagnostic belajar, diupayakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa serta menemukan kesalahan konsep dan proses yang terjadi.

Informasi dari tes diagnostik belajar sangat diperlukan oleh seorang guru sebagai dan bahan pertimbangan untuk memperbaiki cara mengajarkannya, karena tidak setiap metode mengajar berlaku secara tepat dan efektif untuk semua materi bidang studi. Jelaslah bahwa tes diagnostik ini sangat bermanfaat bagi guru dalam menelusuri tingkat keberhasilan mengjarnya, juga untuk mendapatkan informasi tentang kelemahan dalam penyampaian pengajarannya, agar dapat diupayakan program perbaikannya.

Di sisi lain, informasi tentang kelemahan dan kesulitan belajar siswa juga diperlukan agar siswa dapat mengetahui bagian mana yang masih belum dikuasainya, dan mencari faktor penyebabnya. Dengan demikian, siswa dapat mengupayakan alat bantu atau cara untuk memperbaiki kelemahannya atau mencari jalan pemecahan kesulitan belajar yang dialaminya.

Berdasarkan informasi yang diterima dari pelaksanaan tes formatif, maka akan diketahui jenis kesulitan khusus yang dialami siswa, sekalipun telah diupayakan dan diberikan umpan balik (feed back).

B. Macam-macam Perbaikan

Macam-macam kegiatan perbaikan bergantung pada dimensi/unsur-unsur yang terdapat pada kegiatan perbaikan itu sendiri, yaitu:

  1. Sifat kegiatan perbaikan itu sendiri.
  2. Jumlah siswa yang memerlukan perbaikan.
  3. Tempat perbaikan diberikan.
  4. Waktu, kapan dan berapa lama perbaikan diberikan.
  5. Orang yang memberikan perbaikan.
  6. Metode yang dipakai dalam perbaikan.
  7. Sarana/fasilitas/alat-alat yang dipakai dalam perbaikan.
  8. Tingkat kesulitan belajar siswa.

Berdasarkan kedelapan unsur kegiatan perbaikan tersebut di atas, dapat dipilih macam-macam kegiatan perbaikan, antara lain:

1. Mengajarkan kembali (re-teaching) bahan yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda.

2. Bimbingan individual/kelompok kecil.

3. Memberikan pekerjaan rumah.

4. Menyuruh siswa mempelajari sendiri dari sumber-sumber yang ditunjuk oleh guru.

5. Menggunakan alat-alat audio-visual yang lebih banyak.

6. Bimbingan oleh:

  • · Wali kelas
  • · Guru BP
  • · Tutor sebaya
  • · Tutor serumah
  • · Guru bidang studi dan sebagainya.

C. Tujuan dan Fungsi Pengajaran Remedial (Perbaikan)

Pengajaran remedial ini pada hakikatnya merupakan suatu upaya “bantuan” untuk memperbaiki prestasi belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, baik, berupa perlakuan pengajaran maupun bimbingan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa yang mungkin disebabkan oleh faktor-faktor internal maupun eksternal. Siswa yang mengalami kesulitan belajar diupayakan dapat mencapai prestasi belajar yang baik melalui kegiatan remedial ini.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa pengajaran remedial ini berguna untuk memperbaiki prestasi belajar siswa. Dengan mengikuti program pengajaran remedial ini, siswa dapat lebih memahami dirinya, terutama mengenai prestasi belajarnya, sehingga ia dapat mengubah atau memperbaiki cara belajar, atau mengatasi hambatan-hambatan lainnya yang menjadi penyebab kesulitan belajarnya.

Secara umum, tujuan pengajaran perbaikan (remedial teaching) tidak berbeda dengan pengajaran biasa, yaitu dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara khusus, pengajaran perbaikan ini bertujuan untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada para siswa yang lambat, mengalami kesulitan, ataupun gagal dalam belajar, sehingga mereka dapat secara tuntas dalam menguasai bahan atau materi pelajaran yang diberikan, dan dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses perbaiakan.

Secara lebih rinci, tujuan pengajaran perbaikan adalah:

1. Agar siswa dapat memahami dirinya, khususnya prestasi belajarnya, dapat mengenal kelemahannya dalam mempelajari suatu bidang studi dan juga kekuatannya.

2. Agar siswa dapat memperbaiki atau mengubah cara belajar ke arah yang lebih baik.

3. Agar siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.

4. Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.

5. Agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya, setelah ia mampu mengatasi hambatan-hambatan yang menjadi penyebab kesulitan belajarnya, dan dapat mengembangkan sikap serta kebiasaan yang baru dalam belajar.

Sedangkan dalam keseluruhan proses pembelajaran, pengajaran perbaikan (remedial) berfungsi sebagai:

1. Fungsi Korektif

Fungsi korektif ini berarti bahwa melalui pengajaran remedial dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.

2. Fungsi Pemahaman

Fungsi pemahaman berarti bahwa dengan pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa, atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehensif mengenai pribadi siswa.

3. Fungsi Penyesuaian

Fungsi penyesuain berarti bahwa pengajaran remedial dapat membentuk siswa

untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses

belajarnya).

4. Fungsi Pengayaan

Fungsi pengayaan berarti bahwa pengajaran remedial akan dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran regular, akan dapat diperoleh melalui pengajaran remedial.

5. Fungsi Akselerasi

Fungsi akselerasi berarti bahwa dengan pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien. Dengan kata lain, dapat mempercepat proses pembelajaran, baik dari segi waktu mau pun materi.

6. Fungsi Terapeutik

Fungsi terapeutik berarti bahwa secara langsung atau tidak, pengajaran remedial akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan.

Bab III

Kesulitan Belajar

A. Pengertian Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar itu sendiri merupakan gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau menghitung. Kesulitan belajar siswa di sekolah bisa bermacam-macam baik dalam hal menerima pelajaran, menyerap pelajaran, atau kedua-duanya.

B. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Kesulitan Belajar

Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri dari dua macam, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor Internal (dalam diri siswa), di antaranya:

a. Kelemahan secara fisik, seperti:

  • · Adanya suatu susunan saraf yang tidak berkembang secara sempurna, sehingga sering mengakibatkan terjadinya gangguan emosional.
  • · Adanya penyakit menahun yang dapat menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.

b. Kelemahan – kelemahan secara mental, baik kelemahan yang dibawa

sejak lahir maupun karena pengalaman, yang sukar diatasi oleh individu yang

bersangkutan, seperti:

  • · Kelemahan mental, artinya taraf kecerdasan (intelegensia)-nya memang kurang.
  • · Kurang bakat dan minat, bimbang, kurang usaha, aktivitas yang tidak terarah, kurang semangat, kurang gizi, kurang menguasai keterampilan dan kebiasaan fundamental dalam belajar.

c. Kelemahan-kelemahan emosional, seperti:

  • · Adanya rasa tidak aman.
  • · Tercekam oleh rasa fobia (takut, benci, dan antipati).
    • · Ketidakmatangan.

d. Kelemahan yang disebabkan karena kebiasaan dan sikap-sikap yang salah, seperti:

  • · Banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang kegiatan sekolah, atau malas belajar.
    • · Kegagalan dalam usaha memusatkan perhatian.
    • · Gugup.

e. Tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan, spt:

  • · Ketidakmampuan membaca (dyslexia), menulis (dysgraphia), berhitung (dyscalculia), dan kurang menguasai pengetahuan dasar untuk suatu bidang studi yang sedang diikuti.
    • · Memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah.

2. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di luar diri siswa,

diantaranya:

a. Adanya kurikulum yang seragam, bahan dan buku-buku sumber yang

tidak sesuai dengan tingkat kematangan siswa dan perbedaan individual.

b. Adanya ketidaksesuaian standar administratif, seperti sistem pengajaran,

penilaian, pengelolaan, kegiatan, dan pengalaman pembelajaran.

c. Adanya beban belajar siswa yang terlalu berat, atau populasi siswa yang

ada di dalam kelas terlalu besar.

d. Terlalu sering pindah sekolah, tinggal kelas, dan sebagainya.

e. Adanya kelemahan dari sistem pembelajaran pada tingkat pendidikan

dasar sebelumya.

f. Kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga (pendidikan, status

social ekonomi, keutuhan keluarga, ketentraman, dan keamanan).

g. Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak

terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler.

h. Kekurangan gizi,dan sebagainya.

C. Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar

Ada berbagai cara untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar. Berdasarkan informasi yang diterima dari tes formatif, maka akan diketahui kesulitan khusus yang dialami oleh siswa. Mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, tidak dapat dibicarakan secara terpisah dengan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar tersebut.

Apabila seorang guru melihat siswanya mengalami kesulitan belajar, maka harus mengamatinya apakah gangguan yang terjadi pada siswa itu merupakan gangguan internal ataukah gangguan eksternal, dan apakah gangguan itu tergolong berat atau ringan.

Usaha perbaikan kesulitan belajar siswa ini dapat dilakukan dengan memperhatikan apabila ada lebih dari satu siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sama, maka upaya perbaikan ini hendaknya diberikan terhadap kelompok siswa itu secara bersama-sama. Akan tetapi, apabila ada siswa yang memiliki kesulitan khusus yang bersifat unik, maka upaya perbaikan hendaknya diberikan secara individual.

Metode yang dipakai dalam usaha mengatasi kesulitan belajar tidak berbeda dengan metode yang dipakai pada pelaksanaan proses belajar-mengajar pada umumnya, antara lain:

  • · Metode ceramah
  • · Metode diskusi
  • · Metode pemberian tugas dan resitasi
  • · Metode kerja kelompok
  • · Metode tanya jawab
  • · Metode demonstrasi dan eksperimen
  • · Metode sosiodrama/bermain peran (role playing)
  • · Metode tutorial, dan
  • · Metode pengajaran individual.

Tidak ada satu metode pun kalau ia berdiri sendiri, merupakan metode yang paling baik atau merupakan metode yang tidak paling baik.Baik buruknya suatu metode bergantung pada faktor-faktor antara lain:

1. Tujuan pembelajaranyang akan dicapai.

2. Kemampuan guru dalam menggunakani metode pengajaran yang dimaksud.

3. Kemampuan siswa dalam mengadaptasi metode pengajaran yang digunakan.

4. Besarnya kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan metode pengajaran itu.

5. Waktu belajar.

6. Tempat belajar.

7. Fasilitas yang tersedia.

Yang penting adalah bagaimana guru menentukan/mengombinasikan metode yang paling tepat untuk melayani siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tentu saja dengan memperhatikan faktor-faktor di atas.

Dengan metode yang tepat, diharapkan siswa akan:

1. Mempunyai motivasi belajar lebih giat.

2. Mengerti sungguh-sungguh apa yang dipelajari.

3. Mendapatkan ketrampilan yang cukup, sehingga dapat menguasai pelajaran dengan baik.

Untuk menetapkan metode apa yang dipakai dalam memberikan “bimbingan belajar”, perlu dipahami dulu pengertian “belajar” dan “bimbingan belajar”. Belajar ialah suatu usaha untuk menguasai suatu kecakapan, baik jasmaniah maupun rohaniah dengan jalan mengorganisasikan atau mereorganisasikan materi, hingga menjadi orang yang belajar dan mengubah tingkah laku yang lebih baik. Yang penting adalah bagaimana belajar yang efektif dan efisien (berdaya guna dan berhasil guna).

Bimbingan belajar ialah suatu proses pemberian bantuan kepada siswa dengan memperhatikan siswa sebagai makhluk individual, makhluk social dan perbedaan-perbedaan individu, agar supaya siswa dalam proses perkembangannya dapat maju seoptimal mungkin, dapat memecahkan masalah/kesulitannya sendiri demi peningkatan kebahagiaan hidupnya.Yang penting bagi guru/pembimbing ialah bagaimana menentukan metode yang paling tepat untuk memberikan bimbingan belajar di dalam penerapannya secara operasional kepada para siswa yang memerlukan bimbingan belajar itu.

  • · Metode ceramah

Metode ceramah merupakan suatu metode mengajar yang dilakukan dengan penyajian materi melalui penjelasan lisan oleh seorang guru kepada siswa-siswanya. Metode ini biasanya digunakan apabila guru akan menyampaikan suatu kenyataan yang tidak ada dalam buku pelajaran, sementara fakta ini dimaksudkan untuk memperdalam atau memperluas materi pelajaran yang tidak terdapat di dalam buku tersebut.

Metode ini juga akan efektif bila digunakan untuk menghadapi siswa yang berjumlah banyak, dan guru dapat memberi motivasi atau dorongan belajar kepada siswa untuk mengikuti kegiatan belajar tersebut.

  • · Metode diskusi

Metode diskusi merupakan suatu metode untuk menguasai bahan atau materi pelajaran yang dilakukan melalui tukar menukar pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing siswa untuk memecahkan suatu masalah.

Dengan menggunakan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan,maka diharapkan setiap individu dalam kelompok dapat mengenal diri dan kesulitannya serta menemukan jalan pemecahannya, berinteraksi dalam kelompok sehingga menumbuhkan sikap percaya-mempercayai, mengembangkan kerja sama antarpribadi, menumbuhkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.

  • · Metode tanya jawab

Metode tanya jawab ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitannya. Dalam rangka perbaikan, serangkaian tanya jawab dapat membantu siswa dalam memahami dirinya, mengetahui kelebihan atau kekurangannya, dan memperbaiki cara-cara belajarnya.

Metode tanya jawab ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Dengan metode tanya jawab dalam rangka pengajaran perbaikan ini, maka akan memungkinkan terbinanya hubungan guru-siswa, meningkatkan motivasi belajar, menciptakan kondisi yang menunjang pelaksanaan penyuluhan, dan menumbuhkan rasa harga diri.

  • · Metode demonstrasi dan eksperimen

Metode eksperimen ini sangat berkaitan erat dengan metode demonstrasi, karena setelah melakukan suatu demonstrasi, kemudian akan diikuti kegiatan eksperimen. Metode demonstrasi merupakan suatu metode mengajar yang dilakukan dengan mempertunjukkan sesuatu, dapat berupa suatu rangkaian percobaan, model, atau keterampilan tertentu. Dalam penggunaan metode ini, siswa dituntut untuk memperhatikan hal-hal yang didemonstrasikan.

Sedangkan metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar yang dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa, baik secara individual maupun kelompok, untuk melatih melakukan suatu kegiatan percobaan secara mandiri.

Dalam program pengajaran remedial, kedua metode ini j Agar siswa Agar siswa uga dapat digunakan untuk membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, karena melalui kegiatan pengamatan dan mencoba melakukan sendiri, maka besar peluang siswa untuk dapat memahami suatu materi pelajaran.

  • · Metode tutorial

Dalam program remedial, guru juga dapat menggunakan metode tutorial, baik tutor sebaya maupun tutor serumah.Yang dimaksud dengan tutor sebaya adalah kegiatan bantuan perbaikan yang diberikan oleh teman-teman yang sekelas dengan siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor sebaya ini tidak harus merupakan siswa yang paling pandai di kelas, tetapi tentunya siswa tersebut sudah mastery (menguasai) terhadap bahan atau materi pelajaran yang akan ditutorkan. Guru juga dapat menggunakan tutor serumah, baik kakaknya, paman, atau orang tua siswa itu sendiri.

Namun demikian, fungsi tutor di sini hanya membantu guru dalam melaksanakan kegiatan perbaikan bagi siswa yang memerlukan. Artinya, pelaksana utama kegiatan perbaiakan ini tetaplah guru itu sendiri, dan guru bertanggung jawab terhadap penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari.

Dengan petunjuk-petunjuk dari guru, tutor membantu temannya yang mengalami kesulitan. Pemilihan tutor didasarkan atas prestasi, punya hubungan social baik dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru. Dengan tutor ini diharapkan adanya hubungan yang lebih dekat dan akrab. Tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar, juga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan sendiri.

D. Contoh Kasus Kesulitan Belajar dan Mengatasinya

Seorang siswa kelas 1 SMP mengalami kesulitan dalam hal membaca “reading” bahasa Inggris mengenai lafal maupun tekanannya. Dengan demikian ia juga kesukaran dalam mengartikan kalimat demi kalimat, sehingga dia menemui kesulitan dalam memahami isi bacaan yang dipelajarinya.

Bagaimana guru harus memberikan pertolongan kepada siswa tersebut ?

Memahami kasus tersebut dapatlah :

  • · Dilokalisasikan jenis dan sifat kesulitannya yaitu :

1. Hal membaca reading, tentang ucapan atau lafal dan tekanan.

2. Memahami isi bacaan.

  • · Dilokalisasikan jenis dan sifat faktor penyebab kesulitan :

1. Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran baru.

2. Tulisan atau ejaannya berbeda dengan lafalnya.

3. Tidak ada kelainan pada siswa.

  • · Perkiraan dan penetapan kemungkinan bantuan :

1. Tingkat kesulitannya ringan, relatif mudah ditolong.

2. Waktu yang digunakan ± 4×30 menit.

3. Di rumah siswa.

4. Oleh kakaknya yang kebetulan duduk di kelas III SMP.

5. Metode tutoring serumah.

  • · Pelaksanaan tindak lanjut :

Meminta kepada kakak siswa tersebut yang duduk di kelas III SMP untuk melatih membaca di rumah selama 4 malam berturut-turut @ 30 menit. Sebelumnya guru memberikan contoh bagaimana membaca reading yang benar kepada kakak siswa tersebut.

Yang perlu dicatat dalam langkah-langkah tersebut ialah faktor “ORANG YANG MEMBERIKAN BANTUAN”, dalam hal ini ialah kakak siswa itu yang kebetulan duduk di SMP kelas III diperkirakan memenuhi syarat sebagai tutor serumah.

Bab IV

Penutup

A. Kesimpulan

Kegiatan remedial (perbaikan) dalam proses pembelajaran merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberian bantuan yang berupa kegiatan perbaikan yang telah diprogram dan disusun secara sistematis. Tantangan, krisis dan kesenjangan belajar berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah siswa yang mengalami kesulitan belajar di sekolah, terutama bagi siswa lamban belajar dan berprestasi rendah.Dalam proses pembelajaran, akan selalu ada siswa-siswa yang memerlukan bantuan, baik dalam hal mencerna materi pelajaran maupun dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialaminya. Sering ditemui seorang atau sekelompok siswa yang tidak mencapai prestasi belajar yang diinginkan. Hasil belajar seorang siswa kadang-kadang berada di bawah rata-rata bila dibandingkan dengan hasil belajar teman-teman sekelasnya. Siswa-siswa seperti inilah yang perlu memperoleh pengajaran remedial.

B. Saran

Dalam proses pembelajaran, seorang guru sudah barang tentu bertanggung jawab untuk membantu dan membimbing siswa untuk memperoleh hasil belajar yang optimal. Seorang guru sangat diharapkan untuk dapat menciptakan situasi pembelajaran yang efektif, efisien, dan relevan. Agar hal ini dapat tercapai, maka seorang guru harus memiliki kompetensi yang beraneka ragam.

Daftar Pustaka

  1. Mukhtar dan Rusmini, 2005. Pengajaran Remedial. Jakarta: Nimas Multima.
  2. Ischak dan Warji, 1987. Program Remedial. Yogyakarta: Liberty.
  3. Wijaya,Cece, 1996. Pendidikan Remedial. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  4. http://www.google.com
  5. http://www.pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s