RESUME BUKU “GURU BESAR BICARA”

contoh mukaddimah ceramah juga bisa anda lihatBAB 5
EVALUASI HASIL BELAJAR AFEKTIF
PENDIDIKAN AGAMA: KONSEP DAN PENGUKURAN
Prof. Dr. H. Ibnu Hadjar, M.Ed

DSC07943

Aspek afektif memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam pembuatan keputusan, persepsi, interaksi dan komunikasi serta intelegensi. Dalam Pendidikan Agama Islam yang memiliki tujuan utama menanamkan nilai-nilai agama pada peserta didik, ranah afektif tidak hanya penting, tetapi seharusnya menjadi fokus utama pada seluruh jenjang pendidikan.
Aspek Afektif Dalam Praktek Pendidikan
Menurut Tyler, ada dua alsan utama mengapa aspek afektif tidak menjadi bagian dari kurikulum. Pertama, banyak pendidikan berpendapat bahwa aspek afektif bukan merupakan perhatian/tugas utama dari sekolah, tetapi tugas orang tua dan masyarakat. Kedua adanya pandangan bahwa secara alami aspek afektif akan berkembang sejalan dengan perkembangan afektif karena diasumsikan aspek tersebut secara otomatis akan terpengaruh oleh perkembangan aspek kognitif.
Ada alasan yang bersifat tekhnis mengapa aspek afektif kurang mendapatkan perhatian yang sewajarnya dalam pendidikan formal. Diantaranya adalah:

a. Ranah afektif sulit didefinisikan dan diukur
b. Terbatasnya alat evaluasi
c. Keengganan memberikan nilai pada aspek afektif
d. Kesulitan menentukan standar perilaku yang mencerminkan ranah afektif, dan;
e. Sedikitnya konsekwensi langsung yang tercerminkan dalam perilaku afektif

Hakikat Aspek Afektif
Dalam kaitan dengan Pendidikan Agama, aspek afektif seringkali disamakan dengan akhlaq. Dalam kajian psikologi dan pendidikan, beberapa konstruk telah digunakan untuk mencerminkan karakteristik afektif. Diantaranya adalah sikap, motifasi, konsep diri, minat dan nilai.
Evaluasi Dan Pengukuran Aspek Afekif
Fungis utama evaluasi atau penilaian adalah untuk memberikan status tingkat pencapaian kemampuan kompetensi oleh siswa, baik pada awal,proses maupun akhir pembelajaran.
Pemanfaatan Hasil Pengukuran Afektif
Pengukuran afektif pada umumnya dilakukan secara tidak langsung dan sangat tergantung pada laporan diri atau self report. Karena aspek afektif tidak di rencanakan secara eksplisit dalam kurikulum,maka pemberian nilai pada aspek ini tidakpada tempatnya karena tidak ada kriteria keberhasilan yang menjadi tolak tolak ukur yang berkenaan dengan perasan , emosi , atau stimulus kependidikan lain

BAB 6
PENDIDIKAN ISLAM DI TENGAH PERGUMULAN BUDAYA KONTEMPORER
Prof. Dr. H. Muhtarom HM

Budaya Massa Dan Budaya Tehnologi

Budaya disebut sebagai hasil akal budi dari alam sekelilingnya dan dipergunakan bagi kesejahteraan hidupnya. Budaya massa adalah budaya yang jumlahnya banyak sekali. Budaya massa diilhami dari hubungan yang semakin transparan antar bangsa,sehingga tidak ada lagi sekat budaya yang menyebabkan terjadinya fusi
Kontelasi Pendidikan Islam
Pendidikan islam berfungsi mengembngkan seluruh potensi peserta didik secara bertahap menurut ajaran Islam. Proses pendidikan Islam harus mencakup aspek ta’lim dan ta’dib, yaitu yang menyangkut transfer ilmu dan keterampilan untuk memenuhi hajat hidup, dan yang menyangkut aspek beradab atau berbudi pekerti baik.
Pendidikan Islam kiranya mempunyai kekuatan menjadi counter budaya dan sebagai respon terhadap mass culture dengan kembali memeperkokoh tradisi Islam di kalangan perserta didik muda dan anak-anak usia dini.
Profil Kebijakan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam ke depan berfungsi dalam mendidik, mengajar dan melatih, salah satu problem pendidikan Islam yang perlu penguatan dan perawatan adalah bagaimana menyiapkan peserta didik agar tidak tersesat dalam budaya massa.

Pendidikan Islam Laik responsif terhadap munculnya fenomena-fenomena tersebut, dengan kembali meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan atau sains, memperkokoh tradisi islam, memberikan porsi pendidikan al-af’idah (hati nurani) lebih dominan dengan mempertajam pelatihan pada pusat-pusat pendidikan islam. Karena al-af’idah ini menjadi orang saleh atau tidak. Dengan al-af’idah ini dapat dilihat seseorang dengan Tuhannya atau jauh denganNya.

øDSC07943

BAB 7
HIDDEN CURRICULUM DALAM PERSEPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
Prof. Dr. H. Djamaluddin Darwis, MA

Kurikulum Pendidikan Islam

Lembaga pendidikan islam bertujuan untuk mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan di kalangan umat, usaha yang sesuai dengan tujuan pendidikannya. Kurikulum secara sempit diartikan sebagai suatu perangkat mata pelajaran atau mata kuliah dan dalam pengertian yang lebih luas mencakup kegiatan program belajar. Dalam pengertian yang lebih luas ini kurikulum merupakan segala bentuk aktifitas program pendidikan, yang mencakup tujuan, muatan pembelajaran, cara mengajar dan pengalaman belajar peserta didik, bahkan semua sarana dan situasi yang mendukung proses belajar juga dapat dikatakan merupakan bagian dari kurikulum.
Abdurrahman An-Nahlawi dalam mencermati tentang kurikulum pendidikan islam menyatakan bahwa kurikulum pendidikan islam harus dibangun atau dasar konsep islam tentang alam semesta. Kehidupan dan manusia yang memiliki beberapa kriteria, antara lain:

1. Sistem pengajaran yang sesuai fitrah manusia
2. Mewujudnya ujuan fundamental pendidikan islam
3. Sesuai potensi dan kemampuan peserta didik
4. Memiliki idealisme islam
5. Bebas dari kontradiksi
6. Metode yang elastis
7. Bersifat efektif
8. Memperhatikan tingkatan usia peserta didik
9. Memperhatikan perilaku peserta didik.

Hidden Curriculum Dalam Pendidikan Agama Islam

Hidden Curriculum secara harfiah artinya kurikulum yang tersembunyi yaitu kurikulum yang tidak dirumuskan secara struktural baik formal atau dalam bentuk kokurikuler atau ekstra kurikuler.
Lembaga pendidikan islam sangat sulit untuk mencapai tujuan pendidikannya, untuk mendakwahkan islam melalui jalur pendidikan. Upaya mendakwahkan nilai-nilai keagamaan tadi disamping melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran yang dikemas dalam kurikulum mata pelajaran atau mata kuliah Pendidikan Agama Islam juga harus ditunjang dengan kegiatan dalam hidden curriculum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s