“PENGEMBANGAN ILMU AGAMA ISLAM DALAM SUDUT PANDANG FILSAFAT ILMU”

TUGAS MAKALAH

MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

Dosen Pengampu:

Prof.Dr. Mahmutarom HR, S.H, M.H

 

 

Gambar

Oleh :

………

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu

Pascasarjana Program Studi Pendidikan Agama Islam

 

UNIVERSITAS WAHID HASYIM

(UNWAHAS) SEMARANG

2012

 

PENGEMBANGAN ILMU AGAMA ISLAM

DALAM SUDUT PANDANG FILSAFAT ILMU

 

ABSTRAKSI

Bagi para pendidik atau guru mempelajari filsafat itu akan besar sekali manfaatnya. Seorang guru dituntut memiliki wawasan yang luas mengenai profesinya. Ia harus mengetahui hakekat pendidikan dan hekekat tujuan pendidikan. Dasar-dasar pendidikan dan tehnik-tehnik penyampaian materi pelajaran sehingga mudah menjadi milik anak. Berpikir secara filsafat bagi guru terasa sangat penting dalam menghadapi ilmu dan tehnologi yang semakin maju seperti sekarang ini. Ia akan dengan mudah menghadapi pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi. Selain itu ia akan selalu berpikir kreatif, bersikap terbuka terhadap pembaharuan sehingga tidak ketinggalan zaman.

Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat, karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan.

Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.

Kemunculan dan perkembangan tradisi keilmuan, pemikiran, dan filsafat didunia islam tidak dapat di pisahkan dari kondisi lingkungan (kebudayaan dam peradaban) yang mengitarinya. Kemunculan dan perkembangan bukan sesuatu yang orisinal dan baru sama sekali tetapi merupakan formulasi baru yang merupakan perpaduan antara kebudayaan dan peradaban yang sudah ada dan inherent dalam masyarakat itu dengan kebudayaan dan peradaban yang baru datang. Karena, jauh sebelm wilayah-wilayah (yang disebut dunia islam) dihuni masyarakat muslim, telah tumbuh sesuatu masyarakat yang berkebudayaan dan berperadaban.

Uraian tentang kedudukan manusia dalam alam semesta dalam hubungannya dengan filsafat pendidikan islam, merupakan bagian yang amat penting, karena dengan uraian ini dapat diketahui dengan jelas tentang potensi yang dimiliki manusia serta peranan yang harus dilakukannya dalam alam semesta. Uraian ini selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar bagi perumusan tujua pendidikan, pendekatan yan harus ditempuh dalam proses belajar mengajar serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pendidikan. Selain itu uraian ini penting dilakukan karena manusia dalam kegiatan pendidikan adalah merupakan subjek dan objek yang terlibat didalamnya. Tanpa ada kejelasan konsep tentang manusia ini, maka akan sulit ditentukan arah yang akan dituju dalam pendidikan.

Dalam makalah kali ini, pemakalah akan mencoba untuk membahas tentang bagaimana perkembangan ilmu agama islam dalam sudut pandang atau perspektif filsafat ilmu.

 

BAB I

PENDAHULUAN

Filsafat Ilmu merupakan cabang filsafat yang merefleksi, radikal, dan integral mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Filsafat Ilmu merupakan penerus dalam pengembangan filsafat pengetahuan (epistemologi), sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah a higher level dalam rangka perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Koento Wibisono, 1994: 18)

Pada prinsipnya kita melihat bukti dalam sejarah ternyata umat islam jaman pertengahan berjasa dalam pembangunan, antara lain : Bidang Sains, Eksakta, Aqidah, Sosial dalam sejarah, tercatat pula ulama yang mendalami agama dapat menjadi filosof dan dokter, seperti ibnu sina. Dalam bidang akidah dan akhlak adalah merupakan kesaksian iman dan pernyataan pengetahuan tentang realitas, orang islam memandang bahwa berbagai sains, ilmu alam dan ilmu sosial sebagai ragam bukti yang menunjuk pada kebenaran yang paling pundamental dalam islam, oleh karena itu semangat ilmiah merupakan [1][1]bagian yang teradu dari tauhid atau aqidah, semangat imiah para ilmuan mengalir dari kesadaran mereka akan tauhida atau akidah, dalam literatur dijelaskan mengenai sumbangan umat islam terhadap ilmu-ilmu ekstra, antara lain sumbangan uamt islam terhadap matematika, astronomi, Kimia dan Iptek.

Pendekatan filsafat dalam memahami Islam bertolak dari asumsi bahwa Islam adalah agama berdimensi fisik dan metafisik. Metafisik dimaksudkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah. Titik sentral pengkajian filsafat dan memahami agama berangkat dari masalah ketuhanan.

Pendekatan filsafat dalam memahami kebenaran agama berusaha memikirkan dasar-dasar agama sehingga dapat memberi penjelasan yang dapat diterima akal kepada orang yang tidak percaya kepada wahyu dan hanya berpegang pada pendapat akal saja.

Antara perasaan keagamaan dan pemahaman tentang agama terdapat perbedaan. Perasaan keagamaan tidak berdasar logika, melainkan pada kepercayaan. Kepahaman pada logika memberikan kepuasan pada perasaan. Filsafat membahas masalah ketuhanan berdasarkan pada pencarian rasional tentang wujud Tuhan

Masalah kepercayaan dalam filsafat telah menimbulkan rasio sebagai pusat kepercayaan. Ada yang meyakini ide sebagai pusat segala dari yang ada. Ada juga yang menyatakan bahwa materi sebagai pusat kepercayaan. Dari sini muncul tiga aliran besar dalam filsafat, yaitu: rasionalisme, idealisme, dan materialisme.

Alasan bahwa kepercayaan merupaka unsur utama dalam agama menurut Pudjawijatna adalah karena kebenaran yang diyakini oleh kaum beragama diberitahukan oleh yang tak dapat berdusta (Tuhan sendiri) atau paling sedikit oleh seseorang yang menerima tugas memberitahukan kebenaran ini kepada umat manusia.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Ilmu dan Hal-hal yang Berkaitan dengannya

1. Pengertian Ilmu

Pengertian ilmu dapat dirujukkan pada kata ‘ilm (Arab), science (Inggris), watenschap (Belanda), dan wissenschaf (Jerman).[2][2] Dalam bahasa Indonesia Ilmu seimbang artinya dengan science dan dibedakan pemakaianya secara jelas dengan kata pengetahuan. Dengan kata lain ilmu dan pengetahuan mempunyai pengertian yang berbeda secara mendasar.[3][3] R. Harre menulis ilmu adalah a collection of well-attested theories which explain the patterns regularities and irregularities among carefully studied phenomena, atau kumpulan teori-teori yang sudah diuji coba yang menjelaskan tentang pola-pola yang teratur atau pun tidak teratur di antara fenomena yang dipelajari secara hati-hati.[4][4]

Seringkali ilmu diartikan sebagai pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan dapat dinamakan sebagai ilmu, melainkan pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara tertentu berdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Ilmu dapat didefinisikan sebagai rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif  dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan atau individu untuk tujuan mencapai  kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan.[5][5]

Terlihat bahwa pernyataan-pernyataan keilmuan berkaitan satu sama lain, yang kesemuannya merupakan suatu informasi yang utuh. Pernyataan seperti air laut pasang, bulan berada di atas laut, bulan mempunyai gaya gravitasi, masing-masing terpisah (isolated). Jadi masing-masing merupakan informasi pengetahuan, bukan keilmuan. Bila kesemuanya dirangkai ditambah dengan pernyataan lain sehingga merupakan kesatuan informasi yang menerangkan tentang peristiwa pasangnya air laut, maka pernyataan itu menjadi infomasi keilmuan.

Ilmu (species) adalah sebagian dari pengetahuan (genus). Dengan demikian maka ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni ciri-ciri ilmiah, atau dengan perkataan lain, ilmu adalah sinonim dengan pengetahuan ilmiah.[6][6]

2. Klasifikasi Ilmu

Dalam pengetahuan modern dikenal dengan pembagian ilmu atas kelompok ilmu a pasteriori, dan kelompok ilmu a priori. Ilmu a pasteriori adalah ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari pengalaman inderawi, atau diperoleh dari sumber pengalaman eksperimen, seperti Ilmu Kimia, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu kesehatan. Ilmu a priori adalah ilmu-ilmu yang tidak kita peroleh dari pengalaman dan percobaan, tetapi bersumber pada akal itu sendiri. Semua ilmun yang tidak tergantung kepda pengalaman dan eksperimen termasuk dalam kelompok ini.[7][7]

3. Fungsi Ilmu

Adapun beberapa fungsi dari Ilmu, antara lain:

a.  Ilmu sebagai aktifitas

1.  Rasional, yaitu proses pemikiraan yang berpegang pada pemikiran-pemikiran logika.

2.  Kognitif, yaitu proses mengetahuan dan memperoleh pengetahuan.

3. Tekhnologis, meliputi mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman,  memberikan penjelasan, melakukan penerapan dengan melalui peramalan atau  pengendalian.

b.  Ilmu sebagai metode ilmiah

1.  Pola prosedural

a.       Pengamatan       e. Percobaan

b.      Pengukuran        f. Survey

c.       Deduksi             g. Induksi

d.      Analisis              h. Lainnya

2. Tata langkah

a.  Menentuan Masalah

b. Perumusan Hipotesis (bila Perlu)

c. Pengumpulan Data

d. Penurunan Kesimpulan

e. Pengujian Hasil

3. Berbagai teknik

4. Aneka alat

5. Ilmu sebagai pengetahuan ilmiah

1. Segi objek pengetahuan

a. Objek material

b. Objek formal

2. Segi sifat pengetahuan

a. Empiris

b. Sistematis

c. Obyektif

d. Analitif

e. Verifikatif

B.     Ilmu Agama Islam dan Perkembangannya dalam Perspektif Filsafat Ilmu

1. Pengertian Ilmu Agama Islam

Sebelum menuju ke pengertian Ilmu Agama Islam, kita pahami dulu arti perkataan Islam itu sendiri. Islam berasal dari kata salima yang berarti sejahtera, tidak tercela, tidak bercacat. Dari kata itu terbentuk kata-kata salm, silm yang berarti kedamaiaan, kepatuhan, penyerahan diri. Demikianlah analisis makna perkataan Islam, intinya adalah berserah diri, tuduk, patuh, dan taat dengan sepenuh hati kepada kehendak Illahi.[8][8] Islam sebagai wahyu yang memberi bimbingan kepada manusia mengenai semua aspek hidup dan kehidupannya. Sehingga Ilmu Agama Islam merupakan cabang dari ilmu pengetahuan yang meliputi satu sistem akidah dan syari’ah serta akhlak yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam berbagai hubungan.

2. Kerangka Dasar Agama Islam

  Al-Qur’an dan Hadits merupakan dua sumber yang memuat komponen agama Islam. Komponen tersebut menjadi isi kerangka dasar Agama Islam yang di bagi menjadi beberapa komponen, antara lain:

a. Akidah, secara etimologi berarti ikatan, sangkutan. Menurut terminologi akidah adalah iman, keyakinan. Karena itu, akidah selalu ditautkan dengan Rukun Iman yang merupakan asas seluruh ajaran Islam. Adapun Rukun Iman ada 6, yaitu (1) iman (percaya) kepada Allah, (2) iman kepada para Malaikat, (3) iman kepada Kitab Suci, (4) iman kepada Nabi dan Rasul, (5) iman kepada Hari Akhir, (6) iman kepada Qadha dan Qhadar.

b.  Syari’ah, menurut terminologi artinya adalah jalan (ke sumber atau mata air) yang harus ditempuh (oleh setiap umat Islam). Secara terminologi, syari’ah adalah sistem norma atau (kaidah) Illahi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama manusia dalam kehidupan sosial, hubunga manusia dengan benda dan alam lingkungan hidupnya. Kaidah yang mengatur hugungan langsung dengan Allah disebut Kaidah Ibadah atau Kaidah Ubudiyyah. Kaidah yang mengatur hubungan manusia selain dengan Allah disebut Kaidah Muamalat. Disiplin ilmu yang khusus membahas dan menjelaskan syari’ah disebut ilmu fikih.

c.  Akhlak, berasal dari kata khuluk yang berarti perangai, sikap, perilaku, watak, budi pekerti. Akhlak adalah sikap yang menimbulkan kelakuan baik atau buruk.

              

3. Perkembangan Ilmu Agama Islam dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Semua filsuf Muslim yang berpendidikan, seperti Ibn Maskawih (932-1030), al-Ghazali (1059-1111), Ibn Khaldun (1332-1406), Shaha Wali Ullah (1703-1763) dan Allama Muhammad Iqbal, semuannya sependapat bahwa sumber semua pengetahuan, adalah Yang Kudus dan Yang Illahi. Lagipula, wahyu yang pertama yang diterima Nabi dari Allah mengandung perintah, ”Bacalah dengan nama Allah.” Perintah ini mewajibkan orang untuk membaca, artinya, pengetahuan harus dicari dan diperoleh demi Allah. Ini berarti bahwa wawasan tentang Yang Kudus, yang memberi dasar hakiki bagi pengetahuan, harus menyertai dan merembesi proses pendidikan pada setiap tahapnya. kiita mengetahui tentang Allah hanya melalui apa yang ia sendiri mewahyukannya dalam Al-qur’an. Salah satu sifat Allah yang disebutkan dalam Al-qur’an adalah Alim yang berarti “yang memliki pengetahuaan.” Oleh sebab itu, memiliki pengetahuan merupakan suatu sifat Illahi, dan mencari pengetahuan merupajkan kewajiban bagi yang beriman.[9][9]

Dengan latar belakang inilah peran filsafat dalam Islam dapat dipahami dalam segala keluasan dan kedalamannya, termasuk khususnya dimesi al-Hiqqah. Oleh karena Allah disebut sebagai al-Haqq dalam Al-qur’an juga merupakan sumber semua kebenaran yang diwahyukan, maka filsafat Islam selalu merupakan upaya untuk menjelaskan cara Allah menyampaikan kebenaran yang hakiki. Menurut al-Kindi (801-873), Filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat hal-ihwal dalam batas-batas kemungkinan manusia, oleh karena tujuan filsuf dengan pengetahuan teoritisnya adalah untuk mencapai kebenaran. Al-Farabi mendefinisikan Filsafat sebagai pengetahuan tentang existensi (maujud) qua existensi. Dikatakannya bahwa tidak ada satu pun di antara hal-hal yang ada yang tidak diminati filsafat. Ibnu Sina mengaitkan filsafat dengan kesempatan dan realisasikan diri: “Hikmah filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia melalui pengkonsepsian hal-ihwal dan penimbangan kebenaran-kebenaran teoritis dan praktis dalam batas-batas kemampuan manusia.

Oleh karena dalam Islam, di antara nama-nama Allah juga terdapat kebenaran, maka tidak terelakkan adanya hubungan yang erat antara filsafat dan agama.  Oleh sebab itu, kita dapati semua filsuf Islam, berturut-berturut, menekankan dan membuktikan adanya keselarasan antara perintah-perintah agama dan penyataan-pernyataan filsafat. Oleh sebab itu kebenaran-kebenaran itu tidak dapat tunduk kepada otoritas manapun kecuali otoritas mereka sendiri. “Filsafat,” kata Allama Muhammad Iqbal, tidak disangsikan lagi mempunyai yurusdiksi untuk meghakimi agama, akan tetapi yang hendak dihakimi itu sifatnya sedemikian rupa sehinga ia tidak akan tunduk pada yurisdiksi filsafat kecuali dengan persyaratan-persyaratannya sendiri. Sementara menghakimi agama, filsafat tidak dapat memberikan kepada agama suatu kedudukan yang lebih rendah di antara data-datanya. Maka, dalam menilai agama, filsafat harus mengakui kedudukan sentral agama dan tidak mempunyai alernatif lain kecuali menganggapnya sebagai suatu titik pusat dalam proses sintesis relektif.

Mereka percaya bahwa pengetahuan mengenai sifat Allah, takdir roh manusia, penciptaan alam semesta, kehidupan di akhirat dan mengenai masalah-masalah lainnya yang sifatnya transendental, berasal lagusung dari Allah dan prinsipnya tidak dapat diperdebatkan, maka masalah-masalah itu kedap terhadap segala upaya, dari kaum terpandai sekalipun di dunia, dan oleh karenanya dianggap bagai “tidak terpecahkan”. Menurut Gabriel Marcel (1889-1973), seorang filsuf Prancis, persoalan-persoalan mengenai sifat Allah, takdir roh manusia dan kehidupan di akhirat bukan merupakan masalah, melainkan misteri, yang tidak dapat dipecahkan melalui teknik-teknik penalaran induktif atau deduktif. Misteri tidak mungkin dijelaskan secara ilmiah atau rasional, dan hanya dapat dijelaskan oleh seseorang melalui kekuatan imajinasinya.[10][10]

Al-qur’an sebagi kitab wahyu Allah memecahkan misteri-misteri kehidupan dan kematian dengan cara yang tegas dan gamblang. Di samping Al-qur’an, ada sunnah, yakni tradisi yang mencatat apa yang dikatakan tau diperbuat oleh Nabi, oleh karena kehidupan Nabi itu merupakan contoh hidup dalam Al-qur’an, dan harus diterima dengan keyakinan penuh akan kebenarannya dan biasanya diterapkan dalam kehidupan. Di samping Al-qur’an dan sunnah, yang harus diterima tanpa syarat, masih ada syari’at jalan kewajiban yang telah digariskan oleh Al-qur’an dan dijelaskan secara lebih rinci oleh sunnah Nabi. Di samping Al-qur’an, sunnah, syari’ah, ada ilm al-ladunny dan hikmah, yakni pengetahuan kerohanian dan kebijaksanaan. Pengetahuan ini pun harus diterima tanpa kritik.

Persoalan-persoalan itu, dan banyak lainnya, termasuk persoalan tentang sifat nubuat, menegenai wahyu dan persoalan-persoalan lainnya yang sudah tidak asing lagi bagi para penekun filsafat Islam, sangat menonjol dalam perdebatan di kalangan para filsuf Muslim. Demikianlah, maka dengan menerima kerangaka keagamaan Islam, seorang filsuf Muslim tidak dilarang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang serius, signifikan, dan sifatnya filosofis. Sementara filsuf Muslim bahkan mempersoalkan eksistensi Allah. Dalam ceramah-ceramahnya mengenai The Reconstruction of Religious Thougt in Islam, Alama Muhammad Iqbal mengkaji argumen-argumen tradisional yang membenarkan adanya Allah, yang oleh para filsuf Muslim, seperti juga para rekan mereka di Barat, telah dikemukakan di masa lampau, seperti Kant. Ia pun sampai kepada kesimpulan bahwa argumen-argumen itu tidak dapat diterima. Oleh sebab itu, ia menolak semuannya dan kembali mengandalkan kepada pengalaman. Lalu ada Muhammad ibn Zakariyya al-Razi (865-925) yang walaupun seorang ateis menolak nubuat dengan alasan bahwa rasio sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan buruk, dan bahwa rasio saja memungkinkan kit mengetahui Allah. Ia juga menolak kemukjizatan Al-qur’an dan lebih mengutamakan buku-buku ilmiah di atas semua kitab suci. Demikianlah agama, walaupun diwahyukan dan dalam beberapa hal bersifat dogmatik, meninmbulkan persoalan-persoalan yang tidak dapat dikesampingkan tanpa mengemukakan alasan-alasan pro-kontranya.

4.    Filsafat Ilmu dan Objek Pembahasan Filsafat Ilmu

1. Pengertian Filsafat Ilmu

Kata “filsafat” dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata piloshopia (latin), philoshopy (Inggris), philoshopic (Jerman, Belanda, Prancis), Ifalsafah (Arab). Istilah tersebut daari philein yang berarti “mencintai”, sedangkan philos yang berarti “teman, kawan, sahabat”. Selanjutnya istilah shopos yang berarti “bijaksana”. Sedangkan sophia yang berarti “kebijaksanaan”. Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.[11][11]

Menurut A.Cornelius Benjamin, Filsafat Ilmu adalah cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual. Sedangkan Peter Caws mengatakan bahwa Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia.

Menurut Stephen R. Toulmin, Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika.

2. Objek Kajian Filsafat Ilmu

a. Objek Material

Objek material adalah objake yang dijadikan sasaran penyelidikan oleh suatu ilmu atau objek yang dipelajari oleh suatu ilmu itu. Objek material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan ynag telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.

b. Objek Formal

  Objek formal adalah sudut pandang dari mana subjek menelaah objek materialnya. Objek foral filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, yang meliputi:

1. Landasan Ontolgis, yaitu filsafat ilmu yang lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu itu sesungguhnya?

2. Landasan Epistemologi, yaitu problem yang membicarakan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan yang mana melalui kebenaran ilmiah?

3.  Landasan Aksiologi, yaitu problem yang membicarakan apa fungsi pengetahuan itu bagi manusia?

3.  Metodologi Ilmu Agama Islam

1. Metode Filosofis

   Penggunaan metode ini karena hubungan mnusia dengan Tuhan dibahas dalam filsafat, yakni dalam pemikiran metafisis (pemikiran yang berhubungan dengan hal-hal non-fisik atau tidak kelihatan) yang umum dan bebas.

2. Metode Kosmologi

   Metode ini untuk mempelajari dan menyelidiki alam semesta sebagai sistem yang beraturan). Metode kosmologi juga digunakan untuk meneliti manusia dan alam lingkungannya.

3.  Metode Sejarah, Sosiologi dan Antropologi

    Yaitu metode yang mempelajari ilmu tentang manusia

4.  Metode Doktriner

 Biasanya digunakan oleh Ulama Muslim. Metode doktriner adalah metode tanpa menghubungkannya dengan kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat, berakibat penafsiran dan fatwaynag mereka berikan tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. Namun metode ini menimbulkan kesan bahwa Islam ketinggalan zaman dan menghambat kemajuan.

5. Metode Sintesis

Metode ini merupakan gabungan dari saintifik dan doktriner yang bertujuan untuk mencapai hasil (pemahaman) yang terpadu dan terpakai.[12][12]

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

1.    Ilmu dapat didefinisikan sebagai rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif  dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan atau individu untuk tujuan mencapai  kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan.

2.   Ilmu Agama Islam merupakan cabang dari ilmu pengetahuan yang meliputi satu sistem akidah dan syari’ah serta akhlak yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam berbagai hubungan.

3.    Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.

DAFTAR PUSATAKA

 

M. Natsir Arsyad. Buku yang secara khusus membicarakan tentang ulama yang memiliki peran dalam bidak ilmu kesehatan, kedokteran, kedokteran hewan, dari yang lainnya adalah ilmuwan muslim sepanjang sejarah, (1955).

 Imam Syafi’ie, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam al-Qur’an (Yogyakarta: UII Press, 2000), hlm. 26.

Mundirin, Logika, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm. 5

R. Harre, The Philosophies of Science, an Introductory Survey (London: The Oxford University    Press, 1995), hlm. 62.

The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1991), hlm. 90.

Jujun S. Suriasumantri, FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Total Grafika, 1982), hlm. 297

H. Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1997), hlm. 50

C. A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, penerj, Hasan Basri, (Jakarta: Yayasan obor, 1989), hlm. 5-7

Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 1 & 3


[1][1] Buku yang secara khusus membicarakan tentang ulama yang memiliki peran dalam bidak ilmu kesehatan, kedokteran, kedokteran hewan, dari yang lainnya adalah ilmuwan muslim sepanjang sejarah, karya. M. Natsir Arsyad (1955).

[2][2] Imam Syafi’ie, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam al-Qur’an (Yogyakarta: UII Press, 2000), hlm. 26.

[3][3] Mundirin, Logika, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm. 5

[4][4] R. Harre, The Philosophies of Science, an Introductory Survey (London: The Oxford University    Press, 1995), hlm. 62.

[5][5] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1991), hlm. 90.

[6][6] Jujun S. Suriasumantri, FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Total Grafika, 1982), hlm. 297

[7][7] Mundirin, Op. cit, hlm. 7

[8][8] H. Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1997), hlm. 50

[9][9] C. A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, penerj, Hasan Basri, (Jakarta: Yayasan obor, 1989), hlm. 5-7

[10][10] Ibid, hlm. 10-11

[11][11] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 1 & 3

[12][12] H. Muhammad Daud Ali, Op. Cit, hlm. 86-87

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s