PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Makalah Peserta Didik dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

Secara sederhana, pendidikan Islam dapat difahami sebagai suatu usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam. M. Arifin menuliskan bahwa hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa Muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan fitrah (kemampuan dasar) peserta didik melalui ajaran islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian memberi makan jiwa peserta didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia.

Dalam dunia pendidikan ada beberapa pandangan yang berkembang berkaitan dengan peserta didik. Ada yang mendefenisikan peserta didik sebagai manusia belum dewasa, dan karenanya ia membutuhkan pengajaran, latihan, dan bimbingan dari orang dewasa atau pendidik untuk mengantarkannya menuju pada kedewasaan. Ada pula yang berpendapat bahwa peserta didik adalah manusia yang memiliki fitrah atau potensi untuk mengembangkan diri. Fitrah atau potensi tersebut mencakup akal, hati, dan jiwa yang mana kala diberdayakan secara baik akan menghantarkan seseorang bertauhid kepada Allah Swt. Kemudian, adapula yang berpendapat bahwa peserta didik adalah setiap manusia yang menerima pengaruh positif dari orang dewasa atau pendidik. Dalam arti teknis, bahkan ada yang menyatakan bahwa peserta didik adalah setiap anak yang belajar disekolah atau lembaga-lembaga pendidikan formal.

Peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek pendidikan, tetapi pada saat-saat tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa posisi peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif laksana cangkir kosong yang siap menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan gurunya, sekaligus dalam upaya pengembangan keilmuannya.

Eksistensi peserta didik sebagai salah satu sub sistem pendidikan Islam sangatlah menentukan. Karena tidak mungkin pelaksanaan pendidikan Islam tidak bersentuhan dengan individu-individu yang berkedudukan sebagai peserta didik. Pendidik tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran peserta didik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peserta didik adalah kunci yang menentukan terjadinya interaksi edukatif, yang pada gilirannya sangat menentukan kualitas pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Peserta Didik

Dalam usaha mendefenisikan istilah peserta didik, terlebih dahulu perlu dipahami beberapa sebutan lain dalam Bahasa Indonesia, yaitu istilah murid, dan peserta didik. Istilah murid dipahami sebagai orang yang sedang belajar, menyucikan diri, dan sedang berjalan menuju Tuhan. Peserta didik dipahami sebagai pendidik menyayangi murid sebagaimana anaknya sendiri dan dalam hal ini faktor kasih sayang pendidik terhadap peserta didik dianggap kunci keberhasilan pendidikan. Adapun istilah peserta didik adalah sebutan yang paling mutakhir, istilah ini menekankan pentingnya peserta didik berpartisipasi dalam proses pembelajaran.[1] Dengan demikian, menurut Ahmad Tafsir yang dikutip oleh Zainuddin et.al perubahan sebutan dari murid ke peserta didik lalu menjadi peserta didik, bermaksud memberikan perubahan pada peran peserta didik dalam proses belajar mengajar.[2]

Pendidikan umum, mengartikan peserta didik sebagai raw input (masukan mentah) dalam proses trnsformasi yang disebut dengan pendidikan (Muri Yusuf,1982:37). Lebih jauh dijelaskan bahwa peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis (Muhaimin dan Abdul Mujib,1993:177), untuk mencapai tujuan pendidikan melalui lembaga pendidikan.

Pertumbuhan adalah perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik secara alami yang ditandai oleh pertumbuhan tubuh menjadi bertambah besar. Adapun perkembangan adalah yang menyangkut jasmaniyah dan ruhaniah (Muri Yusuf:37). Dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan yang masih berjalan, maka peserta didik dianggap belum dewasa hingga membutuhkan bimbingan orang lain untuk menjadikannya dewasa (Abdul Mujib: 177). Sebab pendewasaan merupakan tujuan dari pendidikan. Bimbingan dapat diberikan dalam berbagai lingkungan pendidikan, yakni lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Abdul Mujib:25).

Menurut George R. Knight , sebagaimana dikuti oleh Abd. Rahman Assegaf dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam, siswa atau peserta didik dipandang sebagai anak yang aktif, bukan pasif yang hanya menanti guru untuk memenuhi otaknya dengan berbagai informasi.Siswa adalah anak yang dinamis yang secara alami ingin belajar, dan akan belajar apabila mereka tidak merasa putus asa dalam pelajarannya yang diterima dari orang yang berwenang atau dewasa yang memaksakan kehendak dan tujuannya kepada mereka. Dalam hal ini, Dewey menyebutkan bahwa anak itu sudah memiliki potensi aktif. Membicarakan pendidikan berarti membicarakan keterkaitan aktivitasnya, dan pemberian bimbingan padanya.[3]

Peserta didik merupakan sasaran (obyek) dan sekaligus sebagai subyek pendidikan. Oleh sebab itu, dalam memahami hakikat peserta didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Setidaknya secara umum peserta didik memiliki lima ciri, yaitu:
• Peserta didik dalam keadaan sedang berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan , kemauan dan sebagainya.
• Mempunyai keinginan untuk berkembang kearah dewasa
• Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda
• Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu[4]

Literatur pendidikan terkni menuliskan bahwa sebutan anak didik telah berubah menjadi peserta didik. Hal ini dikarenakan adanya pandangan pencerahan bahwa peserta didik pada setiap proses interaksi dan komunikasi terhadap sumber, dan bersifat sebagai objek juga sebagai subjek. Ketika potensi anak masih minimal dan membutuhkan pertolongan manusia dewasa, maka sebutan yang lebih tepat adalah peserta didik (objek) yang aktif. Akan tetapi, ketika ia telah merespons setiap stimulus yang datang dengan motivasi yang telah terbangun, ia pun aktif secara fisik dan mental mencari, merespon bahkan menemukan sendiri informasi yang diinginkannya, maka sebutan baginya adalah peserta didik (subjek) yang aktif.

Defenisi lain dalam khazanah pendidikan Islam klasik, al-Subkiy menggunakan term thalib (jamak : thalabat atau thullab), mutafaqqih (jamak : mutafaqqihun), faqih (jamak : fuqaha) dan tilmizd (jamak : talamizd) untuk menunjukkan pada penuntut ilmu (pelajar) pada madrasah Nizhamiyah. Imam al-Haramayn disebut-sebut pernah memakai perkataan faqih untuk menyapa murid-muridnya. Mengenai hal ini, al-Subkiy melukiskan dengan indah sebuah dialog singkat yang terjadi antara al-Juwayni dan murid kesayangannya, al-Ghazali, dalam bukunya berjudul thabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra.[5]

Term faqih dalam dialog dibuku tersebut menunjuk kepada al-Ghazali yang dimaksud dengan faqih adalah orang yang mempelajari ilmu fiqih dan istilah ini identik dengan istilah mutafaqqih. Sementara istilah thalib (penuntut ilmu) biasa dipakai untuk orang yang belajar ilmu agama atau ilmu umum sebab kedua-duanya disuruh dalam agama. Bedanya kalau yang pertama hukumnya menjadi kewajiban bagi setiap muslim (fardhu ‘ain), maka yang kedua hukumnya menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Sedangkan istilah tilmidz (murid) berasal dari akar kata talammaza artinya belajar, bisa dua-duanya, agama maupun umum.

Berbeda dengan al-Juwayni, al-Ghazali memakai term thalib ketika menyebut murid-muridnya di madrasah Nizhamiyah Baghdad. Beliau menjelaskan bahwa orang yang mempelajari ilmu kalam, kebathinan, filsafat dan sufi disebut thalib. Dari keterangan al-Ghazali ini dapat dipahami bahwa wacana ilmiah dan kegiatan studi murid-murid madrasah Nizhamiyah Baghdad dibawah asuhannya meliputi semua ilmu tersebut.[6]

Secara umum dalam pendidikan Islam pada hakikatnya Allah Swt. Merupakan murabbi, mu’allim atau mu’addib, yang diistilahkan dengan pendidik. Dialah yang mencipta dan memelihara (mendidik) seluruh makhluk didunia ini termasuk manusia, baik dalam artian tarbiyah, ta’alim, maupun ta’dib. Dengan demikian, dalam perspektif falsafah pendidikan Islam seluruh makhluk ciptaan Allah Swt merupakan peserta didik. Namun secara khusus dalam pendidikan Islam, peserta didik adalah seluruh al insan, al-basyar atau bani adam yang sedang menuju al-insan al-kamil, baik dalam pengertian jismiyah maupun ruhiyah.

B. Esensi Peserta Didik dalam Perspektif Falsafah Pendidikan Islami

Dalam pandangan pendidikan Islam, untuk mengetahui hakikat peserta didik, tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan pembahasan tentang hakikat manusia, karena manusia hasil dari suatu proses pendidikan. (Abdurrahman Shaleh,1990:45). Menurut konsep ajaran Islam manusia pada hakikatnya, adalah makhluk ciptaan Allah yang secara biologis diciptakan melalui proses pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung secara evolutif, yaitu melalui proses yang bertahap. Sebagai makhluk ciptaan, manusia memiliki bentuk yang lebih baik, lebih indah dan lebih sempurna dibandingkan makhluk lain ciptaan Allah, hingga manusia dinilai sebagai makhluk lebih mulia, sisi lain manusia merupakan makhluk yang mampu mendidik, dapat dididik, karena manusia dianugerahi sejumlah potensi yang dapat dikembangkan. Itulah antara lain gambaran tentang pandangan Islam mengenai hakikat manusia, yang dijadikan acuan pandangan mengenai hakikat peserta didik dalam pendidikan Islam. Peserta didik dalam pendidikan Islam harus memperoleh perlakuan yang selaras dengan hakikat yang disandangnya sebagai makhluk Allah. Dengan demikian, sistem pendidikan Islam peserta didik tidak hanya sebatas pada obyek pendidikan, melainkan pula sekaligus sebagai subyek pendidikan.[7]

Dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, semua makhluk pada dasarnya adalah peserta didik. Sebab, dalam Islam, sebagai murabbi, mu’allim, atau muaddib, Allah Swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk. Pemeliharaan Allah Swt mencakup sekaligus kependidikan-Nya, baik dalam arti tarbiyah, ta’alim, maupun ta’adib. Karenanya, dalam perspektif falsafah pendidikan Islam, peserta didik itu mencakup seluruh makhluk Allah Swt, seperti malaikat, jin, manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.[8]

Namun, dalam arti khusus dalam perspektif falsafah pendidikan Islami peserta didik adalah seluruh al-insan, al-basyar, atau bany adam yang sedang berada dalam proses perkembangan menuju kepada kesempurnaan atau suatu kondisi yang dipandang sempurna (al-Insan al-Kamil). Terma al-Insan, al-basyar, atau bany adam dalam defenisi ini memberi makna bahwa kedirian peserta didik itu tersusun dari unsur-unsur jasmani, ruhani, dan memiliki kesamaan universal, yakni sebagai makhluk yang diturunkan atau dikembangbiakan dari Adam a.s. kemudian, terma perkembangan dalam pengertian ini berkaitan dengan proses mengarahkan kedirian peserta didik, baik dari fisik (jismiyah) maupun diri psikhis (ruhiyah) – aql, nafs, qalb – agar mampu menjalankan fungsi-fungsinya secara sempurna. Misalnya, ketika dilahirkan, fisik manusia dalam keadaan lemah dan belum mampu mengambil atau memegang benda dan kaki belum mampu melangkah atau berjalan.

Demikian benda dan kaki belum mampu melangkah atau berjalan. Demikian juga, ketika dilahirkan dari rahim ibunya, ‘aql manusia belum dapat difungsikan untuk menalar baik buruk atau benar salah. Melalui proses ta’lim, tarbiyah, atau ta’dib, secara bertahap, ‘aql manusia diasah, dilatih, dan dibimbing melakukan penalaran yang logis atau rasional, sehingga ia mampu menyimpulkan baik-buruk atau benar-salah. Demikiah juga nafs, ketika manusia dilahirkan dari rahim Ibunya, ia hanya cenderung pada pemenuhan kehendak atau kebutuhan jismiyah, terutama makan-minum. Melalui proses ta’lim, tarbiyah atau ta’dib, nafs manusia dilatih dan dibimbing untuk melakukan pengendalian, pemeliharaan, dan pensucian diri. Akan halnya qalb, ketika manusia dilahirkan dari rahim ibunya, ia hanya potensi laten yang belum mampu menangkap cahaya (al-nur) dan memahami kebenaran (al-haqq). Kemudian, melalui proses ta’lim, tarbiyah atau ta’dib, qalb manusia dibimbing sehingga mampu menangkap cahaya (al-nur) dan memahami kebenaran (al-haqq) serta hidup sesuai dengan cahaya dan kebenaran tersebut.

Dalam pengertian di atas, yang dimaksud dengan kesempurnaan adalah suatu keadaan dimana dimensi jismiyah dan ruhiyah peserta didik, melalui proses ta-lim, tarbiyah, atau ta’dib, diarahkan secara bertahap dan berkesinambungan untuk mencapai tingkatan terbaik dalam kemampuan mengaktualisasikan seluruh daya atau kekuatannya (quwwah al-jismiyah wa al-ruhiyah). Dalam perspektif ini, secara sederhana, kesempurnaan dimensi jismiyah adalah suatu kondisi dimana seluruh unsur atau anggota jasmani manusia mencapai tingkatan terbaik dalam kemampuannya melakukan tugas-tugas fisikal-biologis, seperti bergerak, berpindah dan melakukan berbagai aktivitas fisikal lainnya. Demikian pula halnya dengan kesempurnaan dimensi ruhiyah. Dalam makna ini, ‘aql, nafs, dan qalb peserta didik mencapai tingkatan terbaik dalam berpikir atau menalar (al-‘aql al-mustasyfad), dalam mengendalikan dan mensucikan diri (al-nafs al-muthmainnah), dan dalam menangkap cahaya dan memahami kebenaran (qalb al-salim).[9]

Berdasarkan pengertian di atas, dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, pada hakikatnya semua manusia adalah peserta didik. Sebab, pada hakikatnya, semua manusia adalah makhluk yang senantiasa berada dalam proses perkembangan menuju kesempurnaan, atau suatu tingkatan yang dipandang sempurna, dan proses itu berlangsung sepanjang hayat. [10]

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Rasyidin yang dikuti oleh Zainuddin et.al dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, setidaknya ada 3 istilah peserta didik yang dapat dirangkum dalam esensi filsafat pendidikan Islam.

Ketiga istilah tersebut yaitu pertama, term mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam arti mutarabbi manusia yang selalu memerlukan pendidikan, baik dalam arti pengasuhan dan pemeliharaan fisik – biologis, penambahan pengetahuan dan keterampilan, tuntunan dan pemeliharaan diri, serta pembimbingan jiwa. Dengan demikian, mutarabbi mampu melaksanakan fungsi dan tugas penciptaan Allah Swt. Tuhan maha pencipta, pemelihara dan pendidik bagi alam semesta. Kedua, muta’allim, peserta didik mempelajari semua al-asma’kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah maupun quraniyah dalam rangka pencapaian pengenalan, peneguhan dan aktualisasi syahadah primordial yang telah pernah ia ikrarkan di hadapan Allah Swt. Kemampuan peserta didik merealisasikan terhadap apa yang pernah ia nyatakan ini merupakan essensi dari peserta didik itu sendiri dalam filsafat pendidikan Islam. Ketiga, muta’addib, merupakan proses pendisiplinan adab ke dalam jism, dan ruhnya, sehingga akal, ruh dan hatinya pendisiplinan adab melalui mua’dib (pendidik). Esensinya dalam mutaadib dalam pendisiplinan adab adalah ahklak, yaitu syariat yang menata hubungan komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, sesamanya dan mahkluk Allah lainnya termasuk dalam semesta ini serta juga kepada sang pencipta dan pemelihara serta pendidik alam semesta.

Dalam buku Filsafat pendidikan Islam yang ditulis oleh Hasan Basri,dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, hakikat peserta didik terdiri dari beberapa macam :
• Peserta didik adalah darah daging sendiri, orang tua adalah pendidik bagi anak-anaknya maka semua keturunannya menjadi anak didiknya di dalam keluarga.
• Peserta didik adalah semua anak yang berada di bawah bimbingan pendidik di lembaga pendidikan formal maupun non formal, seperti disekolah, pondok pesantren, tempat pelatihan, sekolah keterampilan, tempat pengajian anak-anak seperti TPA, majelis taklim, dan sejenis, bahwa peserta pengajian di masyarakat yang dilaksanakan seminggu sekali atau sebulan sekali, semuanya orang-orang yang menimba ilmu yang dapat dipandang sebagai anak didik
• Peserta didik secara khusus adalah orang –orang yang belajar di lembaga pendidikan tertentu yang menerima bimbingan, pengarahan, nasihat, pembelajaran dan berbagai hal yang berkaitan dengan proses kependidikan.

Beberapa hal yang terkait dengan hakekat peserta didik yaitu[11] :
• Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri.
• Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan
• serta tempo dan iramanya, yang harus disesuiakan dalam proses pendidikan.
• Peserta didik memiliki kebutuhan diantaranya kebutuhan biologis, rasa aman, rasa kasih sayang, rasa harga diri dan realisasi diri.
• Peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari faktor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat dan lingkungan yang mempengaruhinya.
• Peserta didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia, walaupun terdiri dari banyak segi tetapi merupakan satu kesatuan jiwa raga (cipta, rasa dan karsa).
• Peserta didik merupakan obyek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif. Anak didik bukanlah sebagai objek pasif yang biasanya hanya menerima, mendengarkan saja (Abdul Mujib dan Muhaimin, 1993 : 177-181)

C. Potensi/Fitrah Peserta Didik

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna (melebihi malaikat) apabila dapat memerankan tugas kekhalifahannya. Namun jika manusia tidak dapat bertanggungjawab sebagai khalifah Allah dengan baik dan benar, maka kedudukan manusia lebih rendah dari binatang.

Karena itu, agar dapat menjalankan fungsi kekhalifahanya dimuka bumi, manusia di karuniai beberapa kekuatan yang dapat menimbulkan kreativitas untuk menata alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya. Untuk itu, Tuhan menganugerahkan kepada manusia potensi-potensi[12] (fithrah) yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan.[13]

Manusia diciptakan Allah bukan tanpa latar belakang dan tujuan. Hal ini tergambar dalam dialog Allah dan malaikat diawal penciptaannya. Tujuan penciptaan Adam sebagai nenek moyang manusia adalah sebagai khalifah. Dalam kedudukan ini, manusia tidak mungkin mampu melaksanakan tugas kekhalifahannya, tanpa dibelakangi dengan potensi yang memungkinkan dirinya mengemban tugas tersebut.

Muhammad Bin Asyur sebagamana disitir M. Quraish Shihab mendefinisikan fitrah manusia kepada pengertian “fitrah (makhluk) adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Sedangkan fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan kemampuan jasmani dan akalnya”. Dari pengertian tersebut dapat diartiakan bahwa fitrah merupakan potensi yang diberikan Allah kepada manusia sehingga manusia mampu melaksanakan amanat yang diberiakan Allah kepadanya yang meliputi potensi seluruh dimensi manusia.

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya “setiap anak manusia itu terlahir dalam fitrahnya, kedua orang tuanyalah yang akan mewarnai (anak) nya, apakah menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi” (HR Aswad Bin Sari).

Dari makna hadis diatas memberikan pengertian secara teoritis bahwa semakin baik penempatan fitrah yang dimiliki manusia, maka akan semakin baiklah kepribadiannya. Demikian pula sebaliknya, semakin buruk penempatan fitrah seseorang maka akan semakin buruk sifat dan tingkah lakunya. Namun demikian, pendekatan tersebut hanya sebatas teoritis manusia, sedangkan dosa balik itu dalam islam ada kemungkinan lain, yaitu hidayah dari Allah SWT sebagai penentu yang Maha final.[14]

Dalam perspektif Islam, potensi atau fitrah dapat dipahami sebagai kemampuan atau hidayah yang bersifat umum dan khusus yaitu :
• Hidayah wujdaniyah yaitu potensi manusia yang berwujud insting atau naluri yang melekat dan langsung berfungsi pada saat manusia dilahirkan di muka bumi.
• Hidayah hisysyiyah yaitu potensi Allah yang diberikan kepada manusia dalam bentuk kemampuan
• indrawi sebagai penyempurnaan hidayah wujudiyah.
• Hidayah aqliah yaitu potensi akal sebagai penyempurnaan dari kedua hidayah di atas. Dengan potensi akal ini mampu berpikir dan berkreasi menemukan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari fasilitas yang diberikan kepadanya untuk fungsi kekhalifahannya.
• Hidayah diniyah yaitu petunjuk agama yang diberikan kepada manusia yang berupa keterangan tentang hal-hal yang menyangkut keyakinan dan aturan perbuatan yang tertulis dalam al-Qur’an dan Sunnah
• Hidayah taufiqiyah yaitu hidayah yang sifatnya khusus. Sekalipun agama telah diturunkan untuk keselamatan manusia, tetapi banyak manusia yang tidak menggunakan akal dalam kendali agama. Untuk itu, agama menuntut agar manusia senantiasa berupaya memperoleh dan diberi petunjuk yang lurus berupa hidayah dan taufiq guna selalu berada dalam keridhaan Allah.[15]

Quraish Shihab berpendapat bahwa menyukseskan tugas-tugas kekhalifan di muka bumi, Allah memperlengkapi manusia dengan potensi-potensi tertentu, antara lain :
• Kemampuan untuk mengetahui sifat-sifat, fungsi dan kegunaan segala macam benda. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT : “Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya.” (QS. 2 :31)
• Ditundukkan bumi, langit dan segala isinya, binatang-binatang, planet dan sebagainya olah Allah kepada manusia (QS. 45: 12-13)
• Potensi akal fikiran serta panca indera (QS. 67:23)
• Kekuatan positif untuk merubah corak kehidupan manusia (QS. 13:11)

Disamping potensi yang bersifat di atas, manusia dilengkapi dengan potensi yang bersifat

Disamping potensi yang bersifat di atas, manusia dilengkapi dengan potensi yang bersifat negatif yang merupakan kelemahan manusia, yaitu : pertama, potensi untuk terjerumus dalam godaan hawa, nafsu dan syetan. Hal ini digambarkan dengan upaya syetan menggoda Adam dan Hawa, sehingga keduanya melupakan peringatan Tuhan untuk tidak mendekati pohon terlarang (QS. 20 : 15-24). Kedua, banyak masalah yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, khususnya menyangkut diri, masa depan, dan banyak hal lain yang menyangkut kehidupan manusia.

Dalam pandangan lain, Hasan Langulung memandang bahwa pada prinsipnya potensi manusia menurut pandangan Islam tersimpul pada sifat-sifat Allah (asma’ul husna). Sebagai contoh sifat al-ilmu yang dimiliki Allah, maka manusiapun memiliki tersebut. Dengan sifat al- ilmu, manusia senantiasa berupaya untuk mengetahui sesuatu. Untuk mengaktiftkan potensi ini, maka Allah menjadikan alam dan isinya termasuk diri manusia sebagai ayat Allah yang harus dibaca dan dianalisa. Namun demikian, bukan berarti kemampuan manusia sama tingkatannya dengan kemampuan Allah. Hal ini disebabkan karena perbedaan hakekat keduanya. Manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah tanpa batas. Dari keterbatasan tersebut, menjadikan manusia sebagai makhluk yang memerlukan bantuan untuk memenuhi keinginannya. Keadaan ini menyadarkan manusia akan keterbatasan-nya dan ke-Mahakuasaan Allah. Dengan potensi ini, manusia dituntut untuk senantiasa memiliki jalinan rohani kepada Allah, baik memiliki zikir atau aktivitas zikir lainnya, mengingat manusia adalah ciptaan Allah yang dependen pada yang Maha Pencipta.[16]

Karena adanya potensi yang positif dan negatif serta keterbatasan manusia, maka Allah menganugerahkan kepada manusia berbagai potensi pada manusia agar ia mampu mengetahui hakekat dan petunjuk-petunjuk Allah. Firman Allah SWT :

Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Pengertian fitrah yang ditunjukkan ayat di atas memberi pengertian bahwa manusia ciptaan Allah dengan naluri beragama tauhid yaitu Islam. Namun dalam pengembangan selanjutnya, Hasan Langulung memberi pengertian fitrah yang lebih luas yaitu pada pengertian dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Potensi tersebut merupakan embrio semua kemampuan manusia yang memerlukan penempaan lebih lanjut dan lingkungan insani maupun non insani untuk bisa berkembang. Untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya tersebut, manusia memerlukan bantuan orang lain yaitu proses pendidikan.[17]

D. Tugas dan Tanggungjawab Peserta Didik

Tujuan dari setiap proses pembelajaran adalah menta’lim, mentarbiyah, atau menta’dibkan al-‘ilm ke dalam diri setiap peserta didik. Al-‘ilm yang akan dita’-lim, ditarbiyah, atau dita’dibkan tersebut adalah al-haqq, yaitu semua kebenaran yang datang dan bersumber dari Allah Swt, baik yang didatangkan-Nya melalui Nabi dan Rasul, (al-ayah al-quraniyah), maupun yang dihamparkan-Nya pada seluruh alam semesta, termasuk diri manusia itu sendiri (al-ayah al-kauniyah). Al-‘ilm tersebut merupakan penunjuk jalan bagi peserta didik untuk mengenali dan meneguhkan kembali syahadah primordialnya terhadap Allah Swt sehingga ia mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan keserharian. Karenanya, dalam konteks ini, tugas utama setiap peserta didik adalah mempelajari al-‘ilm dan mempraktikkan atau mengamalkannya sepanjang kehidupan.[18]

Berkenaan dengan tugas utama yang harus dilakukan peserta didik ini, Rasulullah saw melalui salah satu hadis menegaskan : menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat. Proses menuntut atau mempelajari al-‘ilm itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, mengeksplorasi, meneliti, dan mencermati fenomena diri, alam semesta, dan sejarah umat manusial berkontemplasi, berpikir, atau menalar, berdialog, berdiskusi atau bermusyarah, mencontoh atau meneladani, mendengarkan nasehat, bimbingan, pengajaran dan peringatan, memetik ‘ibrah atau hikmah, melatih atau membiasakan diri, dan masih banyak lagi aktivitas belajar lainnya yang harus dilakukan setiap peserta didik untuk meraih al-ilm dan mengamalkannya dalam kehidupan.[19]

Seluruh aktivitas pembelajaran sebagaimana dipaparkan di atas wajib ditempuh atau dilakukan peserta didik dalam proses belajar atau menuntut al-‘ilm. Karenanya, peserta didik tidak boleh mencukupkan aktivitas belajarnya pada suatu aktivitas saja. Dalam berbagai surah, alquran senantiasa menyeru manusia untuk berpikir, mengingat, membaca, mengambil pelajaran, memetik hikmah. Bereksplorasi, bertadabbur, dan sebagainya. Semua itu dimaksudkan agar peserta didik mengembangkan potensi jismiyah dan ruhiyahnya sehingga mampu diberdayakan dalam rangka aktualisasi diri sebagai makhluk yang bersyahadah kepada Allah Swt, beribadah secara tulus ikhlas hanya kepada-Nya, dan menjadi khalifah atau pemimpin dan pemakmur kehidupan dibumi.[20]

Berkenaan dengan tanggung jawab, dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, tanggung jawab utama peserta didik adalah memelihara agar semua potensi yang dianugerahkan Allah Swt kepadanya dapat diberdayakan sebagaimana mestinya. Dimensi jismiyah wajib dipelihara, agar secara fisikal peserta didik mampu melakukan aktivitas belajar, meskipun harus melakukan rihlah ke berbagai tempat. Demikian pula, dimensi ruhiyah juga wajib dipelihara, agar bisa difungsikan sebagai energi atau kekuatan untuk melakukan aktivitas belajar. Ketika peserta didik tidak mampu memelihara dimensi jismiyah dan ruhiyahnya, maka energi, daya, atau kemampuan membelajarkan diri akan terganggu, bahkan bisa menjadi tidak mampu. Karenanya, sebagaimana juga dikemukakan Nata, agar tetap mampu melakukan aktivitas belajar, setiap peserta didik memerlukan kesiapan fisik prima, akal yang sehat, pikiran yang jernih, dan jiwa yang tenang. Untuk itu, perlu adanya upaya pemeliharaan dan perawatan secara sungguh-sungguh semua potensi yang bisa digunakan untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan.[21]

Athiyah al-Abrasyi mengemukakan bahwa kewajiban-kewajiban yang harus senantiasa dilakukan peserta didik adalah :
1. Sebelum memulai aktivitas pembelajaran, peserta didik harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari sifat yang buruk, karena belajar mengajar itu merupakan ibadah dan ibadah harus dilakukan dengan hati yang bersih.
2. Peserta didik belajar harus dengan maksud mengisi jiwanya dengan berbagai keutamaan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
3. Bersedia mencari ilmu ke berbagai tempat yang jauh sekalipun, meskipun harus meninggalkan
4. keluarga dan tanah air.
5. Tidak terlalu sering menukar guru, dan hendaklah berpikir panjang sebelum menukar guru.
6. Hendaklah menghormati guru, memuliakan dan mengangungkannya karena Allah serta berupaya menyenangkan hatinya dengan cara yang baik.
7. Jangan merepotkan guru, jangan berjalan dihadapannya, jangan duduk ditempat duduknya, dan jangan mulai bicara sebelum diizinkan guru.
8. Jangan membukakan rahasia kepada guru atau meminta guru membukakan rahasia, dan jangan pula menipunya.
9. Bersungguh-sungguh dan tekun dalam belajar
10. Saling bersaudara dan mencintai antara sesama peserta didik.
11. Peserta didik harus terlebih dahulu memberi salam kepada guru dan mengurangi percakapan dihadapan gurunya.
12. Peserta didik hendaknya senantiasa mengulangi pelajaran, baik diwaktu senja dan menjelang subuh atau diantara waktu Isya’ dan makan sahur
13. Bertekad untuk belajar seumur hidup.[22]

E. Sifat-Sifat Peserta Didik

Sesuai dengan karakter dasarnya, dalam Islam, ilmu itu datangnya dari al-haq dan karenanya ia merupakan al-nur atau cahaya kebenaran yang akan menerangi kehidupan para pencarinya. Sebagai al-haq, Allah Swt maha suci, dan kesuciannya hanya bisa dihampiri oleh yang suci pula. Karenanya, sifat utama dan pertama yang harus dimiliki peserta didik adalah mensucikan diri atau jiwanya (tazkiyah) sebelum menuntut ilmu pengetahuan. Karena maksiat hanya akan mengotori jasmani, akal, jiwa dan hati manusia, sehingga membuatnya sulit dan terhijab dari cahaya, kebenaran, atau hidayah Allah Swt.

Setidaknya ada 3 hal yang menjadi titik fokus perhatian peserta didik dan orang tua dalam mensucikan dirinya secara totalitas. Pertama, suci ruhaniah yaitu peserta didik harus menjauhkan sifat-sifat yang dapat merusakan atau paling tidak yang mengotori jiwa dari sucinya al-nur, atau al-haq. Karena kekotoran jiwa akan mengakibat tertutupnya sinar illahiyah menembus kalbu peserta didik. Ringkasnya al-‘ilm atau al-nur harus di ta’lim, di tarbiyah atau dita’dibkan ke dalam jiwa peserta didik haruslah dalam keadaan suci dan bersih, sehingga ia akan dapat tertanam dan bersemi dengan penuh keberkahan di dalam sanubarinya. Kedua, suci jasmaniah yaitu peserta didik harus mampu menjauhkan dari dari mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang tidak benar baik dari segi jenis mampu sumber diperolehnya makanan/minuman tersebut. Makanan yang tidak benar/jelas, bukan makanan yang diperoleh secara halal, akan mempengaruhi kepribadian peserta didik dalam berperilaku, dan akan susah mendapatkan hidayah kebenaran dari Allah Swt.[23]

Sebab itu, orang tua harus memberi makan peserta didik dengan makanan yang baik dan halal serta bersih, sehingga nusrah Allah akan dapat dengan mudah diterima oleh peserta didik. Disamping itu juga bersih badan dari kotoran, najis serta lainnya yang dapat menggangu kesehatan fisik hidup yang baik. Jangan biasakan peserta didik bergaul dengan lingkungan yang dapat memberi pengaruh yang tidak baik dalam perkembangan kehidupan sosialnya.[24]

Hal ini akan berbias kepada terkontaminasinya pembiasaan yang jelek kepada peserta didik. Makanya orang tau harus dapat menjaga dan mengerti tentang ini, sehingga peserta didik dapat tumbuh dan kembang baik secara ruhaniah, jasmaniah maupun sosialnya dengan penuh kebaikan.[25]

Zainuddin dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, beliau mengutip hadis Shahih Muslim dan Bukhari dalam mengemukakan sifat dan karakter yang dimiliki anak didik. Berikut beberapa sifat dan karakter yang harus dimiliki seorang anak didik:

1) Memiliki sifat tamak dalam menuntut ilmu dan tidak malu-malu. Mujahid berkata, “Pemalu dan orang sombong tidak akan dapat mempelajari pengetahuan agama.” Aisyah berkata, “sebaik-baik kaum wanita adalah kamu wanita sahabat Anshar. Merak tidak dihalang-halangi rasa malu tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.”

2) Selalu mengulang pelajaran di waktu malam dan tidak menyia-nyiakan waktu malam dan tidak
menyia-nyiakan waktu.

3) Memanfa’atkan/mengajarkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki.
4) Memiliki keinginan/motivasi mencari ilmu pengetahuan.[26]

Peserta didik hendaknya berupaya memiliki akhlak mulia, baik secara vertikal maupun horizontal dan senantiasa mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan seperangkat ilmu pengetahuan. Sebagai seorang peserta didik yang berupaya mencari ilmu pengetahuan dan membentuk sikap dengan akhlak mulia, maka menurut Hamka peserta didik dituntut bersikap baik pada setiap guru.[27]

Sikap tersebut meliputi :

1) Jangan cepat putus asa dalam menuntut ilmu
2) Jangan lalai dalam menuntut ilmu dan cepat merasa puas terhadap ilmu yang sudah diperoleh;
3) Jangan merasa terhalang karena faktor usia
4) Hendaklah diperbagus tulisannya supaya orang bsia menikmati hasil karyanya dan membiasakan diri membuat catatan kecil terhadap berbagai ide yang sedang dipikirkan;
5) Sabar, perteguh hati dan jangan cepat bosan dalam menuntut ilmu
6) Pererat hubungan baik dengan guru dan senantiasa hadir dalam majelis ilmiahnya, hormati pendidik sebagai orang yang telah banyak berjasa dalam membimbing ke arah kedewasaan, baik ketika proses belajar maupun setelah menamatkan pelajaran padanya
7) Ikuti instruksi guru dalam setiap proses belajar mengajar dengan khusyu’ dan tekun
8) Berbuat baik terhadap guru dan kedua orang tua, serta amalkan ilmu yang diberikannya bagi kemaslahatan seluruh umat;
9) Jangan menjawab sesuatu yang tidak berfaedah. Biasakan berkata sesuatu yang bermanfaat karena itu sebagai ciri orang yang berilmu dan berfikiran luas;
10) Ciptakan suasana pendidikan yang merespon dinamika fitrah yang dimiliki seperti suasana gembira;
11) Biasakan diri untuk melihat, memikirkan dan melakukan analisa secara seksama terhadap fenomena alam semesta. Dengan ini maka peserta didik akan menyelami kebesaran Allah dan selanjutnya berbuat kebajikan terhadap alam semesta.[28]

F. Etika Peserta Didik

Sebagaimana dijelaskan oleh Asma Fahmi, bahwa setiap peserta didik harus memiliki dan berprilaku dengan etika yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti berikut ini :

1) Setiap peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran sebelum menuntut ilmu, yaitu menjauhkan dari sifat-sifat yang tercela seperti dengki, benci, menghasud, takabur, menipu, berbangga-bangga dan memuji diri serta menghiasi diri dengan akhlak mulia seperti benar, takwa, ikhlas, zuhud, merendahkan diri dan ridha;

2) Hendaklah tujuan belajar itu ditujukan untuk menghiasi ruh dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri dengan Tuhan, dan bukan untuk bermegah-megah dan mencari kedudukan. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ilallalah. Konsekuensi dari sikap ini, peserta didikkan senantiasa mensucikan diri dengan akhlaq al-karimah dalam kehidupan sehari-harinya, serta berupaya meninggalkan watak dan akhlak yang rendah (tercela).

3) Peserta didik tidak menganggap rendah sedikitpun pengetahuan-pengetahuan apa saja karena ia tidak mengetahuinya, tetapi ia harus mengambil bagian dari tiap-tiap ilmu yang pantas baginya, dan tingkatan yang wajib baginya;

4) Peserta didik wajib menghormati pendidiknya
5) Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh serta tabah dalam belajar.[29]

Ibnu Qayyim sendiri menjelaskan ada sebelas etika peserta didik , diantaranya;
1. Jika peserta didik ingin meraih kesempurnaan ilmu, henadklah ia menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan untuk dipandang
2. Mewaspadai terhadap tempat-tempat yang menyebarkan lahwun (hidup kesia-siaan) dan majelis-majelis yang buruk’
3. Bid’ah , sangat berbahaya bagi kebersihan hati.Hati yang telah tercemar noda bid’ah menjadi tidak mampu memahami Alquran, karena tidak bisa memahami Alquran kecuali hati yang suci.
4. Senantiasa menjaga waktunya, dan jangan sekali-kali membuangnya dengan membicarakan hal-hal yang tidak berfaedah, berbohong, dan obrolan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Dan janganlah sekali-kali mengatakan sesuatu yang tidak memiliki ilmu tentangnya
5. Tidak berbicara kecuali ketika jika sudah jelas kebenarannya/ hakikatnya dan telah tampak masalah itu jelas baginya
6. Menghindari diri membanggakan diri dengan harta, kedudukan dan kenikmatan dunia karena sangat dicela oleh syariat
7. Hendaknya mengetahui bahwa hanya dengan ilmu derajat seseorang tidak bisa terangkat kecuali jika ilmu tersebut diamalkan
8. Segera mengamalkan ilmu yang telah didapatinya agar selalu terjaga dan tidak mudah hilang
9. Memiliki pemahaman yang baik dan niat yang lurus, supaya hatinya terjauhkan dari noda-noda bid’ah dan penyimpangan seseorabg
10. Selalu mencari hakikat suatu masalah dan berusaha mendapatkannya dari mana saja sumbernya, sebagaimana wajib atasnya untuk tidak ta’ashshub (fanatic) kepada pendapat seseorang
11. Jika peserta didik itu memiliki keutamaan dengan mendapat balasan dari Allah berupa dilapangkannya
12. jalan menuju surge. Maka sepatutnya para peserta didik senantiasa mangingat pahala yang besar tersebut agar menjadi pendorong baginya untuk senantiasa giat mencari ilmu.[30]

Sedangkan kode etik personal peserta didik yang harus dapat dilaksanakan oleh peserta didik yaitu :
1. Membersihkan hati dari kotoran, sifat buruk, aqidah keliru, dan akhlak tercela.
2. Meluruskan niat, peserta didik harus menuntut ilmu demi Allah untuk menghidupkan syari’at Islam, menyinari hati dan mengasah batin dalam rangka mendekatkan diri kepadaNya. Dengan belajar itu ia bermaksud hendak mengisi jiwanya dengan fadhilah, mendekatkan diri kepada Allah, bukanlah bermaksud menonjolkan diri;
3. Menghargai waktu dengan cara mencurahkan perhatian sepenuhnya bagi urusan menuntut ilmu pengetahuan;
4. Menjaga kesederhanaan makanan dan pakaian. Mengurangi kecederungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrawi. Sifat yang ideal adalah menjadikan kedua dimensi kehidupan (dunia akhirat) sebagai alat yang integral untuk melaksanakan amanat-Nya, baik secara vertikal maupun horizontal;
5. Membuat jadwal kegiatan yang ketat dan teratur. Peserta didik mengalokasikan waktu secara jelas kedalam satu jadwal kegiatan harian yang berisi kegiatan belajar yang relevan
6. Menghindari makan terlalu banyak, yang terbaik adalah sedikit makan, selain makruh makan terlalu banyak juga akan menimbulkan malas dan kantuk bahkan serangan penyakit;
7. Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menyebabkan kebodohan dan lemahnya indera, seperti apel asam, kubis, atau cuka, juga kebanyakan lemak dapat menumpulkan otak dan menggemukan tubuh;
8. Menimalkan waktu tidur, tetapi tidak mengganggu kesehatan. Penuntut ilmu tidak boleh tidur lebih dari delapan ham satu hari satu malam, sebab tidur hanya diperlukan dalam rangka istirahat serta menyegarkan kembali badan dan pikiran untuk kembali belajar.
9. Membatasi pergaulan hanya dengan orang yang bisa bermanfaat bagi pelajar. Teman yang harus dicari ialah orang taat beragama, wara’, cerdas, baik dan gemar membantu, sebab bergaul dengan orang yang kurang peduli ilmu pengetahuan biasanya memboroskan harga serta menyia-nyiakan umur.[31]

Mengenai adab Murid dan Guru Menurut Al-Ghazali, adab murid dan guru itu ada sepuluh bagian:

1. Hendaknya mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadah hatinya,shalatnya jiwa, dan peribadatannya batin kepada Allah.
2. Mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan
3. Tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan seluruh urusannya kepadanya dan mematuhi nasehatnya seperti orang sakit yang bodoh mematuhi nasehat dokter yang penuh kasih sayang dan mahir
4. Orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat
5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mepertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya
6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi menjaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting
7. Hendaklah tidak memasuki satu cabang ilmu sebelum menguasai ilmu yang sebelumnya
8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia
9. Hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan
keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bias berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan.
10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, dan yang penting daripada yang lainnya.[32]

Sementara dalam UU Sisdiknas Tahun 2003 pasal 3 ditegaskan pula bahwa tujuan pendidikan nasional adalah “…untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Dari tujuan ini terlihat jelas bahwa mewujudkna manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia merupakan substansi dari kepribadian yang diinginkan dalam konsep pendidikan Islam itu sendiri.

Demikian pula peserta didik, juga diharapkan tidak terjebak pada paham pragmatisme dan materialisme. Ada kecenderungan ketika peserta didik bersikap demikian, maka guru pun kurang dihormati. Guru hanya dianggap sebagai instrumen atau alat dalam pendidikan. Sebagaimana yang dikenal dalam falsafah alat, ia akan digunakan selagi dibutuhkan. Ketika tidak lagi dibutuhkan, maka guru pun tidak dihormati lagi.

Untuk itu, peserta didik juga harus memahami apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam. Peserta didik yang dalam pandangan pendidikan Islam sering disebut sebagai murid sebenarnya memiliki arti ”orang yang menginginkan”. Artinya, seorang murid atau peserta didik harus menunjukkan sikap yang membutuhkan kehadiran seorang guru. Rasa ”membutuhkan” ini tentu tidak bersifat sesaat ketika ada perlu saja, tetapi dalam pandangan pendidikan Islam, seorang guru tidak hanya dihormati di saat belajar pada sekolah formal saja, sehingga disebut pula bahwa ”tidak ada mantan guru dalam pandangan pendidikan Islam”. Dengan konsep seperti ini maka seorang peserta didik harus menunjukkan sikap kesungguhannya dalam belajar dibarengi dengan adab-nya kepada guru dengan harapan ilmu yang ia peroleh bermanfaat bagi dirinya.

Selain itu, peserta didik juga harus menuntut ilmu didasari oleh motivasi awal, yaitu motivasi karena Allah SWT. Dengan motivasi ini, maka selama dalam menuntut ilmu ia harus meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Hal ini pula yang pernah dialami oleh Imam Syafi’i. Suatu ketika ia pernah meminta nasehat kepada gurunya, Imam Waki’ sebagai berikut: “Syakautu ilâ Waki’in sûa hifzi, wa arsyadani ilâ tarki al-maâhi, fa akhbarani bianna al-‘ilma nūrun, wa nur Allahi la yubdalu al-âshi”. Dari nasehat ini, ada dua hal yang perlu digarisbawahi, pertama, untuk memperkuat ingatan diperlukan upaya meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat; dan kedua, ilmu itu adalah cahaya yang tidak akan tampak dan terlahirkan dari orang yang suka berbuat maksiat. Dengan demikian irsyâd merupakan aktivitas pendidikan yang berusaha menularkan penghayatan (transinternalisasi) akhlak dan kepribadian kepada peserta didik, baik yang berupa etos kerjanya, etos belajarnya, maupun dedikasinya yang serba li Allah Ta’ala.

KESIMPULAN

Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis (Muhaimin dan Abdul Mujib,1993:177), untuk mencapai tujuan pendidikan melalui lembaga pendidikan.

Dalam perspektif falsafah pendidikan Islam seluruh makhluk ciptaan Allah Swt merupakan peserta didik. Namun secara khusus dalam pendidikan Islam, peserta didik adalah seluruh al insan, al-basyar atau bani adam yang sedang menuju al-insan al-kamil, baik dalam pengertian jismiyah maupun ruhiyah.

Ketiga istilah tersebut yaitu pertama, term mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam arti mutarabbi manusia yang selalu memerlukan pendidikan, baik dalam arti pengasuhan dan pemeliharaan fisik – biologis, penambahan pengetahuan dan keterampilan, tuntunan dan pemeliharaan diri, serta pembimbingan jiwa. Dengan demikian, mutarabbi mampu melaksanakan fungsi dan tugas penciptaan Allah Swt. Tuhan maha pencipta, pemelihara dan pendidik bagi alam semesta. Kedua, muta’allim, peserta didik mempelajari semua al-asma’kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah maupun quraniyah dalam rangka pencapaian pengenalan, peneguhan dan aktualisasi syahadah primordial yang telah pernah ia ikrarkan di hadapan Allah Swt. Kemampuan peserta didik merealisasikan terhadap apa yang pernah ia nyatakan ini merupakan essensi dari peserta didik itu sendiri dalam filsafat pendidikan Islam.

Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, dimana mereka sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.
Book Report Filsafat Pendidikan Islam

BOOK REPORT
MENCETAK PEMBELAJAR MENJADI INSAN PARIPURNA
(FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM)

A. Deskripsi Buku

Nama pengarang : Prof. Dr.H. Maragustam, M.A
Judul buku : Mencetak Pembelajar Menjadi Insan Paripurna
Tempat terbit : Yogyakarta
Penerbit : Nuha Litera
Tahun terbut : 2010
Jumlah halaman : 227 halaman
Tebal buku : 15 x 23 cm
ISBN : 978-979-1446-99-8

Buku ini terdiri dari delapan bab dan dilengkapi dengan prolog dan epilog. Adapun rincian dari masing-masing Bab yaitu sebagai berikut:

Bab I PENDAHULUAN

Bab II PEMIKIRAN (FILSAFAT) PENDIDIKAN ISLAM

1. Arti Filsafat
2. Hakikat Pendidikan Islam ( Pengertian kata “Tarbiyah, Taklim, dan Ta’dib)
3. Pengertian Filsafat Pendidikan dan Filsafat Pendidikan Islam
4. Pengolahan Sumber-sumber (Filsafat Pendidikan Islam)
5. Rangkuman

Bab III NILAI-NILAI DASAR (STRUKTUR IDE) PENDIDIKAN ISLAM

1. Hakikat Alam
2. Hakikat Kehidupan
3. Hakikat Manusia
4. Hakikat Hereditas dan Lingkungan
5. Rangkuman

Bab IV ALIRAN PEMIKIRAN (FILSAFAT) PENDIDIKAN ISLAM

1. Kesadaran Manusia dan Paradigma Pendidikan
2. Aliran Utama Pemikiran (Filsafat) Pendidikan Islam
3. Empat Aliran Pemikiran (Filsafat) Pendidikan Barat
4. Rangkuman

Bab V PENDIDIKAN KELUARGA DAN KOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM

1. Rasional
2. Pendidikan Keluarga
3. Komponen Pendidikan Islam
4. Rangkuman

Bab VI PENDIDIKAN SPIRITUALIS KALBU DAN IMPLIKASINYA DALAM TANGGUNGJAWAB

1. Rasional
2. Hakikat Kalbu
3. Karakteristik Kalbu
4. Metode Pendidikan Kalbu
5. Kalbu dan Pertanggungjawaban
6. Rangkuman

Bab VII PEMIKIRAN AZ-ZARNUJI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

1. Rasional
2. Sketsa Pengarang Kitab Ta’lim al-Mutaállim
3. Tujuan Pendidikan /Tujuan Memperoleh Ilmu
4. Rangkuman

Bab VIII MENJADI MANUSIA PEMBELAJAR (PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK) YANG BIJAKSANA

1. Rasional
2. Pengertian dan Karakteristik Hikmah
3. Pendidikan Islam Mencetak Manusia Bijaksana (Insan hakim)
4. Rangkuman

B. Interpretasi

Pada Bab I berisi tentang pendahuluan dari pembahasan buku ini, yang mengulas konsep awal manusia dalam pendidikan, yang menempati posisi sentral, karena di samping dipandang sebagai subjek, manusia juga dipandang sebagai objek pendidikan itu sendiri. Sebagai subjek manusia menentukan corak dan arah pendidikan. Pendidikan diadakan adalah untuk manusia, maka wajar kalau manusialah yang merekayasa pendidikan itu untuk kemashlahatan dirinya dan peradaban. Manusia punya potensi-potensi dan daya untuk dikembangkan, dipelihara dan diberdayakan, yang seterusnya menjadi makhluk yang berkepribadian dan berwatak. Sedangkan manusia sebagai objek pendidikan, manusia sebagai objek pendidikan, manusia menjadi fokus perhatian segala teori dan aktivitas pendidikan. Karena manusia itu dalam proses kehidupannya mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental, maka perlu ada bimbingan dan arahan agar sesuai dengan tujuan pendidikan.

Pendidikan Islam pada hakikatnya bertujuan menyiapkan manusia menjadi khalifah (pemimpin) di bumi dan sebagai hamba yang terus menerus mengabdi kepada-Nya dalam keadaan apapun dan dimanapun. Pendidikan Islam sekaligus menyiapkan sumber dayanya untuk mampu menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, kenikmatan dan kesusahannya. Pendidikan Islam menurut Nahlawi ialah pengembangan pikiran manusia dan tingkah laku serta emosinya berdasarkan agama Islam, dengan tujuan merealisasikan tujuan Islam di dalam kehidupan individu dan masyarakat, yakni dalam seluruh lapangan kehidupan. Pendidikan Islam dapat dilakukan seseorang atau kelompok di lembaga pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada pembelajar yang mendasarkan segenap program kegiatan pendidikannya atas pandangan serta nilai-nilai Islam. Dalam UU No 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional, Bab I Pasal 1 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses peserta didikan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pada Bab II ini membahas tentang pemikiran filsafat pendidikan. Pendidikan Islam dalam arti luas adalah kehidupan, dan kehidupan adalah pendidikan Islam. Pernyataan ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Jalaluddin dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam yang mengatakan bahwa ”life is an education, or education is a life . Karena setiap apa yang kita alami sengaja atau tidak sengaja, Islam menganjurkan untuk mengambil hikmah (pembelajaran/lesson learn) dari peristiwa atau pengalaman tersebut. Namun dalam arti sempit pendidikan Islam adalah usaha sadar dan terencana yang sesuai dengan nilai-nilai Islam untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam proses pendidikan mencakup menumbuhkan, memelihara, memimpin dan mengembangkan serta mempertanggungjawabkan secara sempurna semua dimensi manusia baik materi, seperti fisiknya, maupun immateri seperti akal, hati, kehendak, dan kemauan, yang dilakukan secara bertahap, berkelanjutan dan fleksibel. Dalam proses pendidikan, pembelajar dipandang sebagai subjek sekaligus objek dalam aktivitas pendidikan. Demikian juga dalam proses pendidikan mencakup alih (transfer) ilmu, budaya, tradisi, dan nilai serta pembentukan kepribadian (transformatif).

Filsafat pendidikan ialah pemikiran-pemikiran filosofis yang sistematis dan radikal, yang diambil dari sistem filsafat (aliran-aliran filsafat), atau jawaban filosofis terhadap masalah pendidikan, yang dapat dijadikan bagi proses pendidikan. Sedangkan filsafat pendidikan Islam ialah pemikiran-pemikiran filosofis yang sistematis dan radikal, yang diambil dari sistem filsafat (aliran-aliran filsafat), atau jawaban filosofis terhadap masalah pendidikan dan mencerminkan nilai-nilai Islam, yang dapat dijadikan pedoman bagi proses pendidikan Islam. Jadi, dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan Islam, dalam buku Filsafat Pendidikan Islam yang ditulis oleh H. M. Arifin, menurut beliau pemikiran para ahli filsafat pendidikan pada umumnya mengatakan bahwa perlu dijadikan bahan acuan yang memberikan ruang lingkup pemikiran filsafat pendidikan Islam. Kita berpendirian bahwa semua ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan filsafat pendidikan Islam harus kita ambil untuk bahan memperdalam dan memperluas studi. Dari manapun datangnya hikmah itu, kita ambil dan kita manfaatkan. Demikian perintah Nabi Muhammad saw.

Fungsi filsafat pendidikan Islam terhadap pendidikan ialah sebagai teori umum bagi pendidikan, fungsi kritik, fungsi analisis, fungsi normatif, dan fungsi evaluasi-sintesis terhadap pendidikan. Sedangkan sumber-sumber pengambilan filsafat pendidikan Islam ialah Alquran, Sunnah dan hasil ijtihad yang benar dan terpercaya.

Pada Bab III mengenai nilai-nilai dasar (struktur ide) pendidikan Islam. Penjelasannya disini ialah ide dasar yang menjadi titik tolak dalam membangun isi dan substansi persoalan-persoalan pendidikan Islam. Struktur ide dasar itu yang paling penting ialah bagaimana pandangan Islam mengenai hakikat alam, kehidupan dan manusia. Tujuan alam ini diciptakan agar manusia dapat menggali nilai-nilai kebenaran dan kemanfaatan yang terkandung di dalamnya yang dapat mengarahkan manusia kepada pengakuan eksistensial dirinya sebagai hamba Allah, terutama untuk ma’rifatullah yakni tauhid. Alam ini sebagai asas berpikir ilmiah dan dasar pijakan dalam kerangka ilmu, serta sebagai pembelajaran apabila alam ini diyakini sebagai hal yang exact, tetap (tidak pernah berubah) atau terus menerus, ada keterulangan, sifatnya objektif, dan berjalan atas dasar hukum kausal, dan teologis.

Sebagaimana halnya yang dinyatakan oleh as-Syaibani yang dikutip oleh al-Rasyidin dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islami menurutnya bahwa esensi alam semesta ini adalah segala sesuatu selain Allah Swt. Dalam perspektif Islam, manusia harus merealisasikan tujuan kemanusiaannya di alam semesta, baik sebagai syahid Allah , abdillah maupun khalifah Allah. Dalam konteks ini, Allah Swt menjadikan alam semesta sebagai wahana bagi manusia untuk bersyahadah akan keberadaan dan ke-Mahakuasaan Allah . Wujud nyata yang menandai syahadah itu adalah penunaian fungsi sebagai makhluk ibadah dan pelaksanaan tugas-tugas sebagi khalifah. Dalam hal ini, alam semesta merupakan institusi pendidikan, yakni tempat dimana manusia dididik, dibina, dilatih, dan dibimbing agar berkemampuan merealisasikan atau mewujudkan fungsi dan tugasnya sebagai abd Allah dan khalifah . Melalui proses pendidikan di alam semesta inilah kelak Allah Swt akan menilai siapa diantara hamba-Nya yang mampu meraih ‘markah’atau prestasi terbaik.

Manusia terdiri dari unsur materi yakni fisik, basyar dan immateri (insan, akal, kalbu, ruh, nafs, firah). Dengan keadaannya yang demikian, manusia adalah makhluk yang dimuliakan, makhluk educandum dan educandus, diberi amanah taklif (pembebanan), berfungsi ‘ubudiyah dan khalifah (co creator), makhluk mukhayyar (kebebasan memilih), makhluk yang bertanggung jawab dan diberi berbagai daya yang penuh keajaiban (‘ajaib) dan misteri (garaib) serta diberi peluang untuk mencapai kemajuan. Sifat dasar bawaan manusia ialah tauhid dan proses perkembangan bersifat interaktif/responsif. Lingkungan yang buruk merupakan agen eksternal mendorong fitrah yang negatif dan melengkapinya. Lingkungan yang baik, merupakan agen-agen eksternal yang melengkapi fitrah tauhid yang positif.

Hubungan antara individu dan sosial saling pengaruh. Dalam kehidupan manusia dipengaruhi oleh hereditas, lingkungan dan kehendak bebas atas kuasa Tuhan. Reformasi dan transformasi sosial merupakan kewajiban komunal dalam wujua amar makruf dan nahi mungkar. Melalui konsep amar makruf dan nahi mungkar akan menciptakan sebuah tata sosial yang bermoral sebagai konsekuensi dari fungsi manusia sebagai ubudiyah dan khalifah (co creator) dan manusia sebagai bayang-bayang Tuhan. Reformasi dan transformasi sosial yang dilakukan harus dilandasi oleh akidah dan ilmu bukan dengan kebodohan dan taklid. Dengan ilmu itu masyarakat dapat dibentuk dengan rasional, bukan dengan apriori tetapi apriori.

Struktur ide (nilai-nilai sentral/dasar) pendidikan Islam yaitu (1) hubungan manusia dengan Allah dikatakan bernilai benar dan baik serta indah apabila mengandung nilai ‘ubudiyah dan istikhlaf (2) hubungan manusia dengan masyarakat dikatakan bernilai benar dan baik serta indah apabila mengandung nilai ta’awun, ‘adalah, dan ihsan; (3) hubungan manusia dengan alam dikatakan bernilai benar dan baik serta indah apabila mengandung nilai takshir, (4) hubungan manusia dengan kehidupan dunia dipandang bernilai benar dan baik serta indah jika hubungan itu mengandung nilai ibtila’ (ujian dan laboratorium); dan (5) hubungan manusia dengan akhirat adalah bernilai benar dan baik jika mengantarkannya untuk dapat menyadari dan menghayati nilai-nilai tanggung jawab dan balasan.

Bab IV membahas mengenai aliran pemikiran (filsafat) pendidikan Islam. Tiga kesadaran dalam kehidupan manusia ialah kesadaran magis (magical consciusness), kesadaran naif (naival consciousness) dan kesadaran (critical consciousness). Dari tiga kesadaran ini memunculkan tiga paradigma sistem pendidikan yaitu dari kesadaran naif lahir pendidikan konservatif, dari kesadaran naif lahir pendidikan liberal dan dari kesadaran kritis lahir pendidikan kritis.

Sistem pendidikan yang memandang realitas luar sebagai sesuatu yang given, telah berlaku dan keharusan alami, bahkan takdir Tuhan, tidak bisa/perlu dirubah, bahkan perlu dilestarikan. Inilah sistem pendidikan yang pro status quo. Para ahli filsafat pendidikan mengistilahkan dengan pendidikan konservatif. Pendidikan konservatif ini lazim diberlakukan pada negara-negara dengan rezim yang otoriter. Paradigma liberal, memandang bahwa ketidakadilan sosial terjadi karena kelalaiian manusia itu sendiri. Kalau ada pengangguran, kemiskinan, konflik sosial dan lain-lain, maka itu adalah kesalahan manusianya yang kurang kreatif, tidak berjiwa wirausaha dan malas. Paradigma pendidikan kritis adalah melakukan refleksi kritis, terhadap “the dominant ideology” kearah transformasi sosial.

Tugas pendidikan dalam pandangan paradigma ini adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan, serta meletakkan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak mungkin dan tidak bisa bersikap netal, bersikap netal, bersikap obyektif maupun berjarak dengan masyarakat. Visi pendidikan ialah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk menciptakan sistem sosial baru dan lebih adil. Tugas pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak ada. Paradigma ini memandang akar ketidakadilan sosial adalah sistem yang berlaku pada masyarakat itu. Sistem itu dapat berupa sistem politik (yang otoriter dan anti demokrasi), sistem sosial (yang melestarikan kasta-kasta dan menghambat laju mobilitas sosial), sistem ekonomi (yang kapitalistik, dan anti kerakyatan) sistem budah (yang partiaki dan anti egaliter), bahkan sistem pendidikan itu sendiri (yang menjadi alat pengukuh dan pro status quo). Dan untuk itu pendidikan kritis berupaya melahirkan individu-individu (dan akhirnya masyarakat) yang mampu mendekonstruksi dan merekontruksi sistem yang ada.

Berdasar pada ruang lingkup pembagian ilmu dan tujuan memperoleh ilmu, pemikiran pendidikan Islam kepada tiga yakni (1) aliran al-Muhafiz (religius konservatif). (2) aliran al-Diniy al-Aqlaniy (religius rasional) dan (3) aliran alzarai’iy (pragmatis instrumental). Aliran religius konservatif, melihat konsep pendidikan Islam harus dibangun dari nilai-nilai agama terutama yang berkaitan dengan tujuan menuntut ilmu dan apa saja ilmu-ilmu yang perlu dipelajari. Menurut aliran ini tujuan-tujuan keagamaan menjadi tujuan menuntut ilmu. Aliran religius rasional sekalipun mempunyai kecenderungan kuat terhadap nuansa keagamaan tetapi tidak sekuat aliran konservatif.

Artinya kalau aliran konservatif terkandung kesan bahwa tema ilmu dalam Alquran dan hadis menyempit, sedangkan aliran religius rasional mempunyai cakupan yang luas. Disamping itu alirah religius rasional ini memadukan antara sudut pandang keagamaan dengan sudut pandang kefilsafatan dalam menjabarkan konsep ilmu, sehingga kelompok ini berpendapat bahwa pengetahuan itu semuanya muktasabah (hasil perolehan dari aktivitas belajar) dan yang menjadi modal utamanya adalah indera. Sedangkan aliran pragmatis instrumental lebih banyak bersifat pramatis dan lebih berorientasi pada aplikatif praktis dalam pendidikan. Dia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasar tujuan fungsionalnya, bukan berdasar nilai substansialnya atau sekuensinya semata. Sedangkan pemikiran pendidikan Barat, membagi aliran pendidikan kepada progresivisme, esensialisme, perenialisme dan rekonstruksionisme.

Selanjutnya pada Bab V membahas tentang pendidikan keluarga dan komponen pendidikan Islam. Berbicara mengenai tujuan, metode, pendidik dan peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh yang disebut sistem pendidikan Islam. Diantara sub sistem tersebut, yang paling utama ialah pendidiknya. Untuk para ahli pendidikan Islam sangat ketat mensyaratkan kriteria seorang pendidik. Hal itu tidak lain karena pendidik sangat berperan dalam alih ilmu, tradisi, budaya, nilai dan lain-lain kepada peserta didik sekaligus membentuk kepribadian peserta didik.

Menurut Ramayulis, pendidik dalam pendidikan Islam setidaknya ada empat macam. Pertama, Allah SWT sebagai pendidik bagi hamba-hamba dan sekalian makhluk-Nya. Kedua, Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya telah menerima wahyu dari Allah kemudian bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya kepada seluruh manusia. Ketiga, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga bagi anak-anaknya. Keempat, Guru sebagai pendidik di lingkungan pendidikan formal, seperti di sekolah atau madrasah.

Dalam buku ini, diantara pendidik tersebut selain Allah dan Rasulnya, orang tualah sebagai pendidik utama yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anak-anaknya. Alquran sangat jelas menekankan hal tersebut. Untuk itu keluarga harus menyiapkan diri sedemikian rupa agar mampu mendidik putra putrinya dalam menghadapi gelombang kehidupan yang menantang dan tidak menentu. Seperti mendatangkan guru agama privat ke rumah, menyekolahkan anaknya ke lembaga- lembaga sekolah yang religius, mengintensifkan hubungan antara orang tua dan anak, mengikutkan anak-anaknya dalam majelis-majelis taklim dan dzikrullah, memonitoring dan mengawasi pergaulan anak, menjadikan diri orang tua menjadi teladan (role model) bagi putra-putrinya. Dapat dipahami bahwa pendidik dalam pandangan Islam memiliki posisi yang tinggi dan terhormat. Namun tugas yang mesti mereka emban tidaklah mudah, sebab Islam menuntut pendidik tersebut melakukan terlebih dahulu apa-apa yang akan ia ajarkan. Dengan begitu, pendidik akan mampu menjadi teladan (uswah) bagi peserta didiknya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendidik yang mulia, yaitu Nabi Muhammad saw.

Bab VI mengenai pendidikan spiritualis kalbu dan implikasinya dalam tanggungjawab. Kalbu itu tidak jelas hakikatnya, apalagi rincian dan gejala-gejalanya. Kalbu dalam arti maknawi (halus) merupakan tempat bersemayam cinta kasih, iman, dan takwa. Dia tempat penyimpanan rahasia-rahasia, berlabuh perasaan-perasaan, keinginan-keginan, dorongan-dorongan berlabuh perasaan-perasaan, keinginan-keinginan, dorongan-dorongan dan niat, mengetahui, dan alat mengetahui dan mengenal. Karakteristik kalbu itu antara lain, pada dasarnya bersifat bolak balik, kecuali yang dibimbing Tuhan. Kalbu bagaikan raja dan titik sentral bagi semua aktivis manusia. Lammah kalbu ada malakiyah, syaithniyah, lawwamah dan lammah ammarah bissu’. Dari perilaku kalbu itu ada yang sehat, hidup, tentram, tapi ada juga yang mati, berpenyakit, keras, atau bercampur nifaq dan iman. Kalbu yang dikunci mati atau berpenyakit atau keras sebenarnya berawal dari prakarsa manusia itu sendiri. Sebagai metode pembinaan kalbu itu antara lain dapat dilakukan dengan terus menerus berdzikir, istighfar (mohon ampunan) dan bertobat, memperbanyak doa, dan selalu menangkap segala fenomena dengan husnudzan (berpikir positif).

Dalam kenyataannya, banyak manusia lari dari tanggungjawab. Pada hal setiap manusia harus mempertanggungjawabkan setiap apa yang ia lakukan dan katakan sekecil apaun baik itu sebagai konsekuensi sebagai hamba atau konsekuensi sebagai khalifah. Dalam hadis dikatakan: ketahuilah, setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Setiap kepala Negara adalah pemimpin dan masing-masing harus bertanggungjawab atas kepemimpinannya. (HR. Bukhari Muslim). Dalam Alquran disebutkan bahwa “setiap aspek dari diri manusia diminta pertanggungjawaban’. (QS. Al-Isra’(17): 36).

Menurut analisa penulis banyak manusia yang lari dari tanggungjawabnya. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa kalbu adalah pusat kesadaran moral dan spiritual. Dia bagaikan raja yang memerintah seluruh aliran darah manusia. Terdapat hubungan timbale balik antara spiritualitas kalbu dengan perilaku. Jika kalbu seseorang kotor, sekalipun ia mengetahui mana yang salah dan benar, diberi kebebasan berbuat (tidak ada paksaan), dan berkemampuan untuk berbuat, tetap saja berbuat kejahatan. Dengan demikian, pertanggungjawaban menaati aturan sangat tergantung kepada kualitas spiritualitas kalbu seseorang. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas spiritualis kalbu dengan pertanggungjawaban.

Bab VII tentang Pemikiran al-Zarnuji Tentang Pendidikan Islam. Dari berbagai bahasan yang dikemukakan dapatlah disimpulkan bahwa al-Zarnuji dalam menentukan tujuan belajar/pendidikan berorientasi kepada tujuan ideal dan tujuan praktis, sekalipun ia lebih menekankan pada tujuan ideal. Karena dia berkeyakinan bahwa tujuan ideal akan dapat mewarnai terhadap diri pembelajar sehingga tujuan-tujuan praktis, seperti tujuan ideal dan tujuan praktis, sekalipun ia lebih menekankan pada tujuan ideal. Karena dia berkeyakinan bahwa tujuan ideal akan dapat mewarnai terhadap diri pembelajar sehingga tujuan-tujuan praktis, seperti tujuan mencari ilmu untuk memperoleh kedudukan haruslah diberdayakan kepada tujuan mencari ridha Allah dan kehidupan di akhirat. Sekalipun tujuan-tujuan yang dikemukakannya belum terperinci, tetapi paling tidak benang merahnya telah nampak yakni tujuan-tujuan itu haruslah ada tujuan yang bersifat individual, sosial dan professional.

Menurut al-Zarnuji tujuan belajar/pendidikan Islam berikut ini:

وينبغى أن ينوي المتعلم يطلب العلم رضا الله تعالى والدار الآخرة وازلة الجهل من نفسه وعن سائر الجهال وإحياء الدين و إبقاء الإسلام فأن بقاء الإسلام بالعلم. ولايصح الزهد والتقوى مع الجهل. والنشد الشيخ الإمام الأجل برهان الدين صاحب الهداية شعرا لبعضهم:

فساد كبير عالم متهتك * وأكبر منه جاهل متنسك

هما فتنة في العالمين عظيمة * لمن بهما فى دينه يتمسك.
Maksudnya: Seseorang yang menuntut ilmu harus bertujuan mengharap rida Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, menghidupkan agama, dan melestarikan Islam. Karena Islam itu dapat lestari, kalau pemeluknya berilmu. Zuhud dan takwa tidak sah tanpa disertai ilmu. Syekh Burhanuddin menukil perkataan ulama sebuah syair: “orang alim yang durhaka bahayanya besar, tetapi orang bodoh yang tekun beribadah justru lebih besar bahayanya dibandingkan orang alim tadi. Keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan umat, dan tidak layak dijadikan panutan. Selanjutnya al-Zarnuji berkata:

وينوي به الشكر على نعمة العقل وصحة البدن ولا ينوى به اقبال الناس ولا استجلاب حطام الدنيا والكرامة عند السلطان وغيره. قال محمد ابن الحسن رحمه الله تعالى لو كان الناس كلهم عبيدى لاعتقتهم و تبرأت عن ولآئهم.

Maksudnya: Seseorang yang menuntut ilmu haruslah didasari atas mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan. Dan dia tidak boleh bertujuan supaya dihormati manusia dan tidak pula untuk mendapatkan harta dunia dan mendapatkan kehormatan di hadapan pejabat dan yang lainnya.

Sebagai akibat dari seseorang yang merasakan lezatnya ilmu dan mengamalkannya, maka bagi para pembelajar akan berpaling halnya dari sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Demikian pendapat al-Zarnuji, seperti statemen berikut ini:

ومن وجد لذة العلم والعمل به قلما فيما عند الناس. انشد الشيخ الإمام الآجل الأستاذ قوام الدين حمادالدين ابراهم بن اسماعيل الصفار الأنصاري املآء لابي حنيفة رحمه الله تعالى شعرا :

من طلب العلم للمعاد * فاز بفضل من الرشاد

فيالخسران طالبه * لنيل فضل من العباد.

Maksudnya: Barangsiapa dapat merasakan lezat ilmu dan nikmat mengamalkannya, maka dia tidak akan begitu tertarik dengan harta yang dimiliki orang lain. Syekh Imam Hammad bin Ibrahim bin Ismail Assyafar al-Anshari membacakan syair Abu Hanifah: Siapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, tentu ia akan memperoleh anugerah kebenaran/petunjuk. Dan kerugian bagi orang yang mencari ilmu hanya karena mencari kedudukan di masyarakat.

Tujuan pendidikan menurut al-Zarnuji sebenarnya tidak hanya untuk akhirat (ideal), tetapi juga tujuan keduniaan (praktis), asalkan tujuan keduniaan ini sebagai instrumen pendukung tujuan-tujuan keagamaan. Seperti pendapat al-Zarnuji berikut ini:

اللهم الا اذا طلب الجاه للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر وتنفيذ الحق واعزاز الدين لا لنفسه وهواه فيجوز ذلك بقدر مايقيم به الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر. وينبغى لطالب العلم أن يتفكر في ذلك فإنه يتعلم العلم بجهد كثير فلا يصرفه الى الدنيا الحقيرة القليلة الفانية شعر:

هي الدنيا اقل من القليل * وعاشقها اذلّ من الذليل

تصم بسحرها قوما و تعمي * فهم متحيرون بلا دليل.

Maksudnya: Seseorang boleh memperoleh ilmu dengan tujuan untuk memperoleh kedudukan, kalau kedudukan tersebut digunakan untuk amar makruf nahi munkar, untuk melaksanakan kebenaran dan untuk menegakkan agama Allah. Bukan mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, dan tidak pula karena memperturutkan nafsu. Seharusnyalah bagi pembelajar untuk merenungkannya, supaya ilmu yang dia cari dengan susah payah tidak menjadi sia-sia. Oleh karena itu, bagi pembelajar janganlah mencari ilmu untuk memperoleh keuntungan dunia yang hina, sedikit dan tidak kekal. Seperti kata sebuah syair: Dunia ini lebih sedikit dari yang sedikit, orang yang terpesona padanya adalah orang yang paling hina. Dunia dan isinya adalah sihir yang dapat menipu orang tuli dan buta. Mereka adalah orang-orang bingung yang tak tentu arah, karena jauh dari petunjuk.

Mengenai pendapatnya tentang konsep sifat dasar moral manusia dan aksinya terhadap dunia luar, nampaknya lebih cenderung kepada good interactif atau positif aktif. Artinya pada dasarnya cetakan manusia itu baik aktif dan merespon terhadap lingkungan sosial budaya bersifat proses kerjasama atau dialogis. Namun nampaknya al-Zarnuji lebih banyak menekankan kepada penataan lingkungan sosial, seperti memilih guru, teman dan tempat agar ilmu yang diperoleh pembelajar dapat bermanfaat, berkah sebagai hasil dari pengaruh lingkungan tersebut.

Pada Bab VIII dijelaskan bahwa dari berbagai pembahasan maka dapat dirangkum bahwa pada garis besarnya kata hikmah dalam Alquran kebanyakan diiringi dengan kata kitab. Kalau hikmah diiringi dengan kata kitab mayoritas ulama mengartikannya dengan “sunnah”. Sedangkan jika kata hikmah tidak disertai dengan kitab, dimaknai dengan Alquran, ilmu, kemampuan memahami, kebenaran ucapan dan perbuatan, kesesuaian ilmu dan amal. Secara ringkas hikmah adalah ilmu, kecerdasan akal, memahami hukum kausalitas, tentang rahasia-rahasisnya, tentang tujuan dari sesuatu, tentang kemaslahatan dibalik yang tersurat/kejadian dan tentang etika, kesesuaian teori/kata dan praktik, sedikit kata padat makna, jelas, benar dan mencakup, keadilan dan kebenaran, spiritualitas, kenabian dan sunnah, lemah lembut, dan tindakan yang cepat. Mendapatkan hikmah merupakan otoritas Allah, disamping usaha manusia itu sendiri sebagai prasyarat .

Sedangkan menurut penulis dalam Tafsir al-Misbah ditulis oleh Quraisy Shihabah kata hikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Ia adalah pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan atau kekeliruan. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan /diperhatikan akan mendatangkan kemashlahatan dan kemudahan yang yang besar atau lebih besar serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah kearah yang tidak diinginkan atau menjadi liar.

Melilih perbuatan yang terbaik dan sesuai adalah perwujudan dari hikmah. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya dinamai hakim (bijaksana). Siapa yang tepat dalam penilaiannya dan dalam pengaturannya, dialah yang wajar menyandang sifat ini atau dengan katalain dia yang hakim. Thahir Ibn ‘Asyur menggarisbawahi bahwa hikmah adalah nama himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung. Thabathaba’I mengutip ar-Raghib al-Ashfahani yang menyatakan secara singkat bahwa hikmah adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal. Dengan demikian, menurut Thabathaba’I hikmah adalah argument yang menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan, tidak mengandung kelemahan tidak juga kekaburan.

Pakar tafsir al-Biqa’I menggarisbawahi bahwa al-hakim, yakni yangmemiliki hikmah, harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya sehingga dia tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira, dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba.

Insan hakim itu mencerminkan pribadi yang berilmu mendalam, manfaat, benar, tetapi setelah melalui proses memahami Alquran dan Sunnah dan sunnatullah, mengati hekakat kebenaran dan sunnatullah, tujuan-tujuannya, rahasia-rahasianya dan manfaatnya cerdas akalnya, teliti dan ahli, mendapatkan anugerah, filsafat, ilham dan petunjuk, terdapat kesesuaian antara kata dan perbuatan, menempatkan sesuatu sesuai dengan haknya secara seimbang dan adil, lemah lembut, menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menghindar diri dari akhlak tercela. Dengan kata lain untuk mendapatkan hikmah itu adalah seseorang berakhlak dengan akhlak Tuhan dan meneladani pribadi luhur Nabi Muhammad SAW. Benar apa yang disabdakan Nabi SAW bahwa hikmah dapat menambah (derajat) seorang terhormat dan mengangkat (derajat) seorang hamba sahaya sehingga ia dapat menduduki kedudukan raja (penguasa)”. (HR. Abu Na’im dan Ibnu Abdi).

C. Evaluasi

Setelah menelaah secara seksama isi buku mengenai Mencetak Pembelajar Menjadi Insan Paripurna ( Falsafah Pendidikan Islam) ini, penulis merasa cukup baik. Karena buku ini mengulas secara khusus mengenai bagaimana mencetak pembelajar menjadi insane paripurna yang memaparkan bagaimana problem pendidikan di Indonesia dalam lingkaran globalisasi informasi dan teknologi yang membabat habis spiritualis kalbu pembelajar. pendidikan kemanusiaan, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan karakter dan pendidikan akhlak di Indonesia yang merupakan tanggung jawab setiap pendidik. Oleh karena itu, buku ini sangat penting dibaca dan dipahami oleh para pendidik, siswa, mahasiswa bahkan juga bagi para orang tua dalam guna dalam memahami bagaimana pentingnya meningkatkan spiritualitas dan mendidikkn hati (kalbu) sehingga menjadi manusia yang bertanggungjawab terhadap Tuhan, sesama manusia dan dirinya sendiri. Yang akhirnya mampu mencetak manusia-manusia yang paripurna.

Namun, krikik penulis terhadap buku ini yaitu bahasa-bahasa yang digunakan banyak yang tidak baku sehingga sulit dipahami dan dimengerti, dan pembahasannya kurang menukik dalam mengkaji sisi filosofis konsep yang dibahas. Akhir kata penulis mengatakan semoga buku ini bermanfaat bagi kita.

D. Rekomendasi

Melihat begitu kompleksnya pembahasan yang ada dalam buku ini. Maka, penulis menyarankan bagi para teori dan praktisi pendidikan, hendaknya lebih dulu memahami konsep dan hakekat manusia yang merupakan makhluk Allah yang paling mulia yang diciptakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya (paripurna). Para pendidik dan para praktisi pendidik lainnya hendaknya mampu memahami daya-daya yang dimikili oleh manusia itu sendiri.

Dan salah satu fokus perhatian dari daya-daya manusia itu ialah kalbu (hati). Semakin bagus spiritualitas kalbu seseorang, maka semakin bagus pula tanggungjawab keagamaannya, kemanusiaannya, dan kealamannya, yang akhirnya menjadi insan paripurna yang penuh dinamika. Karena dengan pengetahuan tersebut, pembentukan karakter pembelajaran akan sesuai dengan maksud pencipta fitrah manusia yaitu menjadi khalifatullah dan abdillah. Dari sini dapat difahami betapa tegasnya para ahli pendidikan muslim mensyaratkan kompetisi personal bagi pendidik muslim. Hal ini tiada lain agar pendidik dapat mencetak pembelajar menjadi manusia bijaksana dan spiritualis kalbu yang mumpuni. Karenanya dia menjadi manusia yang bertanggungjawab, paling tidak pendidik tidak merusak fitrah suci titipan Tuhan tersebut dalam proses pendidikan.

Demikian pentingnya pendidik dan peserta didik, maka kedua komponen ini harus menjalankan tugas dan memahami perannya masing-masing sebagaimana yang dijelaskan di atas. Dalam konteks pelaksanaan pendidikan di Indonesia, pendidik, baik Guru maupun Dosen memang telah mendapat perhatian dari pemerintah, terbukti dengan adanya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Namun, pendidik harus menyadari bahwa pendidik tidak hanya sekedar profesi formal yang bertanggung jawab dalam menyampaikan materi sebaik-baiknya, dengan perencanaan pembelajaran yang matang dan menerapan metode yang baik. Hal yang lebih penting adalah pendidik seharusnya sebagai figur central (uswatun hasanah) bagi peserta didiknya.

 

Makalah Peserta Didik dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

Secara sederhana, pendidikan Islam dapat difahami sebagai suatu usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam. M. Arifin menuliskan bahwa hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa Muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan fitrah (kemampuan dasar) peserta didik melalui ajaran islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian memberi makan jiwa peserta didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia.

Dalam dunia pendidikan ada beberapa pandangan yang berkembang berkaitan dengan peserta didik. Ada yang mendefenisikan peserta didik sebagai manusia belum dewasa, dan karenanya ia membutuhkan pengajaran, latihan, dan bimbingan dari orang dewasa atau pendidik untuk mengantarkannya menuju pada kedewasaan. Ada pula yang berpendapat bahwa peserta didik adalah manusia yang memiliki fitrah atau potensi untuk mengembangkan diri. Fitrah atau potensi tersebut mencakup akal, hati, dan jiwa yang mana kala diberdayakan secara baik akan menghantarkan seseorang bertauhid kepada Allah Swt. Kemudian, adapula yang berpendapat bahwa peserta didik adalah setiap manusia yang menerima pengaruh positif dari orang dewasa atau pendidik. Dalam arti teknis, bahkan ada yang menyatakan bahwa peserta didik adalah setiap anak yang belajar disekolah atau lembaga-lembaga pendidikan formal.

Peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek pendidikan, tetapi pada saat-saat tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa posisi peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif laksana cangkir kosong yang siap menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan gurunya, sekaligus dalam upaya pengembangan keilmuannya.

Eksistensi peserta didik sebagai salah satu sub sistem pendidikan Islam sangatlah menentukan. Karena tidak mungkin pelaksanaan pendidikan Islam tidak bersentuhan dengan individu-individu yang berkedudukan sebagai peserta didik. Pendidik tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran peserta didik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peserta didik adalah kunci yang menentukan terjadinya interaksi edukatif, yang pada gilirannya sangat menentukan kualitas pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Peserta Didik

Dalam usaha mendefenisikan istilah peserta didik, terlebih dahulu perlu dipahami beberapa sebutan lain dalam Bahasa Indonesia, yaitu istilah murid, dan peserta didik. Istilah murid dipahami sebagai orang yang sedang belajar, menyucikan diri, dan sedang berjalan menuju Tuhan. Peserta didik dipahami sebagai pendidik menyayangi murid sebagaimana anaknya sendiri dan dalam hal ini faktor kasih sayang pendidik terhadap peserta didik dianggap kunci keberhasilan pendidikan. Adapun istilah peserta didik adalah sebutan yang paling mutakhir, istilah ini menekankan pentingnya peserta didik berpartisipasi dalam proses pembelajaran.[1] Dengan demikian, menurut Ahmad Tafsir yang dikutip oleh Zainuddin et.al perubahan sebutan dari murid ke peserta didik lalu menjadi peserta didik, bermaksud memberikan perubahan pada peran peserta didik dalam proses belajar mengajar.[2]

Pendidikan umum, mengartikan peserta didik sebagai raw input (masukan mentah) dalam proses trnsformasi yang disebut dengan pendidikan (Muri Yusuf,1982:37). Lebih jauh dijelaskan bahwa peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis (Muhaimin dan Abdul Mujib,1993:177), untuk mencapai tujuan pendidikan melalui lembaga pendidikan.

Pertumbuhan adalah perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik secara alami yang ditandai oleh pertumbuhan tubuh menjadi bertambah besar. Adapun perkembangan adalah yang menyangkut jasmaniyah dan ruhaniah (Muri Yusuf:37). Dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan yang masih berjalan, maka peserta didik dianggap belum dewasa hingga membutuhkan bimbingan orang lain untuk menjadikannya dewasa (Abdul Mujib: 177). Sebab pendewasaan merupakan tujuan dari pendidikan. Bimbingan dapat diberikan dalam berbagai lingkungan pendidikan, yakni lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Abdul Mujib:25).

Menurut George R. Knight , sebagaimana dikuti oleh Abd. Rahman Assegaf dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam, siswa atau peserta didik dipandang sebagai anak yang aktif, bukan pasif yang hanya menanti guru untuk memenuhi otaknya dengan berbagai informasi.Siswa adalah anak yang dinamis yang secara alami ingin belajar, dan akan belajar apabila mereka tidak merasa putus asa dalam pelajarannya yang diterima dari orang yang berwenang atau dewasa yang memaksakan kehendak dan tujuannya kepada mereka. Dalam hal ini, Dewey menyebutkan bahwa anak itu sudah memiliki potensi aktif. Membicarakan pendidikan berarti membicarakan keterkaitan aktivitasnya, dan pemberian bimbingan padanya.[3]

Peserta didik merupakan sasaran (obyek) dan sekaligus sebagai subyek pendidikan. Oleh sebab itu, dalam memahami hakikat peserta didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Setidaknya secara umum peserta didik memiliki lima ciri, yaitu:
• Peserta didik dalam keadaan sedang berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan , kemauan dan sebagainya.
• Mempunyai keinginan untuk berkembang kearah dewasa
• Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda
• Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu[4]

Literatur pendidikan terkni menuliskan bahwa sebutan anak didik telah berubah menjadi peserta didik. Hal ini dikarenakan adanya pandangan pencerahan bahwa peserta didik pada setiap proses interaksi dan komunikasi terhadap sumber, dan bersifat sebagai objek juga sebagai subjek. Ketika potensi anak masih minimal dan membutuhkan pertolongan manusia dewasa, maka sebutan yang lebih tepat adalah peserta didik (objek) yang aktif. Akan tetapi, ketika ia telah merespons setiap stimulus yang datang dengan motivasi yang telah terbangun, ia pun aktif secara fisik dan mental mencari, merespon bahkan menemukan sendiri informasi yang diinginkannya, maka sebutan baginya adalah peserta didik (subjek) yang aktif.

Defenisi lain dalam khazanah pendidikan Islam klasik, al-Subkiy menggunakan term thalib (jamak : thalabat atau thullab), mutafaqqih (jamak : mutafaqqihun), faqih (jamak : fuqaha) dan tilmizd (jamak : talamizd) untuk menunjukkan pada penuntut ilmu (pelajar) pada madrasah Nizhamiyah. Imam al-Haramayn disebut-sebut pernah memakai perkataan faqih untuk menyapa murid-muridnya. Mengenai hal ini, al-Subkiy melukiskan dengan indah sebuah dialog singkat yang terjadi antara al-Juwayni dan murid kesayangannya, al-Ghazali, dalam bukunya berjudul thabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra.[5]

Term faqih dalam dialog dibuku tersebut menunjuk kepada al-Ghazali yang dimaksud dengan faqih adalah orang yang mempelajari ilmu fiqih dan istilah ini identik dengan istilah mutafaqqih. Sementara istilah thalib (penuntut ilmu) biasa dipakai untuk orang yang belajar ilmu agama atau ilmu umum sebab kedua-duanya disuruh dalam agama. Bedanya kalau yang pertama hukumnya menjadi kewajiban bagi setiap muslim (fardhu ‘ain), maka yang kedua hukumnya menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Sedangkan istilah tilmidz (murid) berasal dari akar kata talammaza artinya belajar, bisa dua-duanya, agama maupun umum.

Berbeda dengan al-Juwayni, al-Ghazali memakai term thalib ketika menyebut murid-muridnya di madrasah Nizhamiyah Baghdad. Beliau menjelaskan bahwa orang yang mempelajari ilmu kalam, kebathinan, filsafat dan sufi disebut thalib. Dari keterangan al-Ghazali ini dapat dipahami bahwa wacana ilmiah dan kegiatan studi murid-murid madrasah Nizhamiyah Baghdad dibawah asuhannya meliputi semua ilmu tersebut.[6]

Secara umum dalam pendidikan Islam pada hakikatnya Allah Swt. Merupakan murabbi, mu’allim atau mu’addib, yang diistilahkan dengan pendidik. Dialah yang mencipta dan memelihara (mendidik) seluruh makhluk didunia ini termasuk manusia, baik dalam artian tarbiyah, ta’alim, maupun ta’dib. Dengan demikian, dalam perspektif falsafah pendidikan Islam seluruh makhluk ciptaan Allah Swt merupakan peserta didik. Namun secara khusus dalam pendidikan Islam, peserta didik adalah seluruh al insan, al-basyar atau bani adam yang sedang menuju al-insan al-kamil, baik dalam pengertian jismiyah maupun ruhiyah.

B. Esensi Peserta Didik dalam Perspektif Falsafah Pendidikan Islami

Dalam pandangan pendidikan Islam, untuk mengetahui hakikat peserta didik, tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan pembahasan tentang hakikat manusia, karena manusia hasil dari suatu proses pendidikan. (Abdurrahman Shaleh,1990:45). Menurut konsep ajaran Islam manusia pada hakikatnya, adalah makhluk ciptaan Allah yang secara biologis diciptakan melalui proses pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung secara evolutif, yaitu melalui proses yang bertahap. Sebagai makhluk ciptaan, manusia memiliki bentuk yang lebih baik, lebih indah dan lebih sempurna dibandingkan makhluk lain ciptaan Allah, hingga manusia dinilai sebagai makhluk lebih mulia, sisi lain manusia merupakan makhluk yang mampu mendidik, dapat dididik, karena manusia dianugerahi sejumlah potensi yang dapat dikembangkan. Itulah antara lain gambaran tentang pandangan Islam mengenai hakikat manusia, yang dijadikan acuan pandangan mengenai hakikat peserta didik dalam pendidikan Islam. Peserta didik dalam pendidikan Islam harus memperoleh perlakuan yang selaras dengan hakikat yang disandangnya sebagai makhluk Allah. Dengan demikian, sistem pendidikan Islam peserta didik tidak hanya sebatas pada obyek pendidikan, melainkan pula sekaligus sebagai subyek pendidikan.[7]

Dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, semua makhluk pada dasarnya adalah peserta didik. Sebab, dalam Islam, sebagai murabbi, mu’allim, atau muaddib, Allah Swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk. Pemeliharaan Allah Swt mencakup sekaligus kependidikan-Nya, baik dalam arti tarbiyah, ta’alim, maupun ta’adib. Karenanya, dalam perspektif falsafah pendidikan Islam, peserta didik itu mencakup seluruh makhluk Allah Swt, seperti malaikat, jin, manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.[8]

Namun, dalam arti khusus dalam perspektif falsafah pendidikan Islami peserta didik adalah seluruh al-insan, al-basyar, atau bany adam yang sedang berada dalam proses perkembangan menuju kepada kesempurnaan atau suatu kondisi yang dipandang sempurna (al-Insan al-Kamil). Terma al-Insan, al-basyar, atau bany adam dalam defenisi ini memberi makna bahwa kedirian peserta didik itu tersusun dari unsur-unsur jasmani, ruhani, dan memiliki kesamaan universal, yakni sebagai makhluk yang diturunkan atau dikembangbiakan dari Adam a.s. kemudian, terma perkembangan dalam pengertian ini berkaitan dengan proses mengarahkan kedirian peserta didik, baik dari fisik (jismiyah) maupun diri psikhis (ruhiyah) – aql, nafs, qalb – agar mampu menjalankan fungsi-fungsinya secara sempurna. Misalnya, ketika dilahirkan, fisik manusia dalam keadaan lemah dan belum mampu mengambil atau memegang benda dan kaki belum mampu melangkah atau berjalan.

Demikian benda dan kaki belum mampu melangkah atau berjalan. Demikian juga, ketika dilahirkan dari rahim ibunya, ‘aql manusia belum dapat difungsikan untuk menalar baik buruk atau benar salah. Melalui proses ta’lim, tarbiyah, atau ta’dib, secara bertahap, ‘aql manusia diasah, dilatih, dan dibimbing melakukan penalaran yang logis atau rasional, sehingga ia mampu menyimpulkan baik-buruk atau benar-salah. Demikiah juga nafs, ketika manusia dilahirkan dari rahim Ibunya, ia hanya cenderung pada pemenuhan kehendak atau kebutuhan jismiyah, terutama makan-minum. Melalui proses ta’lim, tarbiyah atau ta’dib, nafs manusia dilatih dan dibimbing untuk melakukan pengendalian, pemeliharaan, dan pensucian diri. Akan halnya qalb, ketika manusia dilahirkan dari rahim ibunya, ia hanya potensi laten yang belum mampu menangkap cahaya (al-nur) dan memahami kebenaran (al-haqq). Kemudian, melalui proses ta’lim, tarbiyah atau ta’dib, qalb manusia dibimbing sehingga mampu menangkap cahaya (al-nur) dan memahami kebenaran (al-haqq) serta hidup sesuai dengan cahaya dan kebenaran tersebut.

Dalam pengertian di atas, yang dimaksud dengan kesempurnaan adalah suatu keadaan dimana dimensi jismiyah dan ruhiyah peserta didik, melalui proses ta-lim, tarbiyah, atau ta’dib, diarahkan secara bertahap dan berkesinambungan untuk mencapai tingkatan terbaik dalam kemampuan mengaktualisasikan seluruh daya atau kekuatannya (quwwah al-jismiyah wa al-ruhiyah). Dalam perspektif ini, secara sederhana, kesempurnaan dimensi jismiyah adalah suatu kondisi dimana seluruh unsur atau anggota jasmani manusia mencapai tingkatan terbaik dalam kemampuannya melakukan tugas-tugas fisikal-biologis, seperti bergerak, berpindah dan melakukan berbagai aktivitas fisikal lainnya. Demikian pula halnya dengan kesempurnaan dimensi ruhiyah. Dalam makna ini, ‘aql, nafs, dan qalb peserta didik mencapai tingkatan terbaik dalam berpikir atau menalar (al-‘aql al-mustasyfad), dalam mengendalikan dan mensucikan diri (al-nafs al-muthmainnah), dan dalam menangkap cahaya dan memahami kebenaran (qalb al-salim).[9]

Berdasarkan pengertian di atas, dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, pada hakikatnya semua manusia adalah peserta didik. Sebab, pada hakikatnya, semua manusia adalah makhluk yang senantiasa berada dalam proses perkembangan menuju kesempurnaan, atau suatu tingkatan yang dipandang sempurna, dan proses itu berlangsung sepanjang hayat. [10]

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Rasyidin yang dikuti oleh Zainuddin et.al dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, setidaknya ada 3 istilah peserta didik yang dapat dirangkum dalam esensi filsafat pendidikan Islam.

Ketiga istilah tersebut yaitu pertama, term mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam arti mutarabbi manusia yang selalu memerlukan pendidikan, baik dalam arti pengasuhan dan pemeliharaan fisik – biologis, penambahan pengetahuan dan keterampilan, tuntunan dan pemeliharaan diri, serta pembimbingan jiwa. Dengan demikian, mutarabbi mampu melaksanakan fungsi dan tugas penciptaan Allah Swt. Tuhan maha pencipta, pemelihara dan pendidik bagi alam semesta. Kedua, muta’allim, peserta didik mempelajari semua al-asma’kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah maupun quraniyah dalam rangka pencapaian pengenalan, peneguhan dan aktualisasi syahadah primordial yang telah pernah ia ikrarkan di hadapan Allah Swt. Kemampuan peserta didik merealisasikan terhadap apa yang pernah ia nyatakan ini merupakan essensi dari peserta didik itu sendiri dalam filsafat pendidikan Islam. Ketiga, muta’addib, merupakan proses pendisiplinan adab ke dalam jism, dan ruhnya, sehingga akal, ruh dan hatinya pendisiplinan adab melalui mua’dib (pendidik). Esensinya dalam mutaadib dalam pendisiplinan adab adalah ahklak, yaitu syariat yang menata hubungan komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, sesamanya dan mahkluk Allah lainnya termasuk dalam semesta ini serta juga kepada sang pencipta dan pemelihara serta pendidik alam semesta.

Dalam buku Filsafat pendidikan Islam yang ditulis oleh Hasan Basri,dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, hakikat peserta didik terdiri dari beberapa macam :
• Peserta didik adalah darah daging sendiri, orang tua adalah pendidik bagi anak-anaknya maka semua keturunannya menjadi anak didiknya di dalam keluarga.
• Peserta didik adalah semua anak yang berada di bawah bimbingan pendidik di lembaga pendidikan formal maupun non formal, seperti disekolah, pondok pesantren, tempat pelatihan, sekolah keterampilan, tempat pengajian anak-anak seperti TPA, majelis taklim, dan sejenis, bahwa peserta pengajian di masyarakat yang dilaksanakan seminggu sekali atau sebulan sekali, semuanya orang-orang yang menimba ilmu yang dapat dipandang sebagai anak didik
• Peserta didik secara khusus adalah orang –orang yang belajar di lembaga pendidikan tertentu yang menerima bimbingan, pengarahan, nasihat, pembelajaran dan berbagai hal yang berkaitan dengan proses kependidikan.

Beberapa hal yang terkait dengan hakekat peserta didik yaitu[11] :
• Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri.
• Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan
• serta tempo dan iramanya, yang harus disesuiakan dalam proses pendidikan.
• Peserta didik memiliki kebutuhan diantaranya kebutuhan biologis, rasa aman, rasa kasih sayang, rasa harga diri dan realisasi diri.
• Peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari faktor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat dan lingkungan yang mempengaruhinya.
• Peserta didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia, walaupun terdiri dari banyak segi tetapi merupakan satu kesatuan jiwa raga (cipta, rasa dan karsa).
• Peserta didik merupakan obyek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif. Anak didik bukanlah sebagai objek pasif yang biasanya hanya menerima, mendengarkan saja (Abdul Mujib dan Muhaimin, 1993 : 177-181)

C. Potensi/Fitrah Peserta Didik

Manusia merupakan makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna (melebihi malaikat) apabila dapat memerankan tugas kekhalifahannya. Namun jika manusia tidak dapat bertanggungjawab sebagai khalifah Allah dengan baik dan benar, maka kedudukan manusia lebih rendah dari binatang.

Karena itu, agar dapat menjalankan fungsi kekhalifahanya dimuka bumi, manusia di karuniai beberapa kekuatan yang dapat menimbulkan kreativitas untuk menata alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya. Untuk itu, Tuhan menganugerahkan kepada manusia potensi-potensi[12] (fithrah) yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan.[13]

Manusia diciptakan Allah bukan tanpa latar belakang dan tujuan. Hal ini tergambar dalam dialog Allah dan malaikat diawal penciptaannya. Tujuan penciptaan Adam sebagai nenek moyang manusia adalah sebagai khalifah. Dalam kedudukan ini, manusia tidak mungkin mampu melaksanakan tugas kekhalifahannya, tanpa dibelakangi dengan potensi yang memungkinkan dirinya mengemban tugas tersebut.

Muhammad Bin Asyur sebagamana disitir M. Quraish Shihab mendefinisikan fitrah manusia kepada pengertian “fitrah (makhluk) adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Sedangkan fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan kemampuan jasmani dan akalnya”. Dari pengertian tersebut dapat diartiakan bahwa fitrah merupakan potensi yang diberikan Allah kepada manusia sehingga manusia mampu melaksanakan amanat yang diberiakan Allah kepadanya yang meliputi potensi seluruh dimensi manusia.

Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya “setiap anak manusia itu terlahir dalam fitrahnya, kedua orang tuanyalah yang akan mewarnai (anak) nya, apakah menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi” (HR Aswad Bin Sari).

Dari makna hadis diatas memberikan pengertian secara teoritis bahwa semakin baik penempatan fitrah yang dimiliki manusia, maka akan semakin baiklah kepribadiannya. Demikian pula sebaliknya, semakin buruk penempatan fitrah seseorang maka akan semakin buruk sifat dan tingkah lakunya. Namun demikian, pendekatan tersebut hanya sebatas teoritis manusia, sedangkan dosa balik itu dalam islam ada kemungkinan lain, yaitu hidayah dari Allah SWT sebagai penentu yang Maha final.[14]

Dalam perspektif Islam, potensi atau fitrah dapat dipahami sebagai kemampuan atau hidayah yang bersifat umum dan khusus yaitu :
• Hidayah wujdaniyah yaitu potensi manusia yang berwujud insting atau naluri yang melekat dan langsung berfungsi pada saat manusia dilahirkan di muka bumi.
• Hidayah hisysyiyah yaitu potensi Allah yang diberikan kepada manusia dalam bentuk kemampuan
• indrawi sebagai penyempurnaan hidayah wujudiyah.
• Hidayah aqliah yaitu potensi akal sebagai penyempurnaan dari kedua hidayah di atas. Dengan potensi akal ini mampu berpikir dan berkreasi menemukan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari fasilitas yang diberikan kepadanya untuk fungsi kekhalifahannya.
• Hidayah diniyah yaitu petunjuk agama yang diberikan kepada manusia yang berupa keterangan tentang hal-hal yang menyangkut keyakinan dan aturan perbuatan yang tertulis dalam al-Qur’an dan Sunnah
• Hidayah taufiqiyah yaitu hidayah yang sifatnya khusus. Sekalipun agama telah diturunkan untuk keselamatan manusia, tetapi banyak manusia yang tidak menggunakan akal dalam kendali agama. Untuk itu, agama menuntut agar manusia senantiasa berupaya memperoleh dan diberi petunjuk yang lurus berupa hidayah dan taufiq guna selalu berada dalam keridhaan Allah.[15]

Quraish Shihab berpendapat bahwa menyukseskan tugas-tugas kekhalifan di muka bumi, Allah memperlengkapi manusia dengan potensi-potensi tertentu, antara lain :
• Kemampuan untuk mengetahui sifat-sifat, fungsi dan kegunaan segala macam benda. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT : “Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya.” (QS. 2 :31)
• Ditundukkan bumi, langit dan segala isinya, binatang-binatang, planet dan sebagainya olah Allah kepada manusia (QS. 45: 12-13)
• Potensi akal fikiran serta panca indera (QS. 67:23)
• Kekuatan positif untuk merubah corak kehidupan manusia (QS. 13:11)

Disamping potensi yang bersifat di atas, manusia dilengkapi dengan potensi yang bersifat

Disamping potensi yang bersifat di atas, manusia dilengkapi dengan potensi yang bersifat negatif yang merupakan kelemahan manusia, yaitu : pertama, potensi untuk terjerumus dalam godaan hawa, nafsu dan syetan. Hal ini digambarkan dengan upaya syetan menggoda Adam dan Hawa, sehingga keduanya melupakan peringatan Tuhan untuk tidak mendekati pohon terlarang (QS. 20 : 15-24). Kedua, banyak masalah yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, khususnya menyangkut diri, masa depan, dan banyak hal lain yang menyangkut kehidupan manusia.

Dalam pandangan lain, Hasan Langulung memandang bahwa pada prinsipnya potensi manusia menurut pandangan Islam tersimpul pada sifat-sifat Allah (asma’ul husna). Sebagai contoh sifat al-ilmu yang dimiliki Allah, maka manusiapun memiliki tersebut. Dengan sifat al- ilmu, manusia senantiasa berupaya untuk mengetahui sesuatu. Untuk mengaktiftkan potensi ini, maka Allah menjadikan alam dan isinya termasuk diri manusia sebagai ayat Allah yang harus dibaca dan dianalisa. Namun demikian, bukan berarti kemampuan manusia sama tingkatannya dengan kemampuan Allah. Hal ini disebabkan karena perbedaan hakekat keduanya. Manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah tanpa batas. Dari keterbatasan tersebut, menjadikan manusia sebagai makhluk yang memerlukan bantuan untuk memenuhi keinginannya. Keadaan ini menyadarkan manusia akan keterbatasan-nya dan ke-Mahakuasaan Allah. Dengan potensi ini, manusia dituntut untuk senantiasa memiliki jalinan rohani kepada Allah, baik memiliki zikir atau aktivitas zikir lainnya, mengingat manusia adalah ciptaan Allah yang dependen pada yang Maha Pencipta.[16]

Karena adanya potensi yang positif dan negatif serta keterbatasan manusia, maka Allah menganugerahkan kepada manusia berbagai potensi pada manusia agar ia mampu mengetahui hakekat dan petunjuk-petunjuk Allah. Firman Allah SWT :

Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Pengertian fitrah yang ditunjukkan ayat di atas memberi pengertian bahwa manusia ciptaan Allah dengan naluri beragama tauhid yaitu Islam. Namun dalam pengembangan selanjutnya, Hasan Langulung memberi pengertian fitrah yang lebih luas yaitu pada pengertian dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Potensi tersebut merupakan embrio semua kemampuan manusia yang memerlukan penempaan lebih lanjut dan lingkungan insani maupun non insani untuk bisa berkembang. Untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya tersebut, manusia memerlukan bantuan orang lain yaitu proses pendidikan.[17]

D. Tugas dan Tanggungjawab Peserta Didik

Tujuan dari setiap proses pembelajaran adalah menta’lim, mentarbiyah, atau menta’dibkan al-‘ilm ke dalam diri setiap peserta didik. Al-‘ilm yang akan dita’-lim, ditarbiyah, atau dita’dibkan tersebut adalah al-haqq, yaitu semua kebenaran yang datang dan bersumber dari Allah Swt, baik yang didatangkan-Nya melalui Nabi dan Rasul, (al-ayah al-quraniyah), maupun yang dihamparkan-Nya pada seluruh alam semesta, termasuk diri manusia itu sendiri (al-ayah al-kauniyah). Al-‘ilm tersebut merupakan penunjuk jalan bagi peserta didik untuk mengenali dan meneguhkan kembali syahadah primordialnya terhadap Allah Swt sehingga ia mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan keserharian. Karenanya, dalam konteks ini, tugas utama setiap peserta didik adalah mempelajari al-‘ilm dan mempraktikkan atau mengamalkannya sepanjang kehidupan.[18]

Berkenaan dengan tugas utama yang harus dilakukan peserta didik ini, Rasulullah saw melalui salah satu hadis menegaskan : menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat. Proses menuntut atau mempelajari al-‘ilm itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, mengeksplorasi, meneliti, dan mencermati fenomena diri, alam semesta, dan sejarah umat manusial berkontemplasi, berpikir, atau menalar, berdialog, berdiskusi atau bermusyarah, mencontoh atau meneladani, mendengarkan nasehat, bimbingan, pengajaran dan peringatan, memetik ‘ibrah atau hikmah, melatih atau membiasakan diri, dan masih banyak lagi aktivitas belajar lainnya yang harus dilakukan setiap peserta didik untuk meraih al-ilm dan mengamalkannya dalam kehidupan.[19]

Seluruh aktivitas pembelajaran sebagaimana dipaparkan di atas wajib ditempuh atau dilakukan peserta didik dalam proses belajar atau menuntut al-‘ilm. Karenanya, peserta didik tidak boleh mencukupkan aktivitas belajarnya pada suatu aktivitas saja. Dalam berbagai surah, alquran senantiasa menyeru manusia untuk berpikir, mengingat, membaca, mengambil pelajaran, memetik hikmah. Bereksplorasi, bertadabbur, dan sebagainya. Semua itu dimaksudkan agar peserta didik mengembangkan potensi jismiyah dan ruhiyahnya sehingga mampu diberdayakan dalam rangka aktualisasi diri sebagai makhluk yang bersyahadah kepada Allah Swt, beribadah secara tulus ikhlas hanya kepada-Nya, dan menjadi khalifah atau pemimpin dan pemakmur kehidupan dibumi.[20]

Berkenaan dengan tanggung jawab, dalam perspektif falsafah pendidikan Islami, tanggung jawab utama peserta didik adalah memelihara agar semua potensi yang dianugerahkan Allah Swt kepadanya dapat diberdayakan sebagaimana mestinya. Dimensi jismiyah wajib dipelihara, agar secara fisikal peserta didik mampu melakukan aktivitas belajar, meskipun harus melakukan rihlah ke berbagai tempat. Demikian pula, dimensi ruhiyah juga wajib dipelihara, agar bisa difungsikan sebagai energi atau kekuatan untuk melakukan aktivitas belajar. Ketika peserta didik tidak mampu memelihara dimensi jismiyah dan ruhiyahnya, maka energi, daya, atau kemampuan membelajarkan diri akan terganggu, bahkan bisa menjadi tidak mampu. Karenanya, sebagaimana juga dikemukakan Nata, agar tetap mampu melakukan aktivitas belajar, setiap peserta didik memerlukan kesiapan fisik prima, akal yang sehat, pikiran yang jernih, dan jiwa yang tenang. Untuk itu, perlu adanya upaya pemeliharaan dan perawatan secara sungguh-sungguh semua potensi yang bisa digunakan untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan.[21]

Athiyah al-Abrasyi mengemukakan bahwa kewajiban-kewajiban yang harus senantiasa dilakukan peserta didik adalah :
1. Sebelum memulai aktivitas pembelajaran, peserta didik harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari sifat yang buruk, karena belajar mengajar itu merupakan ibadah dan ibadah harus dilakukan dengan hati yang bersih.
2. Peserta didik belajar harus dengan maksud mengisi jiwanya dengan berbagai keutamaan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
3. Bersedia mencari ilmu ke berbagai tempat yang jauh sekalipun, meskipun harus meninggalkan
4. keluarga dan tanah air.
5. Tidak terlalu sering menukar guru, dan hendaklah berpikir panjang sebelum menukar guru.
6. Hendaklah menghormati guru, memuliakan dan mengangungkannya karena Allah serta berupaya menyenangkan hatinya dengan cara yang baik.
7. Jangan merepotkan guru, jangan berjalan dihadapannya, jangan duduk ditempat duduknya, dan jangan mulai bicara sebelum diizinkan guru.
8. Jangan membukakan rahasia kepada guru atau meminta guru membukakan rahasia, dan jangan pula menipunya.
9. Bersungguh-sungguh dan tekun dalam belajar
10. Saling bersaudara dan mencintai antara sesama peserta didik.
11. Peserta didik harus terlebih dahulu memberi salam kepada guru dan mengurangi percakapan dihadapan gurunya.
12. Peserta didik hendaknya senantiasa mengulangi pelajaran, baik diwaktu senja dan menjelang subuh atau diantara waktu Isya’ dan makan sahur
13. Bertekad untuk belajar seumur hidup.[22]

E. Sifat-Sifat Peserta Didik

Sesuai dengan karakter dasarnya, dalam Islam, ilmu itu datangnya dari al-haq dan karenanya ia merupakan al-nur atau cahaya kebenaran yang akan menerangi kehidupan para pencarinya. Sebagai al-haq, Allah Swt maha suci, dan kesuciannya hanya bisa dihampiri oleh yang suci pula. Karenanya, sifat utama dan pertama yang harus dimiliki peserta didik adalah mensucikan diri atau jiwanya (tazkiyah) sebelum menuntut ilmu pengetahuan. Karena maksiat hanya akan mengotori jasmani, akal, jiwa dan hati manusia, sehingga membuatnya sulit dan terhijab dari cahaya, kebenaran, atau hidayah Allah Swt.

Setidaknya ada 3 hal yang menjadi titik fokus perhatian peserta didik dan orang tua dalam mensucikan dirinya secara totalitas. Pertama, suci ruhaniah yaitu peserta didik harus menjauhkan sifat-sifat yang dapat merusakan atau paling tidak yang mengotori jiwa dari sucinya al-nur, atau al-haq. Karena kekotoran jiwa akan mengakibat tertutupnya sinar illahiyah menembus kalbu peserta didik. Ringkasnya al-‘ilm atau al-nur harus di ta’lim, di tarbiyah atau dita’dibkan ke dalam jiwa peserta didik haruslah dalam keadaan suci dan bersih, sehingga ia akan dapat tertanam dan bersemi dengan penuh keberkahan di dalam sanubarinya. Kedua, suci jasmaniah yaitu peserta didik harus mampu menjauhkan dari dari mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang tidak benar baik dari segi jenis mampu sumber diperolehnya makanan/minuman tersebut. Makanan yang tidak benar/jelas, bukan makanan yang diperoleh secara halal, akan mempengaruhi kepribadian peserta didik dalam berperilaku, dan akan susah mendapatkan hidayah kebenaran dari Allah Swt.[23]

Sebab itu, orang tua harus memberi makan peserta didik dengan makanan yang baik dan halal serta bersih, sehingga nusrah Allah akan dapat dengan mudah diterima oleh peserta didik. Disamping itu juga bersih badan dari kotoran, najis serta lainnya yang dapat menggangu kesehatan fisik hidup yang baik. Jangan biasakan peserta didik bergaul dengan lingkungan yang dapat memberi pengaruh yang tidak baik dalam perkembangan kehidupan sosialnya.[24]

Hal ini akan berbias kepada terkontaminasinya pembiasaan yang jelek kepada peserta didik. Makanya orang tau harus dapat menjaga dan mengerti tentang ini, sehingga peserta didik dapat tumbuh dan kembang baik secara ruhaniah, jasmaniah maupun sosialnya dengan penuh kebaikan.[25]

Zainuddin dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, beliau mengutip hadis Shahih Muslim dan Bukhari dalam mengemukakan sifat dan karakter yang dimiliki anak didik. Berikut beberapa sifat dan karakter yang harus dimiliki seorang anak didik:

1) Memiliki sifat tamak dalam menuntut ilmu dan tidak malu-malu. Mujahid berkata, “Pemalu dan orang sombong tidak akan dapat mempelajari pengetahuan agama.” Aisyah berkata, “sebaik-baik kaum wanita adalah kamu wanita sahabat Anshar. Merak tidak dihalang-halangi rasa malu tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.”

2) Selalu mengulang pelajaran di waktu malam dan tidak menyia-nyiakan waktu malam dan tidak
menyia-nyiakan waktu.

3) Memanfa’atkan/mengajarkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki.
4) Memiliki keinginan/motivasi mencari ilmu pengetahuan.[26]

Peserta didik hendaknya berupaya memiliki akhlak mulia, baik secara vertikal maupun horizontal dan senantiasa mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan seperangkat ilmu pengetahuan. Sebagai seorang peserta didik yang berupaya mencari ilmu pengetahuan dan membentuk sikap dengan akhlak mulia, maka menurut Hamka peserta didik dituntut bersikap baik pada setiap guru.[27]

Sikap tersebut meliputi :

1) Jangan cepat putus asa dalam menuntut ilmu
2) Jangan lalai dalam menuntut ilmu dan cepat merasa puas terhadap ilmu yang sudah diperoleh;
3) Jangan merasa terhalang karena faktor usia
4) Hendaklah diperbagus tulisannya supaya orang bsia menikmati hasil karyanya dan membiasakan diri membuat catatan kecil terhadap berbagai ide yang sedang dipikirkan;
5) Sabar, perteguh hati dan jangan cepat bosan dalam menuntut ilmu
6) Pererat hubungan baik dengan guru dan senantiasa hadir dalam majelis ilmiahnya, hormati pendidik sebagai orang yang telah banyak berjasa dalam membimbing ke arah kedewasaan, baik ketika proses belajar maupun setelah menamatkan pelajaran padanya
7) Ikuti instruksi guru dalam setiap proses belajar mengajar dengan khusyu’ dan tekun
8) Berbuat baik terhadap guru dan kedua orang tua, serta amalkan ilmu yang diberikannya bagi kemaslahatan seluruh umat;
9) Jangan menjawab sesuatu yang tidak berfaedah. Biasakan berkata sesuatu yang bermanfaat karena itu sebagai ciri orang yang berilmu dan berfikiran luas;
10) Ciptakan suasana pendidikan yang merespon dinamika fitrah yang dimiliki seperti suasana gembira;
11) Biasakan diri untuk melihat, memikirkan dan melakukan analisa secara seksama terhadap fenomena alam semesta. Dengan ini maka peserta didik akan menyelami kebesaran Allah dan selanjutnya berbuat kebajikan terhadap alam semesta.[28]

F. Etika Peserta Didik

Sebagaimana dijelaskan oleh Asma Fahmi, bahwa setiap peserta didik harus memiliki dan berprilaku dengan etika yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti berikut ini :

1) Setiap peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran sebelum menuntut ilmu, yaitu menjauhkan dari sifat-sifat yang tercela seperti dengki, benci, menghasud, takabur, menipu, berbangga-bangga dan memuji diri serta menghiasi diri dengan akhlak mulia seperti benar, takwa, ikhlas, zuhud, merendahkan diri dan ridha;

2) Hendaklah tujuan belajar itu ditujukan untuk menghiasi ruh dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri dengan Tuhan, dan bukan untuk bermegah-megah dan mencari kedudukan. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ilallalah. Konsekuensi dari sikap ini, peserta didikkan senantiasa mensucikan diri dengan akhlaq al-karimah dalam kehidupan sehari-harinya, serta berupaya meninggalkan watak dan akhlak yang rendah (tercela).

3) Peserta didik tidak menganggap rendah sedikitpun pengetahuan-pengetahuan apa saja karena ia tidak mengetahuinya, tetapi ia harus mengambil bagian dari tiap-tiap ilmu yang pantas baginya, dan tingkatan yang wajib baginya;

4) Peserta didik wajib menghormati pendidiknya
5) Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh serta tabah dalam belajar.[29]

Ibnu Qayyim sendiri menjelaskan ada sebelas etika peserta didik , diantaranya;
1. Jika peserta didik ingin meraih kesempurnaan ilmu, henadklah ia menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan untuk dipandang
2. Mewaspadai terhadap tempat-tempat yang menyebarkan lahwun (hidup kesia-siaan) dan majelis-majelis yang buruk’
3. Bid’ah , sangat berbahaya bagi kebersihan hati.Hati yang telah tercemar noda bid’ah menjadi tidak mampu memahami Alquran, karena tidak bisa memahami Alquran kecuali hati yang suci.
4. Senantiasa menjaga waktunya, dan jangan sekali-kali membuangnya dengan membicarakan hal-hal yang tidak berfaedah, berbohong, dan obrolan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Dan janganlah sekali-kali mengatakan sesuatu yang tidak memiliki ilmu tentangnya
5. Tidak berbicara kecuali ketika jika sudah jelas kebenarannya/ hakikatnya dan telah tampak masalah itu jelas baginya
6. Menghindari diri membanggakan diri dengan harta, kedudukan dan kenikmatan dunia karena sangat dicela oleh syariat
7. Hendaknya mengetahui bahwa hanya dengan ilmu derajat seseorang tidak bisa terangkat kecuali jika ilmu tersebut diamalkan
8. Segera mengamalkan ilmu yang telah didapatinya agar selalu terjaga dan tidak mudah hilang
9. Memiliki pemahaman yang baik dan niat yang lurus, supaya hatinya terjauhkan dari noda-noda bid’ah dan penyimpangan seseorabg
10. Selalu mencari hakikat suatu masalah dan berusaha mendapatkannya dari mana saja sumbernya, sebagaimana wajib atasnya untuk tidak ta’ashshub (fanatic) kepada pendapat seseorang
11. Jika peserta didik itu memiliki keutamaan dengan mendapat balasan dari Allah berupa dilapangkannya
12. jalan menuju surge. Maka sepatutnya para peserta didik senantiasa mangingat pahala yang besar tersebut agar menjadi pendorong baginya untuk senantiasa giat mencari ilmu.[30]

Sedangkan kode etik personal peserta didik yang harus dapat dilaksanakan oleh peserta didik yaitu :
1. Membersihkan hati dari kotoran, sifat buruk, aqidah keliru, dan akhlak tercela.
2. Meluruskan niat, peserta didik harus menuntut ilmu demi Allah untuk menghidupkan syari’at Islam, menyinari hati dan mengasah batin dalam rangka mendekatkan diri kepadaNya. Dengan belajar itu ia bermaksud hendak mengisi jiwanya dengan fadhilah, mendekatkan diri kepada Allah, bukanlah bermaksud menonjolkan diri;
3. Menghargai waktu dengan cara mencurahkan perhatian sepenuhnya bagi urusan menuntut ilmu pengetahuan;
4. Menjaga kesederhanaan makanan dan pakaian. Mengurangi kecederungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrawi. Sifat yang ideal adalah menjadikan kedua dimensi kehidupan (dunia akhirat) sebagai alat yang integral untuk melaksanakan amanat-Nya, baik secara vertikal maupun horizontal;
5. Membuat jadwal kegiatan yang ketat dan teratur. Peserta didik mengalokasikan waktu secara jelas kedalam satu jadwal kegiatan harian yang berisi kegiatan belajar yang relevan
6. Menghindari makan terlalu banyak, yang terbaik adalah sedikit makan, selain makruh makan terlalu banyak juga akan menimbulkan malas dan kantuk bahkan serangan penyakit;
7. Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menyebabkan kebodohan dan lemahnya indera, seperti apel asam, kubis, atau cuka, juga kebanyakan lemak dapat menumpulkan otak dan menggemukan tubuh;
8. Menimalkan waktu tidur, tetapi tidak mengganggu kesehatan. Penuntut ilmu tidak boleh tidur lebih dari delapan ham satu hari satu malam, sebab tidur hanya diperlukan dalam rangka istirahat serta menyegarkan kembali badan dan pikiran untuk kembali belajar.
9. Membatasi pergaulan hanya dengan orang yang bisa bermanfaat bagi pelajar. Teman yang harus dicari ialah orang taat beragama, wara’, cerdas, baik dan gemar membantu, sebab bergaul dengan orang yang kurang peduli ilmu pengetahuan biasanya memboroskan harga serta menyia-nyiakan umur.[31]

Mengenai adab Murid dan Guru Menurut Al-Ghazali, adab murid dan guru itu ada sepuluh bagian:

1. Hendaknya mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadah hatinya,shalatnya jiwa, dan peribadatannya batin kepada Allah.
2. Mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan
3. Tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan seluruh urusannya kepadanya dan mematuhi nasehatnya seperti orang sakit yang bodoh mematuhi nasehat dokter yang penuh kasih sayang dan mahir
4. Orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat
5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mepertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya
6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi menjaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting
7. Hendaklah tidak memasuki satu cabang ilmu sebelum menguasai ilmu yang sebelumnya
8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia
9. Hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan
keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bias berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan.
10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, dan yang penting daripada yang lainnya.[32]

Sementara dalam UU Sisdiknas Tahun 2003 pasal 3 ditegaskan pula bahwa tujuan pendidikan nasional adalah “…untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Dari tujuan ini terlihat jelas bahwa mewujudkna manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia merupakan substansi dari kepribadian yang diinginkan dalam konsep pendidikan Islam itu sendiri.

Demikian pula peserta didik, juga diharapkan tidak terjebak pada paham pragmatisme dan materialisme. Ada kecenderungan ketika peserta didik bersikap demikian, maka guru pun kurang dihormati. Guru hanya dianggap sebagai instrumen atau alat dalam pendidikan. Sebagaimana yang dikenal dalam falsafah alat, ia akan digunakan selagi dibutuhkan. Ketika tidak lagi dibutuhkan, maka guru pun tidak dihormati lagi.

Untuk itu, peserta didik juga harus memahami apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam. Peserta didik yang dalam pandangan pendidikan Islam sering disebut sebagai murid sebenarnya memiliki arti ”orang yang menginginkan”. Artinya, seorang murid atau peserta didik harus menunjukkan sikap yang membutuhkan kehadiran seorang guru. Rasa ”membutuhkan” ini tentu tidak bersifat sesaat ketika ada perlu saja, tetapi dalam pandangan pendidikan Islam, seorang guru tidak hanya dihormati di saat belajar pada sekolah formal saja, sehingga disebut pula bahwa ”tidak ada mantan guru dalam pandangan pendidikan Islam”. Dengan konsep seperti ini maka seorang peserta didik harus menunjukkan sikap kesungguhannya dalam belajar dibarengi dengan adab-nya kepada guru dengan harapan ilmu yang ia peroleh bermanfaat bagi dirinya.

Selain itu, peserta didik juga harus menuntut ilmu didasari oleh motivasi awal, yaitu motivasi karena Allah SWT. Dengan motivasi ini, maka selama dalam menuntut ilmu ia harus meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Hal ini pula yang pernah dialami oleh Imam Syafi’i. Suatu ketika ia pernah meminta nasehat kepada gurunya, Imam Waki’ sebagai berikut: “Syakautu ilâ Waki’in sûa hifzi, wa arsyadani ilâ tarki al-maâhi, fa akhbarani bianna al-‘ilma nūrun, wa nur Allahi la yubdalu al-âshi”. Dari nasehat ini, ada dua hal yang perlu digarisbawahi, pertama, untuk memperkuat ingatan diperlukan upaya meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat; dan kedua, ilmu itu adalah cahaya yang tidak akan tampak dan terlahirkan dari orang yang suka berbuat maksiat. Dengan demikian irsyâd merupakan aktivitas pendidikan yang berusaha menularkan penghayatan (transinternalisasi) akhlak dan kepribadian kepada peserta didik, baik yang berupa etos kerjanya, etos belajarnya, maupun dedikasinya yang serba li Allah Ta’ala.

KESIMPULAN

Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun psikologis (Muhaimin dan Abdul Mujib,1993:177), untuk mencapai tujuan pendidikan melalui lembaga pendidikan.

Dalam perspektif falsafah pendidikan Islam seluruh makhluk ciptaan Allah Swt merupakan peserta didik. Namun secara khusus dalam pendidikan Islam, peserta didik adalah seluruh al insan, al-basyar atau bani adam yang sedang menuju al-insan al-kamil, baik dalam pengertian jismiyah maupun ruhiyah.

Ketiga istilah tersebut yaitu pertama, term mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam arti mutarabbi manusia yang selalu memerlukan pendidikan, baik dalam arti pengasuhan dan pemeliharaan fisik – biologis, penambahan pengetahuan dan keterampilan, tuntunan dan pemeliharaan diri, serta pembimbingan jiwa. Dengan demikian, mutarabbi mampu melaksanakan fungsi dan tugas penciptaan Allah Swt. Tuhan maha pencipta, pemelihara dan pendidik bagi alam semesta. Kedua, muta’allim, peserta didik mempelajari semua al-asma’kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah maupun quraniyah dalam rangka pencapaian pengenalan, peneguhan dan aktualisasi syahadah primordial yang telah pernah ia ikrarkan di hadapan Allah Swt. Kemampuan peserta didik merealisasikan terhadap apa yang pernah ia nyatakan ini merupakan essensi dari peserta didik itu sendiri dalam filsafat pendidikan Islam.

Peserta didik adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing, dimana mereka sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Berdasarkan pengertian ini, maka anak didik dapat dicirikan sebagai orang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.
PENGARUH KEBIJAKAN KELEMBAGAAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Latar Belakang

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan Islam dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan politik pada umumnya, dan kebijakan politik pendidikan khususnya. Azyumardi Azra mencatat bahwa hubungan antara pendidikan dengan politik bukanlah hal baru, karena telah tumbuh sejak masa pertumbuhan madrasah di Timur Tengah.

Pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah dalam berbagai aspek. Upaya perbaikannya belum dilakukan secara mendasar, sehingga terkesan seadanya saja. Selama ini, upaya pembaharuan pendidikan Islam secara mendasar, selalu dihambat oleh berbagai masalah mulai dari persoalan dana sampai tenaga ahli. Padahal pendidikan Islam dewasa ini, dari segi apa saja terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas. Berdasarkan uraian ini, ada dua alasan pokok mengapa konsep pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia sangat mendesak, yaitu:

1. Konsep dan praktik pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Maka perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani.

2. Lembaga- lembaga pendidikan Islam yang dimiliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang.

Di samping itu, Kemunduran umat Islam sebagian besar dikarenakan tertinggalnya ia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut para pakar terdapat suatu korelasi pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kekuatan poltik dan ekonomi. Masyarakat Islam selalu kalah dalam politik dan ekonomi diantaranya karena umat Islam tidak dapat mengusai dan melakukan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih lanjut, di dalam kehidupan politik dan ekonomi kita lihat adanya fase-fase perkembangan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Fase-fase tersebut ialah fase perbudakan, feodaisme, industrialisasi, dan masa depan ialah era ilmu pengetahuan. Era ilmu pengetahuan berarti semakin luas penyebaran dan kontrol ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Hal ini berarti suatu masyarakat atau bangsa yang tidak menguasai dan mengontrol ilmu pengetahuan berarti akan kehilangan kekuatan politik dan ekonominya.

Masyarakat masa depan adalah masyarakat yang berkembang atas dasar penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Apabila ilmu pengetahuan merupakan faktor yang sangat menentukan di dalam kehidupan umat manusia masa depan, maka ini artinya lembaga-lembaga pendidikan haruslah menyesuaikan diri dengan tuntutan masa depan tersebut. Visi dan misi lembaga pendidikan (Islam) harus berubah sebagai tempat untuk mempersiapkan sumberdaya manusia masa depan yang menguasai ilmu pengetahuan dan mengembangkannya, serta memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup manusia.

Dalam prespektif Islam, pendidikan bukan hanya diimplementasikan sebagai alat transformasi ilmu (transfer of knowledge) dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi lebih dari itu pendidikan merupakan transformasi sosial (transformation of society) yang bersumber dan berakar dari ajaran-ajaran Islam yang integral dan universal, karena Al-Qur’an mengintroduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk kejalan yang lurus sebagaimana yang tercantum dalam Q.S.Al-Baqarah ayat 9.

Disamping itu juga, Islam dipahami sebagai pandangan hidup bukan semata-mata bersifat ritual belaka. Hal ini memungkinkan tercapainya tujuan yang komprehensif, yaitu memelihara keselarasan rohani, jasmani, dan akal manusia. Islam universal dipahami bukan agama pribadi dan agama perseorangan dari Bangsa Arab, namun sebaiknya harus dianggap sebagai idiologi sempurna yang memberi petunjuk kehidupan masyarakat universal.[1]

Secara umum, dapat diambil entry point bahwa tujuan pendidikan adalah beribadah pada Allah SWT dalam pengertian yang luas, meliputi masalah-masalah ritual dan sosial dengan maksud untuk melaksanakan tugas kekhalifahan dimuka bumi ini. Rumusan ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 30.

B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari uraian latar belakang di atas, maka dapat difahami bahwa pendidikan terutama Pendidikan Agama Islam, perlu melakukan pembaharuan yang cukup efektif dan sinergis dengan konsep keberagaman untuk dapat melakukan transformasi nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Dan untuk menyederhanakan serta mempermudah permasalahan dalam perumusan masalah ini, pemakalah akan mengkrucutkan masalah tersebut sebagai berikut:

1. Apakah konsep pendidikan multikultural strategis untuk dijadikan sebagai alas pembaharuan pendidikan islam?
2. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi dalam kebijakan pendidikan islam?

Bab II Pembahasan

A. Pendidikan Multikultural Sebagai Alas Pembaruan Pendidikan Islam

Pengertian pembaharuan dalam banyak penggunaannya sering dikacaukan dengan istilah-istilah lain yang sekilas tampak sama, seperti perubahan dan inovasi. Memang, pada hakekatnya semua istilah tersebut mempunyai pengertian melakukan sesuatu yang baru diluar konsep-konsep yang konvensional.

Untuk mengantisipasi dan menghindarkan pengertian yang tidak jelas mengenai ketiga istilah tersebut, perlu diuraikan lebih lanjut perbedaan dari ketiganya. Perbedaan istilah-istilah tersebut, yaitu :[2]

1. Perubahan; mempunyai arti yang sangat luas dan tidak selalu harus berarti peningkatan. Istilah ini mempunyai konotasi baik dengan kemajuan maupun dengan kemunduran.

2. Inovasi; dalam hubunganya dengan pendidikan diinterpretasikan sebagai peningkatan dari tekhnik pendidikan yang relatif bersifat pragmatis. Dan secara umum hal ini terbatas pada perubahan dan peningkatan dari tekhnik pendidikan yang telah ada, dan tidak mutlak harus bertentangan secara fundamental dengan praktek yang telah ada sebelumnya.

3. Pembaharuan; istilah ini juga berhubungan dengan peningkatan yang secara umum meliputi beberapa aspek inovasi, tetapi yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi pengertian inovasi yang terlepas dari pendidikan, inovasi bisa didefenisikan sebagai:[3] “Proses tertentu yang dilakukan seseorang dengan melalui pendayagunaan pemikiran, kemampuan imajinasi, berbagai stimulan dan individu yang mengelilinginya, yang berusaha menghasilkan produk baru, baik bagi dirinya atupun bagi lingkungannya”

Dan definisi pembaharuan pendidikan adalah :[4] Perubahan baru dan kualitatif yang berbeda dari hal yang telah ada sebelumnya, serta sengaja diupayakan untuk meningkatkan kemampuan guna tujuan tertentu dalam dunia pendidikan.

Jadi dari beberapa definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa istilah perubahan lebh luas dan umum dari pada inovasi dan pembaharuan, dan istilah pembaharuan, khususnya dalam dunia pendidikan, lebih luas cakupannya dari pada inovasi, karena pembaharuan adalah perubahan yang cukup mendasar dalam pendidikan, baik sasaran maupun kebijakan-kebijakan serta landasan yang tergolong fundamental dalam sistem pendidikan.

Dalam perkembangannya, pendidikan tidak akan lepas dari interaksi manusia sebagai satu kesatuan yang utuh. Realitas integralisasi manusia sebagai makhluk sosial di satu sisi, dan keberagaman etnis, budaya, agama serta perbedaan interprestasi dan dialektika di sisi yang lain, bagaikan dua keping mata uang yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Intensitas manusia sebagai makhluk sosial lebih dominan dibanding intensitas manusia sebagai makhluk yang harus taat dan patuh terhadap Tuhannya. Artinya, fakta bahwa umat manusia tidak bisa mengesampingkan keshalehan sosial dan lebih mengagungkan kesalehan individu tak dapat terelakan, apalagi dalam konteks era globalisasi kekinian.

Realitas manusia yang pluralis tersebut, menuntut pendidikan untuk lebih akomodatif dan aspiratif terhadap kehegemonikan serta tidak bersifat mengekang dan diskriminatif terhadap masyarakat arus bawah yang nota bene termarginalkan. Dengan kata lain, diperlukan pendidikan yang dapat memberikan “solusi konstruktif” sehingga akan terjadi pembaharuan pendidikan disegala aspek tanpa diikat oleh sekat-sekat etnik, budaya, agama, ras, dan lain sebagainya termasuk didalamnya perbedaan pandangan dan keyakinan interprestasi intra agama.

Konsep pembaharuan pendidikan tersebut harus difahami tidak secara sempit. Artinya. interprestasi pembaharuan pendidikan tidak hanya sebatas pembaharuan dalam konteks fisik semata, tetapi lebih dari itu pembaharuan pendidikan dapat difahami sebagai pembaharuan dalam konteks multidimensial, meliputi kejiwaan dan psikologis peserta didik. Pembangunan gedung-gedung bertingkat dan pengadaan sarana dan pra sarana yang relatif memadai dan tersebar di pelosok-pelosok pedesaan, bukanlah implementasi dari pembaharuan pendidikan yang paling urgens. Yang harus dijadikan skala prioritas adalah bagaimana pendidikan bisa dijadikan sebagai wahana yang benar-benar mencerahkan, bukannya mengekang, atau sebagai alat merefleksikan potensi diri, bukannya sebagai alat pelanggeng kekuasaan, atau sebagai sarana kebutuhan akan eksistensinya sebagai makhluk Tuhan, bukannya sarana untuk menanamkan permusuhan antar sesama.

Dalam proses pembaharuannya umat Islam harus mampu menciptakan model-model pendidikan yang dapat menyentuh berbagai aspek, yaitu yang mampu mengembangkan “agent of technology and culture”.[5] Dalam model ini mampu mendobrak pola pikir konservatif, yang pada dasarnya dogmatis, kurang dinamis, dan berkembang secara bebas.

Pembaharuan pendidikan sejatinya adalah dimana setiap manusia mempunyai kedudukan dan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Konsep pembaharuan pendidikan seperti ini mempunyai kekuatan hukum yang cukup representatif, dimana dalam UUD’45 Bab XVIII Pasal 31 Ayat 1 tentang Pendidikan dan Kebudayaan, disebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. Dari aplikasi pembaharuan pendidikan diatas, dan ditambah dengan diperlukannya pendidikan yang realistis dan relevan dalam konteks masyarakat yang plural dan hegemonik seperti realita yang terjadi di Indonesia ini, maka alternatif pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang berorientasikan kepada rakyat dan berwawasan multikultural.

Pembaharuan pendidikan yang berorientasikan kepada rakyat direflesikan melalui satu bentuk “simbiosis mutualisme”, dimana masing-masing saling berkaitan dan menguntungkan antara pendidik dan peserta didik dengan berusaha menghilangkan dikotomi subject dan object pendidikan. Pendidikan kerakyatan timbul bukan karena ketidakmengertian arti filosofis Pasal 31 UUD’45, melainkan karena kebingungan realitas dalam menghadapi berbagai perilaku inkonsistensi, terutama dalam berbagai kebijakan pemerintah.[6] Secara realita, pendidikan banyak diperuntukan bagi mereka yang mendapatkan kelayakan (kebanyakan bersifat material) dan sesuai dengan syarat-syarat zaman yang multi komplek. Hal ini bisa dilihat dari tingkat partisipatoris mayarakat miskin terhadap pendidikan. Agenda penting tersebut merupakan wacana kerakyatan dalam memperoleh keadilan untuk mencerdaskan dirinya agar bisa kompetitif dengan masyarakat lain.

Adapun pendidikan multikultural adalah implementasi strategis dari pendidikan yang berorientasikan kerakyatan tersebut, karena pendidikan multicultural mengidentifikasikan diri dalam tiga lapis diskursus kemasyarakatan, yaitu masalah kebudayaan, kebiasaan dan pola-pola kelakuan yang hidup ditengah-tengah masyarakat, serta kegiatan atau kemajuan tertentu (achievement) dari kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang merupakan identitas yang melekat pada kelompok tersebut.[7]

Pendidikan multikultural mempunyai beberapa karakteristik dalam pengimplementasiannya, karekteristik dari pendidikan multikultural tersebut meliputi tujuh komponen, yaitu :[8]

1. Belajar hidup dalam perbedaan,
2. Membangun tiga aspek mutual (saling percaya, saling pengertian, dan saling menghargai),
3. Terbuka dalam berfikir,
4. Apresiasi dan interdependensi,
5. Resolusi konflik dan rekonsiliasinir kekerasan.

Kemudian dari karakteristik-karakteristik tersebut, diformulasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an sebagai back up strategis, bahwa konsep pendidikan multikultural ternyata selaras dengan ajaran-ajaran Islam dalam mengatur tatanan hidup manusia di muka bumi ini, terutama sekali dalam konteks pendidikan, yaitu:

1. Karakteristik belajar hidup dalam perbedaan. Selama ini pendidikan lebih diorientasikan pada tiga pilar pendidikan, yaitu menambah pengetahuan, pembekalan keterampilan hidup (life skill), dan menekankan cara menjadi “orang” sesuai dengan kerangka berfikir peserta didik. Kemudian dalam realitas kehidupan yang plural, ketiga pilar tersebut kurang mumpuni dalam menjawab relevansi masyarakat yang semakin majemuk. Maka dari itu diperlukan satu pilar strategis yaitu belajar saling menghargai akan perbedaan, sehingga akan terbangun relasi antara personal dan intra personal. Dalam terminology Islam, realitas akan perbedaan tak dapat dipungkiri lagi, sesuai dengan Q.S. Al-Hujurat:13 yang menekankan bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang terdiri dari berbagai jenis kelamin, suku, bangsa, serta interprestasi yang berbeda-beda. Hal ini juga dipertegas dengan sikap Nabi yang berdiam diri ketika ada dua sahabatnya yang berbeda pendapat dalam suatu ketentuan hukum.

2. Membangun tiga aspek mutual, yaitu membangun saling percaya (mutual trust), memahami saling pengertian (mutual understanding), dan menjunjung sikap saling menghargai (mutual respect). Tiga hal ini sebagai konsekuensi logis akan kemajemukan dan kehegemonikan, maka diperlukan pendidikan yang berorientasi kepada kebersamaan dan penanaman sikap toleran, demokratis, serta kesetaraan hak. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan akan pentingnya saling percaya, pengertian, dan menghargai orang lain, diantaranya ayat yang menganjurkan untuk menjauhi berburuk sangka dan mencari kesalahan orang lain (Q.S. al-Hujurat:12), tidak mudah memvonis dan selalu mengedepankan klarifikasi (Q.S. al-Hujurat:6), serta ayat yang menegaskan prinsip tidak ada paksaan (Q.S. al-Baqoroh:256).

3. Terbuka dalam berfikir. Pendidikan seyogyanya memberi pengetahuan baru tentang bagaimana berfikir dan bertindak, bahkan mengadopsi dan beradaptasi terhadap kultur baru yang berbeda, kemudian direspons dengan fikiran terbuka dan tidak terkesan eksklusif. Peserta didik didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir sehingga tidak ada kejumudan dan keterkekangan dalam berfikir. Penghargaan al-Qur’an terhadap mereka yang mempergunakan akal, bisa dijadikan bukti representatif bahwa konsep ajaran Islampun sangat responsif terhadap konsep berfikir secara terbuka. Salah satunya ayat yang menerangkan betapa tingginya derajat orang yang berilmu (Q.S. al-Mujadallah:11), atau ayat yang menjelaskan bahwa Islam tidak mengenal dogmatisme (Q.S. al-Baqarah:170).

4. Apresiasi dan interdependensi. Karakteristik ini mengedepankan tatanan social yang care (peduli), dimana semua anggota masyarakat dapat saling menunjukan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan, kohesi, dan keterkaitan sosial yang rekat, karena bagaimanapun juga manusia tidak bisa survive tanpa ikatan sosial yang dinamis. Konsep seperti ini banyak termaktub dalam al-Qur’an, salah satunya Q.S. al-Maidah:2 yang menerangkan betapa pentingnya prinsip tolong menolong dalam kebajikan, memelihara solidaritas dan ikatan sosial (takwa), dengan menghindari tolong menolong dalam kejahatan.

5. Resolusi konflik dan rekonsiliasinir kekerasan. Konflik dalam berbagai hal harus dihindari, dan pendidikan harus mengfungsikan diri sebagai satu cara dalam resolusi konflik. Adapun resolusi konflik belum cukup tanpa rekonsiliasi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan (forgiveness). Pemberian ampun atau maaf dalam rekonsiliasi adalah tindakan tepat dalam situasi konflik komunal. Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia harus mengedepankan perdamaian, cinta damai dan rasa aman bagi seluruh makhluk (Q.S. asy-Syura:40), dan secara tegas al-Qur’an juga menganjurkan untuk memberi maaf, membimbing kearah kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja dengan prinsip kasih sayang (Q.S. Ali Imran:139).

Berangkat dari pemahaman karakteristik diatas, pendidikan multikultural adalah gerakan pembaharuan dan inovasi pendidikan dalam rangka menanamkan kesadaran pentingnya hidup bersama dalam keragaman dan perbedaan, dengan spirit kesetaraan dan kesederajatan, saling percaya, saling memahami dan menghargai persamaan, perbedaan dan keunikan agama-agama, sehingga terjalin suatu relasi dan interdependensi dalam situasi saling mendengar dan menerima perbedaan pendapat dalam pikiran terbuka, untuk menemukan jalan terbaik mengatasi konflik dan menciptakan perdamaian melalui kasih sayang antar sesama.[9]

Maka dari itu implementasi pendidikan multikultural tidak akan lepas dari konsep-konsep pembaharuan pendidikan, karena pembaharuan pendidikan mempunyai konsep konstruktif yang membentuk terwujudnya pendidikan multikultural. Dalam melakukan pembaharuan, pendidikan diharapkan mengorientasikan tujuannya lebih bersifat problematis, strategis, aspiratif, menyentuh aspek aplikasi, serta dapat merespon kebutuhan masyarakat.[10] Kemudian dari kerangka ini, tujuan yang dirumuskan meliputi aspek ilahiyyah (teoritis), fisik dan intelektual, kebebasan (liberal), akhlak, profesionalisme, berkualitas, dinamis, dan kreatif sebagai insan kamil dalam kehidupannya.

B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Pendidikan Islam

1. Faktor Agama

Visi pendidikan Islam sesungguhnya melekat pada visi ajaran Islam itu sendiri yang terkait dengan visi kerasulan para Nabi, mulai dari visi kerasulan Nabi Adam AS. hingga kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu membangun sebuah kehidupan manusia yang patuh dan tunduk kepada Allah SWT, serta membawa rahmat bagi seluruh alam.

Berkaitan dengan visi rahmatan lil alamin sebagaimana firman Allah SWT. (QS. 21: 107), Imam al-Maraghi mengatakan sebagai berikut. Bahwa yang dimaksud dengan ayat 107 surat al-Ambiya yang artinya : “Tidaklah Aku utus engkau Muhammad melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam adalah bahwa tidaklah Aku utus engkau Muhammad dengan al-Qur’an ini serta berbagai perumpamaan dari ajaran agama dan hukum yang menjadi dasar rujukan untuk mencapai bahagia dunia dan akhirat melainkan agar menjadi rahmat dan petunjuk bagi mereka dalam segala urusan kehidupan dunia dan akhiratnya.

Visi pendidikan Islam yang bertumpu pada mewujudkan rahmat bagi seluruh alam itu, memperlihatkan bahwa pendidikan Islam memiliki sebuah tanggung jawab yang amat berat, kompleks, multidimensi dan berjangka panjang. Visi pendidikan Islam terkait erat dengan upaya mewujudkan sebuah tata kehidupan yang harmoni, aman, damai, sejahtera lahir dan batin.

Sedangkan misi ajaran Islam yang memuliakan manusia yang demikian itu, menjadi misi pendidikan Islam. Terwujudnya manusia yang sehat jasmani, rohani dan akal pikiran, serta memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, akhlak yang mulia, keterampilan hidup (skill life) yang memungkinkan ia dapat memanfaatkan berbagai peluang yang diberikan oleh Allah termasuk pula mengelola kekayaan alam yang ada di daratan, di lautan, bahkan di ruang angkasa adalah merupakan misi pendidikan Islam.

Dalam perspektif Islam, tanggung jawab pendidikan dengan segala jenisnya tidak hanya berdimensi duniawi, melainkan juga berdimensi ukhrawi dalam satu kesatuan yang integral. Sehingga pendidikan Islam mempunyai tanggung jawab membantu setiap pribadi muslim untuk merealisasikan misi hidupnya, seperti yang digariskan Allah SWT.

Di atas misi kemanusiaan itulah pendidikan Islam berpijak untuk menciptakan kondisi yang ideal bagi terbentuknya pribadi-pribadi muslim dan untuk selanjutnya membentuk tatanan masyarakat Islami yang dinamis.

Ketika menghadapi tantangan-tantangan modernisasi dan polarisasi ideologi dunia, terutama didorong oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, pendidikan Islam tidak terlepas dari tantangan yang menuntut jawaban segera. Secara garis besar tantangan-tantangan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Terdapat kecenderungan perubahan sistem nilai untuk meninggalkan sistem nilai yang sudah ada (agama). Standar-standar kehidupan dilaksanakan oleh kekuatan-kekuatan yang berpijak pada materialisme dan sekularisme. Dan inilah titik sentral masalah modernisasi yang menjadi akar timbulnya masalah-masalah di semua aspek kehidupan manusia, baik aspek sosial, ekonomi, budaya maupun politik.

b. Adanya dimensi besar dari kehidupan masyarakat modern yang berupa pemusatan pengetahuan teoritis. Ini berarti bertambahnya ketergantungan manusia pada ilmu pengetahuan dan informasi sebagai sumber strategis pembaharuan. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan menimbulkan depersonalisasi dan keterasingan dalam dunia modern.

Dalam menghadapi tantangan di atas, sudah barang tentu pendidikan Islam harus memperhitungkan kekuatan arus yang mengitarinya seperti sistem Barat yang bercorak sekuler dan telah memasuki semua aspek kehidupan manusia. Begitu juga halnya modernisasi harus dipahami sebagai proses alamiah dalam evolusi kehidupan manusia.

2. Faktor Ideologi Negara

Antara pendidikan Islam dan pendidikan nasional Indonesia tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal ini dapat ditelusuri dari dua segi: Pertama, dari konsep penyusunan sistem pendidikan nasional Indonesia itu sendiri. Kedua, dari hakikat pendidikan Islam dalam kehidupan beragama kaum muslimin di Indonesia.

Penyusunan suatu sistem pendidikan nasional harus mementingkan masalah-masalah eksistensi umat manusia pada umumnya dan eksistensi bangsa Indonesia pada khususnya baik dalam hubungannya dengan masa lampau, masa kini dan kemungkinan-kemungkinan perkembangan masa depan.

Eksistensi bangsa Indonesia terwujud dengan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka, bersatu dan berdaulat penuh. Bangsa Indonesia telah bertekad bulat untuk membangun dan mengembangkan bangsa dengan Pancasila sebagai landasan Ideologi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusionalnya.

3. Faktor Perkembangan Masyarakat

Perkembangan masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya mau tidak mau akan menuju kepada masyarakat informasi (informatical society) sebagai kelanjutan atau perkembangan dari masyarakat industri atau modern. Jika masyarakat modern memiliki ciri-ciri rasional, berorientasi ke depan, bersikap terbuka, menghargai waktu, kreatif, mandiri dan inovatif, maka pada masyarakat informasi ciri-ciri tersebut belum cukup. Pada masyarakat informasi, manusia selain harus memiliki ciri-ciri masyarakat modern pada umumnya, juga harus memiliki ciri-ciri lain, yaitu menguasai dan mampu mendaya gunakan arus informasi, mampu bersaing, terus menerus belajar (serba ingin tahu), mampu menjelaskan, imajinatif, mampu mengubah tantangan menjadi peluang, dan menguasai kemampuan menggunakan berbagai metode dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.

Peran media elektronik yang demikian besar akan menggeser agen-agen sosialisasi yang berlangsung secara tradisional seperti yang dilakukan orang tua, guru, pemerintah dan sebagainya. Komputer dapat menjadi teman bermain, orang tua yang akrab, guru yang memberi nasehat, juga sewaktu-waktu dapat memberikan jawaban segera terhadap pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan mendasar.

Kemajuan dalam bidang informasi tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Pada era informasi yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang berorientasi ke depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan dan ciri-ciri lain sebagaimana dimiliki oleh masyarakat modern.

Itulah gambaran masa depan yang akan terjadi, dan umat manusia mau tidak mau harus menghadapinya. Masa depan yang demikian itu selanjutnya akan mempengaruhi dunia pendidikan, baik dari kelembagaan, materi pendidikan, guru, metode, sarana dan prasarana dan lain sebagainya. Hal ini pada gilirannya menjadi tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam. Hal ini perlu dilakukan jika dunia pendidikan Islam ingin tetap bertahan secara fungsional dalam memandu perjalanan umat manusia.

4. Faktor Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Kemajuan teknologi dalam tiga dasawarsa ini telah menampakkan pengaruhnya pada setiap dan semua kehidupan individu, masyarakat dan negara. Dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang dapat menghindar dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), IPTEK bukan saja dirasakan individu, akan tetapi dirasakan pula oleh masyarakat, bangsa dan negara.

Kehadiran IPTEK di negara-negara maju, sudah lama dirasakan pengaruhnya, karena pada negara-negara tersebutlah kemajuan itu mula-mula dicapai. Sebaliknya bagi negara-negara berkembang, pengaruh tersebut baru mulai dirasakan antara lain seperti dalam bidang informasi, buku-buku, media TV, radio, video, internet dan lain sebagainya.

Sekarang yang menjadi persoalan sekaligus pertanyaan bagi kita tentunya adalah bagaimana dengan eksistensi pendidikan Islam dalam menghadapi arus perkembangan IPTEK yang sangat pesat tersebut. Bagaimanapun tampaknya pendidikan Islam (terutama lembaganya) dituntut untuk mampu mengadaptasikan dirinya dengan kondisi yang ada. Disamping dapat mengadaptasi dirinya, pendidikan Islam juga dituntut untuk menguasai IPTEK, dan kalau perlu merebutnya.

Kenyataan untuk merebut teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut adalah sangat penting, sebab sekarang pembangunan nasional diarahkan dengan orientasi pada teknologi industri, dalam hal ini tak terkecuali dalam bidang pendidikan.

Marquee Text Generator - http://www.marqueetextlive.com

free photo rating

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s