KURIKULUM PENDIDIKAN

Pernyataan 1:

Tahun 2013 ini (sekitar awal bulan mei) pemerintah akan ditetapkan pemberlakuan kurikulum baru 2013 (sebagai kelanjutan kurikulum KTSP tahun 2006).

Salah satu alasan perubahan kurikulum tersebut, antara lain (standar kompetensi lulusan pendidikan di Indonesia belum dapat berkompetisi di dunia internasional, dan pembentukan karakter peserta didik yang masih lemah).

Untuk tercapainya tujuan perubahan kurikulum baru tersebut, seorang guru dituntut tidak sekedar mengajar tetapi sekaligus mendidik (sehingga peserta didik tidak sekedar cerdas, tetapi memiliki akhlak yang baik, dan terampil/ bertanggung jawab).

Jika tidak ada perubahan, kurikulum baru 2013, kurikulum pendidikan agama yg semula 2 jam dalam 1 minggu, menjadi 4 jam.

 

PERTANYAAN

1. Bagaimana pendapat saudara tentang perubahan   kurikulum 2013 mendatang. Berikan penjelasan dan alasan secukupnya.

Pernyataan  2

Pengembangan kurikulum merupakan proses untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum KTSP yang telah berjalan sekitar 6 tahun ini belum dapat memenuhi tujuan pendidikan nasional, sehingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menggagas perlunya pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi pada setiap satuan pendidikan.

Gagasan tersebut nampaknya sangat berlebihan, sebab secara kuantitatif prestasi pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan yg cukup baik (misalnya  hasil UN setiap tahun meningkat, beberapa siswa indonesia berhasil menjuari lomba tingkat internasional. Disamping itu setiap satuan pendidikan telah mengajarkan mapel agama, PKN, malahan di madrasah mapel agama jumlahnya cukup banyak.

Tugas yang perlu di selesaikan adalah:

  1. Mengapa tujuan pendidikan nasional dianggap belum berhasil, meskipun standart UN selalu meningkat setiap tahunnya dan beberapa siswa Indonesia berhasil dalam ajang internasional?
  2. Sebagai kepala madrasah/sekolah, bapak dan ibu  dituntut untuk melakukan penyempurnaan KTSP yang telah ada, agar pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi dapat berhasil tanpa harus menambah jam pelajaran (karena beban peserta didik makin berat). Apa yang harus bapak & ibu  kerjakan/ lakukan untuk menyempurnakan KTSP di madrasah/ sekolah yg sudah ada?

1. Bagaimana pendapat saudara tentang perubahan   kurikulum 2013 mendatang. Berikan penjelasan dan alasan secukupnya.

Jawaban 1

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, sudah dikenal beberapa macam kurikulum yang pernah diterapkan dan dipakai di dunia pendidikan seperti Kurikulum ’76, Kurikulum’84, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 (KBK), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Menurut  hemat saya bahwa perubahan kurikulum adalah hal yang pasti, sebagai upaya untuk mengikuti perkembangan sains, teknologi dan seni serta tuntutan kebutuhan masyarakat. Akan diberlakukannya kurikulum 2013 di awal tahun pelajaran yang akan datang menimbulkan pendapat pro dan kontra, namun rupanya pemerintah (kementrian) berkukuh untuk tetap menyelenggarakannya. Keresahan para guru bukan tanpa sebab, karena banyak yang belum tahu perubahan apa saja dalam kurikulum. Secara filosofis kurikulum 2013 berbasis kepada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Sementara perubahan kurikulum lebih berorientasi kepada pengembangan kompetensi.

Salah satu hal yang menarik dalam perubahan kurikulum adalah penyempurnaan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing karakter bangsa. Begitu pentingkah metode pembelajaran? Bagaimana membangun karakter dari nilai budaya bangsa? Ragam metode pembelajaran adalah bentuk cara-cara penyampaian materi supaya efektif dan mudah dipahami oleh peserta didik. Metode pembelajaran yang berpusat kepada murid (active learning), dan populer disebut dengan cara belajar siswa aktif. Pendekatan semacam ini sebenarnya telah dikenalkan semenjak kurikulum 1984, pendekatan pengajarannya berpusat pada siswa melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dan diarahkan pada perkembangan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Perubahan kurikulum memberikan banyak harapan akan perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, meski pada kenyataannya ide bagus dan tujuan mulia tersebut kerap tersungkur di lapangan. Implementasi kurikulum akan bersintuhan langsung dengan guru-guru yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Apabila guru sebagai ujung tombak tidak memiliki kecakapan-kecakapan profesional sebagaimana yang dipersyaratkan maka tidak tertutup kemungkinan strategi dan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) akan kembali terjeremus kepada plesetan Catat Buku Sampai Abis. Kenapa demikian? Semua berkenaan dengan kemampuan dan kemauan guru untuk mengembangkan diri baik dari sisi penguasaan materi sebagai syarat profesionalisme mau pun penguasaan paedagogik. Bukan hal yang mudah, ketika guru-guru yang ada di sekolah hanya menjadi sebagai pentransfer ilmu dan menganggap dirinya selalu lebih tahu daripada peserta didik. Guru belum bisa bertindak sebagai fasilitator yang melayani klien (peserta didik) untuk mengembangkan diri.

Namun perlu dipertimbangkan juga bahwa kurikulum 2013 apakah tidak akan membuat ribuan bahkan jutaan guru kehilangan pekerjaan sebab akan ada banyak kelebihan guru ditengah minimnya jam mengajar yang akan diterapkan pemerintah melalui kurikulu 2013 ini.

Kurikulum 2013 cenderung mematikan kreatifitas guru dan tidak mempertimbangkan konteks budaya lokal, Kurikulum 2013 guru akan diberikan buku pegangan dan silabus yang isinya sama sekali tanpa memikirkan konteks lokal. Kurikulum 2013 bersifat sentralistik, dan bertentangan dengan semangat reformasi yang menghendaki desentralisasi, yaitu desentralisasi pengelolaan pendidikan. Lagipula Kebijakan perubahan kurikulum inipun dinilai terburu-buru.

2.1. Mengapa tujuan pendidikan nasional dianggap belum berhasil, meskipun standart UN selalu meningkat setiap tahunnya dan beberapa siswa Indonesia berhasil dalam ajang internasional?

Jawaban 2.1

 

Untuk meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di lndonesia. Dengan masukan ilmiah ahli itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai.

Masukan ilmiah yang disampaikan para ahli dari negara-negara yang berhasil menerapkannya, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru dan Singapura selalu memunculkan konsep yang tidak selalu bisa diadopsi dan diadaptasi. Karena berbagai macam latar yang berbeda. Situasi, kondisi, latar budaya dan pola pikir bangsa kita tentunya tidak homogen dengan negara-negara yang diteladani. Malahan, konsep yang di impor itu terkesan dijadikan sebagai “proyek” yang bertendensi pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Artinya, proyek bukan sebagai alat melainkan sebagai tujuan.

Beberapa penerapan pola peningkatan mutu di Indonesia telah banyak dilakukan, namun masih belum dapat secara langsung memberikan efek perbaikan mutu. Di antaranya adalah usaha peningkatan mutu dengan perubahan kurikulum dan proyek peningkatan lain; Proyek Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), Proyek Perpustakaan, Proyek Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM), Proyek Bantuan lmbal Swadaya (BIS), Proyek Pengadaan Buku Paket, Proyek Peningkatan Mutu Guru, Dana Bantuan Langsung (DBL), Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS) dan Bantuan Khusus Murid (BKM). Dengan memperhatikan sejumlah proyek itu, dapatlah kita simpulkan bahwa pemerintah telah banyak menghabiskan anggaran dana untuk membiayai proyek itu sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Upaya pemerintah yang begitu mahal belum menunjukkan hasil menggembirakan. Ada yang berpendapat mungkin manajemennya yang kurang tepat dan ada pula yang mengatakan bahwa pemerintah kurang konsisten dengan upaya yang dijalankan. Karena itu, kembali pada apa yang kita sebut sebagai kekayaan lokal, bahwa tidak sepenuhnya apa yang dapat dipraktikkan dengan baik di luar negeri bisa seratus persen juga berhasil di Indonesia, semua itu membutuhkan tahapan, namun dengan kerangka yang jelas dan tidak dibebani oleh proyek yang demi kepentingan sesaat atau golongan. Hal-hal berikut adalah elemen dasar bagaimana kita dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Insan Pendidikan Patut Mendapatkan Penghargaan Karenaitu Berikanlah Penghargaan

“Manajemen Sumber Daya Manusia” mengatakan, penghargaan diberikan untuk menarik dan mempertahankan SDM karena diperlukan untuk mencapai saran-saran organisasi. Staf (guru) akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, bonus dan komisi) maupun penghargaan instrinsik (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karir). Mc. Keena & Beech (1995 : 161).

Manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memiliki lima tingkatan (hierarchy of needs) yakni, mulai dari kebutuhan fisiologis (pangan, sandang dan papan), kebutuhan rasa aman ( terhindar dari rasa takut akan gangguan keamanan), kebutuhan sosial (bermasyarakat), kebutuhan yang mencerminkan harga diri, dan kebutuhan mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat. Abraham H. Maslow

Pendidik dan pengajar sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.

Meningkatkan Profesionalisme Guru dan Pendidik

Kurikulum dan panduan manajemen sekolah sebaik apapun tidak akan berarti jika tidak ditangani oleh guru profesional. Karena itu tuntutan terhadap profesinalisme guru yang sering dilontarkan masyarakat dunia usaha/industri, legislatif, dan pemerintah adalah hal yang wajar untuk disikapi secara arif dan bijaksana.

Tujuan pendidikan berdasarkan  UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.

Berdasarkan Pasal di atas ada dua hal yang menjadi tujuan pendidikan nasional di Indonesia :

1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan serta akhlak mulia

2. Mencerdaskan Kehidupan bangsa.

Ada banyak kendala mengapa tujuan pendidikan nasional belum berhasil. Semua kendala tersebut harus bisa diselesaikan oleh Bangsa Indonesia, seluruh komponen bangsa mulai dari Pemerintah, Guru, Orang Tua, Wali murid, siswa, masyarakat dan siapa saja yang peduli dengan cita-cita pendidikan nasional.

Dan tanpa tedeng aling-aling harus saya katakan bahwa penyebab cita-cita pendidikan nasional belum tercapai bukan hanya pemerintah, guru, orang tua, siswa akan tetapi adalah bangsa Indonesia sendiri. Ya, tanggungjawab terletak di pundak kita semua sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kemudian bahwa permasalahan pendidikan yang tampak di permukaan.

Kurikulum yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Dengan kata yang lebih ekstrim, kurikulum yang ada saat ini justru melanggar UUD 1945.

Saat ini pendidikan di Indonesia seolah-olah hanya mengasah otak siswa agar cerdas. Dan mengesampingkan hati nurani serta etika siswa.

Masalah yang kedua adalah ada beberapa pendidik yang kurang profesional.

Pendidik, Guru, Dosen, ustaz atau apapun sebutannya adalah makhluk istimewa yang dipilih oleh Tuhan melalui seleksi CPNS, melalui tes atau karena kesadaran sendiri menjadi Guru Bantu.

Mereka memiliki profesi yang sangat mulia, mentransfer ilmu kepada orang lain. Mereka adalah pemberi bekal bagi murid-muridnya untuk menempuh perjalanan kehidupan di dunia ini. Mereka mengajari orang lain yang sebelumnya tidak bisa membaca dan menulis hingga menjadi pintar membaca dan menulis. Mereka mengerjakan dengan ikhlas.

Sebagian besar Guru di Indonesia sepertinya memang begitu. Yang menjadi permasalahan sekarang, ada beberapa guru yang tidak profesional. Tidak menjalankan tugas semestinya. Dana Sertifikasi justru menjadi alasan bagi beberapa orang untuk tidak bersikap profesional ketika mengajar. Tidak tepat waktu, sering meninggalkan kelas.

 

Orang Tua/ Wali Murid yang kurang bertanggung jawab terhadap anaknya.

Maksudnya adalah ada beberapa orang tua yang menyerahkan 100 persen pendidikan anak kepada instansi sekolah. Akibatnya, ketika seorang siswa tidak naik kelas atau dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran, pihak yang disalahkan oleh orang tua adalah Guru.

 Solusi untuk mengatasi Kurikulum yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasionalSolusinya adalah membuat Kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Kurikulum yang ada di Sekolah Dasar hingga menengah harus mencakup aspek pendidikan yang mengasah hati nurani dan kecerdasan otak. Bahkan pada level pendidikan Dasar, kurikulum yang ada harus menitikberatkan pada pendidikan moral yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan kebaikan, sopan santun, kedisiplinan dan berbagai macam pendidikan akhlak. Sebagai contoh, pada pelajaran agama Islam, perlu diajarkan ilmu tasawuf di Sekolah Dasar, yaitu sebuah ilmu tentang akhlak. Selain itu perlu juga diajarkan berbagai bentuk kearifan lokal seperti kebudayaan lokal daerah setempat.

Selain membuat kurikulum yang mendidik aspek hati, Pemerintah harus dengan tegas memilih Guru yang bermoral. Apa artinya, siswa diajari tentang moral, jika pada prakteknya, Guru ataupun Pemerintahnya diisi orang-orang tidak bermoral. Guru atau orang orang yang ada di dinas pendidikan yang tidak bermoral diberi kesempatan untuk memperbaiki moralnya, jika tidak berhasil dengan terpaksa harus diberi kesempatan untuk berkarir di bidang lain atau dengan kata lain dipecat.

Untuk mengatasi pendidik yang kurang profesional, Pemerintah harus bisa membuat mereka bekerja lebih profesional. Para Guru yang kurang profesional diberi pemahaman akan arti sebuah tanggung jawab. Misalnya tentang dana sertifikasi. Guru harus tahu bahwa tujuan dari sertifikasi guru adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Berarti dia harus bekerja lebih cerdas dan bekerja keras agar para siswa benar benar menjadi siswa yang bermoral dan cerdas.

Selain itu harus ada peraturan yang lebih tegas, agar para guru yang unprofesional tidak seenaknya makan gaji buta. Salah satunya adalah meninjau kembali kebijakan tentang Sertifikasi Guru. Harus ada sistem yang lebih ketat agar dana sertifikasi tidak jatuh ke tangan guru berwatak jahat.

Solusi untuk Orang Tua yang kurang memahami makna pendidikan anak adalah dengan mengajak dan mengundang orang tua/ wali untuk duduk bersama membicarakan tentang kondisi siswa. Guru harus terus terang bahwa, mereka tidak akan mampu mendidik dengan sempurna tanpa dibantu oleh orang tua.

Selain ketiga solusi di atas ada hal yang lebih penting yang harus diikutsertakan. Sebuah hal yang seringkali dilupakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam dunia pendidikan. Hal itu adalah Hati Nurani. Sebuah hal yang seringkali tidak dianggap oleh pemiliknya sendiri yaitu manusia. Padahal melalui hati nuranilah suara-suara kebenaran dititipkan oleh Tuhan pencipta Alam. Dari hati nuranilah lahir akhlak yang baik, moral yang baik. Lahirlah kejujuran, sikap amanah dan dapat dipercaya.

Permasalahan tentang dana, gedung yang rusak, sistem manajemen pendidikan, kepemimpinan, tata kelola sekolah akan bisa diatasi dengan baik, jika pihak-pihak yang berkompeten memiliki moral yang baik. Tanpa moral yang baik, segala macam bentuk pelatihan hanya omong kosong belaka. Perbaikan gedung yang rusak hanya akan jadi lahan  korupsi belaka. Sistem manajemen pendidikan hanya sebuah formalitas tanpa isi. Ya, Pendidikan harus serius memperbaiki moral manusia-manusia yang terlibat dalam bidang pendidikan.

Sebuah pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai rapor, tentang uang, tentang sekolah favorit. Akan tetapi pendidikan yang benar-benar mencerdaskan hati dan otak. Melalui pendidikan hati, anak-anak akan bisa membedakan kebenaran dan kejahatan. Mereka tidak akan begitu saja mudah dibujuk untuk tawuran, membullly temannya, mencontek ataupun menyuap hanya untuk masuk sekolah favorit.

Guru sebagai suri tauladan juga harus bisa mendidik hatinya sendiri, sehingga dia bisa bekerja lebih profesional dan bertanggung jawab. Ketika itu terjadi, Guru akan menjadi pahlawan yang akan terus dikenang sepanjang masa.

Itulah sebenarnya tujuan dari pendidikan sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945. Mendidik manusia berbudi bekerti luhur dan bisa membedakan mana kebenaran dan mana kejahatan. Bukan hanya bisa membedakan akan tetapi bisa mengamalkan bentuk-bentuk kebaikan di bumi Indonesia ini. Sebuah pendidikan yang berlandaskan hati nurani.

2.2 . Sebagai kepala madrasah/sekolah, bapak dan ibu  dituntut untuk melakukan penyempurnaan KTSP yang telah ada, agar pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi dapat berhasil tanpa harus menambah jam pelajaran (karena beban peserta didik makin berat). Apa yang harus bapak & ibu  kerjakan/ lakukan untuk menyempurnakan KTSP di madrasah/ sekolah yg sudah ada?

Jawaban 2.2

KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan agar lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakaqn keharusan agar sistem pendidikan nasional tersebut selalu relevan dan kompetitive. Hal tersebut juga sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

G. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dapat dilakukan melalui pengembangan komponen-komponen kurikulum, di antaranya:

a. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan

Visi, dan Misi Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan harus berorientasi ke depan, dikembangkan bersama oleh seluruh warga sekolah, merupakan perpaduan antara langkah strategis dan sesuatu yang dicita-citakan, dinyatakan dalam kalimat yang padat bermakna, dapat dijabarkan ke dalam tujuan dan indikator keberhasilannya, berbasis nilai, dan membumi (kontekstual).

Penyusunan visi dalam KTSP melalui tiga tahap yaitu; tahap 1: hasil belajar siswa, dengan merumuskan apa yang harus dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah. Tahap 2: suasana pembelajaran, dirumuskan dengan mempertimbangkan suasana pembelajaran seperti apa yg dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu, dan tahap 3: suasana sekolah, dimana sekolah ditempatkan sebagai lembaga/organisasi pembelajaran  dengan merumuskan seperti apa yang diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa.

Setiap tahapan dirumuskan dalam kalimat, kemudian dipindai setiap rumusan/kalimat untuk mendapatkan kata kunci, rumusan visi dari kata kunci tersebut secara singkat padat bermakna (kurang lebih tidak lebih dari 25 kata), berdasarkan Visi ini, bisa ditentukan missinya dimana missi dapat diartikan sebagai sejumlah langkah strategis untuk menuju dan mencapai sasaran dari visi yang telah dirumuskan.

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dan khususnya tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

b. Struktur dan Muatan KTSP

Struktur dan Muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah seperti tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran, yaitu; kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaranjasmani, oleh raga dan kesehatan.Keluasan dan kedalaman pada setiap kelompok mata pelajaran sebagai beban belajar bagi setiap pesera didik pada satuan pendidikan.

mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.

Kalender Pendidikan, untuk setiap satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.

H. Peluang dan Tantangan yang diberikan oleh KTSP

               KTSP memberikan peluang munculnya diversifikasi sekolah, sebab kurikulum yang dikembangkan dalam KTSP sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, hanya berisikan standar kompetensi/kompetensi dasar yang merupakan standar nasional; sedangkan pengembangan selanjutnya sangat ditentukan oleh kebutuhan/karakteristik sekolah atau masyarakat yang berada di sekitar sekolah. Peluang ini dapat diterjemahkan sebagai tantangan bagi pihak sekolah (penyelenggara pendidikan) dalam rangka mempercepat pembangunan bangsa. Apakah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan akan jalan ditempat, “menunggu perintah dari  atas” sebagaimana yang selama ini dikondisikan, atau pihak sekolah mengadopsi peluang itu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsanya. Diversifikasi ini memungkinkan dikembangkannya sistem persekolahan yang berdaya saing tinggi, sebab pihak sekolah diberi kewenangan penuh untuk mengembangkan kurikulumnya sebaik dan semaju mungkin tetapi juga melihat pada kebutuhan dan kemampuan pihak penyelenggara pendidikan (sekolah). Dengan adanya kemungkinan diverisifikasi ini maka penyelenggara pendidikan tidak lagi harus seragam, sehingga diharapkan percepatan pembangunan bangsa dapat dicapai.

               Partisipasi masyarakat yakni peran komite sekolah memberi masukan dan saran tentang keunggulan lokal, menjadi poin berikutnya dalam peluang yang terkandung di KTSP. Keterlibatan pihak masyarakat, yang selama ini dipandang hanya sebagai “user” pasif, memunculkan tantangan yang lebih bermakna, sebab masuknya peran/partisipasi masyarakat akan melibatkan pemikiran-pemikiran baru tentang perlunya peningkatan kualitas yang berasal dari pihak pengguna. Masyarakat dapat mengikutsertakan dirinya untuk pengembangan dan kemajuan sekolah dengan mengedepankan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Artinya pengembangan pendidikan berasal dari kebutuhan wilayah sekitar (lokal) dan membawa warna keunggulan lokal, sehingga produk pendidikan tidak lagi menjadi suatu alieansi sebab kemajuan pendidikan daerah tersebut sangat ditentukan oleh pengembangan keunggulan lokalnya.

               Peluang lain yang diberikan melalui KTSP adalah bahwa kurikulum berbasis sekolah. Hal ini mengindikasi selain kurikulum akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan pihak sekolah, juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa kurikulum harus dikembangkan oleh guru. Dalam hal ini guru bukan hanya sebagai pelaksana kurikulum, melainkan juga sebagai pengembang kurikulum di kelasnya. Konsekuensinya, guru dituntut untuk siap sebagai pengembang kurikulum, sehingga tidak lagi terdengar bahwa pengembangan perencanaan pembelajaran hanyalah merupakan “pekerjaan administratif belaka”. Konsekuensi lanjutan adalah perlunya pembinaan berkelanjutan yang intensif bagi pihak guru sebagai pengembang kurikulum di tingkat sekolah.

 Profesionalisasi menjadi suatu kebutuhan, dan guru harus terus meningkatkan dirinya untuk mempercepat pembangunan bangsa. Di tangan gurulah terletak maju atau mundurnya pendidikan kita.

I. Kemungkinan Permasalahan dalam Proses Implementasinya

               Penerapan KTSP telah berjalan tiga tahun, dan sampai saat ini tampaknya apa yang dilaksanakan di lapangan masih belum memenuhi tuntutan kurikulum tersebut. Tidak sedikit pengamat pendidikan yang mempertanyakan apa perbedaan antara KTSP dengan kurikulum sebelumnya, sementara di kalangan guru masih terjadi perbedaan pendapat di dalam menafsirkan tuntutan kurikulum. Guru kembali menggunakan kebiasaan mengajar seperti sebelumnya. Di lain pihak para guru merasa bahwa SK/KD  tidak memberi arah dan tuntunan yang jelas (dan detail) sehingga mereka cenderung mencari “contoh silabus/RPP” yang sudah jadi dan meniru nya menjadi silabus/RPP yang akan digunakannya dalam pembelajarannya.

Hal-hal yang terjadi seperti dikemukakan di atas dapat diidentifikasi :

a.   Sudah terlalu lamanya guru menggunakan gaya mengajar yang mengacu kepada posisi guru sebagai user kurikulum (segala sesuatu telah ditetapkan dari atas sehingga guru tinggal melaksanakannya), dan terdapat kecenderungan untuk mempertahankan gaya tersebut (status quo), sedangkan KTSP mensyaratkan guru untuk menjadi curriculum developer.

b.   Kurangnya proses sosialisasi KTSP yang pada awal berlakunya kurikulum tersebut hanya dilakukan one-shot training. Bagaimana guru dapat memahami isi dan tuntutan kurikulum dengan baik jika pengenalan dilakukan hanya dalam waktu terbatas.

Kurangnya pemahaman guru terhadap orientasi kurikulum. Dalam hal ini orientasi kurikulum (yang merupakan salah satu dari landasan kurikulum) merupakan dasar dikembangkannya bentuk kurikulum, sehingga memahami orientasi kurikulum akan memudahkan untuk memahami kurikulum secara keseluruhan. Sebagai contoh KTSP pada posisi pencapaian tujuan kurikuler berkiblat pada orientasi Transaction yang artinya siswa sebagai pusat sebab orientasi ini menganggap siswa memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan dan proses ditekankan pada proses (Seller & Miller, 1985 : 62-67) dan pengembangan aktivitas siswa merupakan tujuan antara dalam rangka mencapai tujuan kurikuler.  Dengan demikian apabila guru tidak memahami orientasi kurikulum yang tersirat dalam KTSP, maka kemungkinan yang terjadi adalah guru memberikan sejumlah informasi (faktual) kepada siswa, dan pada akhirnya siswa hanya tinggal menghafal fakta-fakta yang telah diberikan oleh guru tersebut (pembelajaran satu arah dan siswa pasif – cenderung rote learning).

Tampaknya kelemahan dalam proses implementasi KTSP lebih cenderung kepada kurangnya pemahaman guru terhadap apa yang menjadi tuntutan kurikulum tersebut. Dalam hal ini masalah implementasi tersebut lebih banyak berada pada posisi kekurangan yang ada pada guru sebagai pengembang kurikulum.

Pernyataan 1:

Tahun 2013 ini (sekitar awal bulan mei) pemerintah akan ditetapkan pemberlakuan kurikulum baru 2013 (sebagai kelanjutan kurikulum KTSP tahun 2006).

Salah satu alasan perubahan kurikulum tersebut, antara lain (standar kompetensi lulusan pendidikan di Indonesia belum dapat berkompetisi di dunia internasional, dan pembentukan karakter peserta didik yang masih lemah).

Untuk tercapainya tujuan perubahan kurikulum baru tersebut, seorang guru dituntut tidak sekedar mengajar tetapi sekaligus mendidik (sehingga peserta didik tidak sekedar cerdas, tetapi memiliki akhlak yang baik, dan terampil/ bertanggung jawab).

Jika tidak ada perubahan, kurikulum baru 2013, kurikulum pendidikan agama yg semula 2 jam dalam 1 minggu, menjadi 4 jam.

 

PERTANYAAN

1. Bagaimana pendapat saudara tentang perubahan   kurikulum 2013 mendatang. Berikan penjelasan dan alasan secukupnya.

Pernyataan  2

Pengembangan kurikulum merupakan proses untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum KTSP yang telah berjalan sekitar 6 tahun ini belum dapat memenuhi tujuan pendidikan nasional, sehingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menggagas perlunya pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi pada setiap satuan pendidikan.

Gagasan tersebut nampaknya sangat berlebihan, sebab secara kuantitatif prestasi pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan yg cukup baik (misalnya  hasil UN setiap tahun meningkat, beberapa siswa indonesia berhasil menjuari lomba tingkat internasional. Disamping itu setiap satuan pendidikan telah mengajarkan mapel agama, PKN, malahan di madrasah mapel agama jumlahnya cukup banyak.

Tugas yang perlu di selesaikan adalah:

  1. Mengapa tujuan pendidikan nasional dianggap belum berhasil, meskipun standart UN selalu meningkat setiap tahunnya dan beberapa siswa Indonesia berhasil dalam ajang internasional?
  2. Sebagai kepala madrasah/sekolah, bapak dan ibu  dituntut untuk melakukan penyempurnaan KTSP yang telah ada, agar pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi dapat berhasil tanpa harus menambah jam pelajaran (karena beban peserta didik makin berat). Apa yang harus bapak & ibu  kerjakan/ lakukan untuk menyempurnakan KTSP di madrasah/ sekolah yg sudah ada?

1. Bagaimana pendapat saudara tentang perubahan   kurikulum 2013 mendatang. Berikan penjelasan dan alasan secukupnya.

Jawaban 1

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, sudah dikenal beberapa macam kurikulum yang pernah diterapkan dan dipakai di dunia pendidikan seperti Kurikulum ’76, Kurikulum’84, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 (KBK), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Menurut  hemat saya bahwa perubahan kurikulum adalah hal yang pasti, sebagai upaya untuk mengikuti perkembangan sains, teknologi dan seni serta tuntutan kebutuhan masyarakat. Akan diberlakukannya kurikulum 2013 di awal tahun pelajaran yang akan datang menimbulkan pendapat pro dan kontra, namun rupanya pemerintah (kementrian) berkukuh untuk tetap menyelenggarakannya. Keresahan para guru bukan tanpa sebab, karena banyak yang belum tahu perubahan apa saja dalam kurikulum. Secara filosofis kurikulum 2013 berbasis kepada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Sementara perubahan kurikulum lebih berorientasi kepada pengembangan kompetensi.

Salah satu hal yang menarik dalam perubahan kurikulum adalah penyempurnaan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing karakter bangsa. Begitu pentingkah metode pembelajaran? Bagaimana membangun karakter dari nilai budaya bangsa? Ragam metode pembelajaran adalah bentuk cara-cara penyampaian materi supaya efektif dan mudah dipahami oleh peserta didik. Metode pembelajaran yang berpusat kepada murid (active learning), dan populer disebut dengan cara belajar siswa aktif. Pendekatan semacam ini sebenarnya telah dikenalkan semenjak kurikulum 1984, pendekatan pengajarannya berpusat pada siswa melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dan diarahkan pada perkembangan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Perubahan kurikulum memberikan banyak harapan akan perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, meski pada kenyataannya ide bagus dan tujuan mulia tersebut kerap tersungkur di lapangan. Implementasi kurikulum akan bersintuhan langsung dengan guru-guru yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Apabila guru sebagai ujung tombak tidak memiliki kecakapan-kecakapan profesional sebagaimana yang dipersyaratkan maka tidak tertutup kemungkinan strategi dan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) akan kembali terjeremus kepada plesetan Catat Buku Sampai Abis. Kenapa demikian? Semua berkenaan dengan kemampuan dan kemauan guru untuk mengembangkan diri baik dari sisi penguasaan materi sebagai syarat profesionalisme mau pun penguasaan paedagogik. Bukan hal yang mudah, ketika guru-guru yang ada di sekolah hanya menjadi sebagai pentransfer ilmu dan menganggap dirinya selalu lebih tahu daripada peserta didik. Guru belum bisa bertindak sebagai fasilitator yang melayani klien (peserta didik) untuk mengembangkan diri.

Namun perlu dipertimbangkan juga bahwa kurikulum 2013 apakah tidak akan membuat ribuan bahkan jutaan guru kehilangan pekerjaan sebab akan ada banyak kelebihan guru ditengah minimnya jam mengajar yang akan diterapkan pemerintah melalui kurikulu 2013 ini.

Kurikulum 2013 cenderung mematikan kreatifitas guru dan tidak mempertimbangkan konteks budaya lokal, Kurikulum 2013 guru akan diberikan buku pegangan dan silabus yang isinya sama sekali tanpa memikirkan konteks lokal. Kurikulum 2013 bersifat sentralistik, dan bertentangan dengan semangat reformasi yang menghendaki desentralisasi, yaitu desentralisasi pengelolaan pendidikan. Lagipula Kebijakan perubahan kurikulum inipun dinilai terburu-buru.

2.1. Mengapa tujuan pendidikan nasional dianggap belum berhasil, meskipun standart UN selalu meningkat setiap tahunnya dan beberapa siswa Indonesia berhasil dalam ajang internasional?

Jawaban 2.1

 

Untuk meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di lndonesia. Dengan masukan ilmiah ahli itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai.

Masukan ilmiah yang disampaikan para ahli dari negara-negara yang berhasil menerapkannya, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru dan Singapura selalu memunculkan konsep yang tidak selalu bisa diadopsi dan diadaptasi. Karena berbagai macam latar yang berbeda. Situasi, kondisi, latar budaya dan pola pikir bangsa kita tentunya tidak homogen dengan negara-negara yang diteladani. Malahan, konsep yang di impor itu terkesan dijadikan sebagai “proyek” yang bertendensi pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Artinya, proyek bukan sebagai alat melainkan sebagai tujuan.

Beberapa penerapan pola peningkatan mutu di Indonesia telah banyak dilakukan, namun masih belum dapat secara langsung memberikan efek perbaikan mutu. Di antaranya adalah usaha peningkatan mutu dengan perubahan kurikulum dan proyek peningkatan lain; Proyek Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), Proyek Perpustakaan, Proyek Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM), Proyek Bantuan lmbal Swadaya (BIS), Proyek Pengadaan Buku Paket, Proyek Peningkatan Mutu Guru, Dana Bantuan Langsung (DBL), Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS) dan Bantuan Khusus Murid (BKM). Dengan memperhatikan sejumlah proyek itu, dapatlah kita simpulkan bahwa pemerintah telah banyak menghabiskan anggaran dana untuk membiayai proyek itu sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Upaya pemerintah yang begitu mahal belum menunjukkan hasil menggembirakan. Ada yang berpendapat mungkin manajemennya yang kurang tepat dan ada pula yang mengatakan bahwa pemerintah kurang konsisten dengan upaya yang dijalankan. Karena itu, kembali pada apa yang kita sebut sebagai kekayaan lokal, bahwa tidak sepenuhnya apa yang dapat dipraktikkan dengan baik di luar negeri bisa seratus persen juga berhasil di Indonesia, semua itu membutuhkan tahapan, namun dengan kerangka yang jelas dan tidak dibebani oleh proyek yang demi kepentingan sesaat atau golongan. Hal-hal berikut adalah elemen dasar bagaimana kita dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Insan Pendidikan Patut Mendapatkan Penghargaan Karenaitu Berikanlah Penghargaan

“Manajemen Sumber Daya Manusia” mengatakan, penghargaan diberikan untuk menarik dan mempertahankan SDM karena diperlukan untuk mencapai saran-saran organisasi. Staf (guru) akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, bonus dan komisi) maupun penghargaan instrinsik (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karir). Mc. Keena & Beech (1995 : 161).

Manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memiliki lima tingkatan (hierarchy of needs) yakni, mulai dari kebutuhan fisiologis (pangan, sandang dan papan), kebutuhan rasa aman ( terhindar dari rasa takut akan gangguan keamanan), kebutuhan sosial (bermasyarakat), kebutuhan yang mencerminkan harga diri, dan kebutuhan mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat. Abraham H. Maslow

Pendidik dan pengajar sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.

Meningkatkan Profesionalisme Guru dan Pendidik

Kurikulum dan panduan manajemen sekolah sebaik apapun tidak akan berarti jika tidak ditangani oleh guru profesional. Karena itu tuntutan terhadap profesinalisme guru yang sering dilontarkan masyarakat dunia usaha/industri, legislatif, dan pemerintah adalah hal yang wajar untuk disikapi secara arif dan bijaksana.

Tujuan pendidikan berdasarkan  UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.

Berdasarkan Pasal di atas ada dua hal yang menjadi tujuan pendidikan nasional di Indonesia :

1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan serta akhlak mulia

2. Mencerdaskan Kehidupan bangsa.

Ada banyak kendala mengapa tujuan pendidikan nasional belum berhasil. Semua kendala tersebut harus bisa diselesaikan oleh Bangsa Indonesia, seluruh komponen bangsa mulai dari Pemerintah, Guru, Orang Tua, Wali murid, siswa, masyarakat dan siapa saja yang peduli dengan cita-cita pendidikan nasional.

Dan tanpa tedeng aling-aling harus saya katakan bahwa penyebab cita-cita pendidikan nasional belum tercapai bukan hanya pemerintah, guru, orang tua, siswa akan tetapi adalah bangsa Indonesia sendiri. Ya, tanggungjawab terletak di pundak kita semua sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kemudian bahwa permasalahan pendidikan yang tampak di permukaan.

Kurikulum yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Dengan kata yang lebih ekstrim, kurikulum yang ada saat ini justru melanggar UUD 1945.

Saat ini pendidikan di Indonesia seolah-olah hanya mengasah otak siswa agar cerdas. Dan mengesampingkan hati nurani serta etika siswa.

Masalah yang kedua adalah ada beberapa pendidik yang kurang profesional.

Pendidik, Guru, Dosen, ustaz atau apapun sebutannya adalah makhluk istimewa yang dipilih oleh Tuhan melalui seleksi CPNS, melalui tes atau karena kesadaran sendiri menjadi Guru Bantu.

Mereka memiliki profesi yang sangat mulia, mentransfer ilmu kepada orang lain. Mereka adalah pemberi bekal bagi murid-muridnya untuk menempuh perjalanan kehidupan di dunia ini. Mereka mengajari orang lain yang sebelumnya tidak bisa membaca dan menulis hingga menjadi pintar membaca dan menulis. Mereka mengerjakan dengan ikhlas.

Sebagian besar Guru di Indonesia sepertinya memang begitu. Yang menjadi permasalahan sekarang, ada beberapa guru yang tidak profesional. Tidak menjalankan tugas semestinya. Dana Sertifikasi justru menjadi alasan bagi beberapa orang untuk tidak bersikap profesional ketika mengajar. Tidak tepat waktu, sering meninggalkan kelas.

 

Orang Tua/ Wali Murid yang kurang bertanggung jawab terhadap anaknya.

Maksudnya adalah ada beberapa orang tua yang menyerahkan 100 persen pendidikan anak kepada instansi sekolah. Akibatnya, ketika seorang siswa tidak naik kelas atau dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran, pihak yang disalahkan oleh orang tua adalah Guru.

 Solusi untuk mengatasi Kurikulum yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasionalSolusinya adalah membuat Kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Kurikulum yang ada di Sekolah Dasar hingga menengah harus mencakup aspek pendidikan yang mengasah hati nurani dan kecerdasan otak. Bahkan pada level pendidikan Dasar, kurikulum yang ada harus menitikberatkan pada pendidikan moral yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan kebaikan, sopan santun, kedisiplinan dan berbagai macam pendidikan akhlak. Sebagai contoh, pada pelajaran agama Islam, perlu diajarkan ilmu tasawuf di Sekolah Dasar, yaitu sebuah ilmu tentang akhlak. Selain itu perlu juga diajarkan berbagai bentuk kearifan lokal seperti kebudayaan lokal daerah setempat.

Selain membuat kurikulum yang mendidik aspek hati, Pemerintah harus dengan tegas memilih Guru yang bermoral. Apa artinya, siswa diajari tentang moral, jika pada prakteknya, Guru ataupun Pemerintahnya diisi orang-orang tidak bermoral. Guru atau orang orang yang ada di dinas pendidikan yang tidak bermoral diberi kesempatan untuk memperbaiki moralnya, jika tidak berhasil dengan terpaksa harus diberi kesempatan untuk berkarir di bidang lain atau dengan kata lain dipecat.

Untuk mengatasi pendidik yang kurang profesional, Pemerintah harus bisa membuat mereka bekerja lebih profesional. Para Guru yang kurang profesional diberi pemahaman akan arti sebuah tanggung jawab. Misalnya tentang dana sertifikasi. Guru harus tahu bahwa tujuan dari sertifikasi guru adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Berarti dia harus bekerja lebih cerdas dan bekerja keras agar para siswa benar benar menjadi siswa yang bermoral dan cerdas.

Selain itu harus ada peraturan yang lebih tegas, agar para guru yang unprofesional tidak seenaknya makan gaji buta. Salah satunya adalah meninjau kembali kebijakan tentang Sertifikasi Guru. Harus ada sistem yang lebih ketat agar dana sertifikasi tidak jatuh ke tangan guru berwatak jahat.

Solusi untuk Orang Tua yang kurang memahami makna pendidikan anak adalah dengan mengajak dan mengundang orang tua/ wali untuk duduk bersama membicarakan tentang kondisi siswa. Guru harus terus terang bahwa, mereka tidak akan mampu mendidik dengan sempurna tanpa dibantu oleh orang tua.

Selain ketiga solusi di atas ada hal yang lebih penting yang harus diikutsertakan. Sebuah hal yang seringkali dilupakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam dunia pendidikan. Hal itu adalah Hati Nurani. Sebuah hal yang seringkali tidak dianggap oleh pemiliknya sendiri yaitu manusia. Padahal melalui hati nuranilah suara-suara kebenaran dititipkan oleh Tuhan pencipta Alam. Dari hati nuranilah lahir akhlak yang baik, moral yang baik. Lahirlah kejujuran, sikap amanah dan dapat dipercaya.

Permasalahan tentang dana, gedung yang rusak, sistem manajemen pendidikan, kepemimpinan, tata kelola sekolah akan bisa diatasi dengan baik, jika pihak-pihak yang berkompeten memiliki moral yang baik. Tanpa moral yang baik, segala macam bentuk pelatihan hanya omong kosong belaka. Perbaikan gedung yang rusak hanya akan jadi lahan  korupsi belaka. Sistem manajemen pendidikan hanya sebuah formalitas tanpa isi. Ya, Pendidikan harus serius memperbaiki moral manusia-manusia yang terlibat dalam bidang pendidikan.

Sebuah pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai rapor, tentang uang, tentang sekolah favorit. Akan tetapi pendidikan yang benar-benar mencerdaskan hati dan otak. Melalui pendidikan hati, anak-anak akan bisa membedakan kebenaran dan kejahatan. Mereka tidak akan begitu saja mudah dibujuk untuk tawuran, membullly temannya, mencontek ataupun menyuap hanya untuk masuk sekolah favorit.

Guru sebagai suri tauladan juga harus bisa mendidik hatinya sendiri, sehingga dia bisa bekerja lebih profesional dan bertanggung jawab. Ketika itu terjadi, Guru akan menjadi pahlawan yang akan terus dikenang sepanjang masa.

Itulah sebenarnya tujuan dari pendidikan sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945. Mendidik manusia berbudi bekerti luhur dan bisa membedakan mana kebenaran dan mana kejahatan. Bukan hanya bisa membedakan akan tetapi bisa mengamalkan bentuk-bentuk kebaikan di bumi Indonesia ini. Sebuah pendidikan yang berlandaskan hati nurani.

2.2 . Sebagai kepala madrasah/sekolah, bapak dan ibu  dituntut untuk melakukan penyempurnaan KTSP yang telah ada, agar pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi dapat berhasil tanpa harus menambah jam pelajaran (karena beban peserta didik makin berat). Apa yang harus bapak & ibu  kerjakan/ lakukan untuk menyempurnakan KTSP di madrasah/ sekolah yg sudah ada?

Jawaban 2.2

KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan agar lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakaqn keharusan agar sistem pendidikan nasional tersebut selalu relevan dan kompetitive. Hal tersebut juga sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

G. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dapat dilakukan melalui pengembangan komponen-komponen kurikulum, di antaranya:

a. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan

Visi, dan Misi Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan harus berorientasi ke depan, dikembangkan bersama oleh seluruh warga sekolah, merupakan perpaduan antara langkah strategis dan sesuatu yang dicita-citakan, dinyatakan dalam kalimat yang padat bermakna, dapat dijabarkan ke dalam tujuan dan indikator keberhasilannya, berbasis nilai, dan membumi (kontekstual).

Penyusunan visi dalam KTSP melalui tiga tahap yaitu; tahap 1: hasil belajar siswa, dengan merumuskan apa yang harus dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah. Tahap 2: suasana pembelajaran, dirumuskan dengan mempertimbangkan suasana pembelajaran seperti apa yg dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu, dan tahap 3: suasana sekolah, dimana sekolah ditempatkan sebagai lembaga/organisasi pembelajaran  dengan merumuskan seperti apa yang diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa.

Setiap tahapan dirumuskan dalam kalimat, kemudian dipindai setiap rumusan/kalimat untuk mendapatkan kata kunci, rumusan visi dari kata kunci tersebut secara singkat padat bermakna (kurang lebih tidak lebih dari 25 kata), berdasarkan Visi ini, bisa ditentukan missinya dimana missi dapat diartikan sebagai sejumlah langkah strategis untuk menuju dan mencapai sasaran dari visi yang telah dirumuskan.

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dan khususnya tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

b. Struktur dan Muatan KTSP

Struktur dan Muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah seperti tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran, yaitu; kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaranjasmani, oleh raga dan kesehatan.Keluasan dan kedalaman pada setiap kelompok mata pelajaran sebagai beban belajar bagi setiap pesera didik pada satuan pendidikan.

mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.

Kalender Pendidikan, untuk setiap satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.

H. Peluang dan Tantangan yang diberikan oleh KTSP

               KTSP memberikan peluang munculnya diversifikasi sekolah, sebab kurikulum yang dikembangkan dalam KTSP sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, hanya berisikan standar kompetensi/kompetensi dasar yang merupakan standar nasional; sedangkan pengembangan selanjutnya sangat ditentukan oleh kebutuhan/karakteristik sekolah atau masyarakat yang berada di sekitar sekolah. Peluang ini dapat diterjemahkan sebagai tantangan bagi pihak sekolah (penyelenggara pendidikan) dalam rangka mempercepat pembangunan bangsa. Apakah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan akan jalan ditempat, “menunggu perintah dari  atas” sebagaimana yang selama ini dikondisikan, atau pihak sekolah mengadopsi peluang itu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsanya. Diversifikasi ini memungkinkan dikembangkannya sistem persekolahan yang berdaya saing tinggi, sebab pihak sekolah diberi kewenangan penuh untuk mengembangkan kurikulumnya sebaik dan semaju mungkin tetapi juga melihat pada kebutuhan dan kemampuan pihak penyelenggara pendidikan (sekolah). Dengan adanya kemungkinan diverisifikasi ini maka penyelenggara pendidikan tidak lagi harus seragam, sehingga diharapkan percepatan pembangunan bangsa dapat dicapai.

               Partisipasi masyarakat yakni peran komite sekolah memberi masukan dan saran tentang keunggulan lokal, menjadi poin berikutnya dalam peluang yang terkandung di KTSP. Keterlibatan pihak masyarakat, yang selama ini dipandang hanya sebagai “user” pasif, memunculkan tantangan yang lebih bermakna, sebab masuknya peran/partisipasi masyarakat akan melibatkan pemikiran-pemikiran baru tentang perlunya peningkatan kualitas yang berasal dari pihak pengguna. Masyarakat dapat mengikutsertakan dirinya untuk pengembangan dan kemajuan sekolah dengan mengedepankan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Artinya pengembangan pendidikan berasal dari kebutuhan wilayah sekitar (lokal) dan membawa warna keunggulan lokal, sehingga produk pendidikan tidak lagi menjadi suatu alieansi sebab kemajuan pendidikan daerah tersebut sangat ditentukan oleh pengembangan keunggulan lokalnya.

               Peluang lain yang diberikan melalui KTSP adalah bahwa kurikulum berbasis sekolah. Hal ini mengindikasi selain kurikulum akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan pihak sekolah, juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa kurikulum harus dikembangkan oleh guru. Dalam hal ini guru bukan hanya sebagai pelaksana kurikulum, melainkan juga sebagai pengembang kurikulum di kelasnya. Konsekuensinya, guru dituntut untuk siap sebagai pengembang kurikulum, sehingga tidak lagi terdengar bahwa pengembangan perencanaan pembelajaran hanyalah merupakan “pekerjaan administratif belaka”. Konsekuensi lanjutan adalah perlunya pembinaan berkelanjutan yang intensif bagi pihak guru sebagai pengembang kurikulum di tingkat sekolah.

 Profesionalisasi menjadi suatu kebutuhan, dan guru harus terus meningkatkan dirinya untuk mempercepat pembangunan bangsa. Di tangan gurulah terletak maju atau mundurnya pendidikan kita.

I. Kemungkinan Permasalahan dalam Proses Implementasinya

               Penerapan KTSP telah berjalan tiga tahun, dan sampai saat ini tampaknya apa yang dilaksanakan di lapangan masih belum memenuhi tuntutan kurikulum tersebut. Tidak sedikit pengamat pendidikan yang mempertanyakan apa perbedaan antara KTSP dengan kurikulum sebelumnya, sementara di kalangan guru masih terjadi perbedaan pendapat di dalam menafsirkan tuntutan kurikulum. Guru kembali menggunakan kebiasaan mengajar seperti sebelumnya. Di lain pihak para guru merasa bahwa SK/KD  tidak memberi arah dan tuntunan yang jelas (dan detail) sehingga mereka cenderung mencari “contoh silabus/RPP” yang sudah jadi dan meniru nya menjadi silabus/RPP yang akan digunakannya dalam pembelajarannya.

Hal-hal yang terjadi seperti dikemukakan di atas dapat diidentifikasi :

a.   Sudah terlalu lamanya guru menggunakan gaya mengajar yang mengacu kepada posisi guru sebagai user kurikulum (segala sesuatu telah ditetapkan dari atas sehingga guru tinggal melaksanakannya), dan terdapat kecenderungan untuk mempertahankan gaya tersebut (status quo), sedangkan KTSP mensyaratkan guru untuk menjadi curriculum developer.

b.   Kurangnya proses sosialisasi KTSP yang pada awal berlakunya kurikulum tersebut hanya dilakukan one-shot training. Bagaimana guru dapat memahami isi dan tuntutan kurikulum dengan baik jika pengenalan dilakukan hanya dalam waktu terbatas.

Kurangnya pemahaman guru terhadap orientasi kurikulum. Dalam hal ini orientasi kurikulum (yang merupakan salah satu dari landasan kurikulum) merupakan dasar dikembangkannya bentuk kurikulum, sehingga memahami orientasi kurikulum akan memudahkan untuk memahami kurikulum secara keseluruhan. Sebagai contoh KTSP pada posisi pencapaian tujuan kurikuler berkiblat pada orientasi Transaction yang artinya siswa sebagai pusat sebab orientasi ini menganggap siswa memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan dan proses ditekankan pada proses (Seller & Miller, 1985 : 62-67) dan pengembangan aktivitas siswa merupakan tujuan antara dalam rangka mencapai tujuan kurikuler.  Dengan demikian apabila guru tidak memahami orientasi kurikulum yang tersirat dalam KTSP, maka kemungkinan yang terjadi adalah guru memberikan sejumlah informasi (faktual) kepada siswa, dan pada akhirnya siswa hanya tinggal menghafal fakta-fakta yang telah diberikan oleh guru tersebut (pembelajaran satu arah dan siswa pasif – cenderung rote learning).

Tampaknya kelemahan dalam proses implementasi KTSP lebih cenderung kepada kurangnya pemahaman guru terhadap apa yang menjadi tuntutan kurikulum tersebut. Dalam hal ini masalah implementasi tersebut lebih banyak berada pada posisi kekurangan yang ada pada guru sebagai pengembang kurikulum.

Pernyataan 1:

Tahun 2013 ini (sekitar awal bulan mei) pemerintah akan ditetapkan pemberlakuan kurikulum baru 2013 (sebagai kelanjutan kurikulum KTSP tahun 2006).

Salah satu alasan perubahan kurikulum tersebut, antara lain (standar kompetensi lulusan pendidikan di Indonesia belum dapat berkompetisi di dunia internasional, dan pembentukan karakter peserta didik yang masih lemah).

Untuk tercapainya tujuan perubahan kurikulum baru tersebut, seorang guru dituntut tidak sekedar mengajar tetapi sekaligus mendidik (sehingga peserta didik tidak sekedar cerdas, tetapi memiliki akhlak yang baik, dan terampil/ bertanggung jawab).

Jika tidak ada perubahan, kurikulum baru 2013, kurikulum pendidikan agama yg semula 2 jam dalam 1 minggu, menjadi 4 jam.

PERTANYAAN

1. Bagaimana pendapat saudara tentang perubahan kurikulum 2013 mendatang. Berikan penjelasan dan alasan secukupnya.

Pernyataan 2

Pengembangan kurikulum merupakan proses untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum KTSP yang telah berjalan sekitar 6 tahun ini belum dapat memenuhi tujuan pendidikan nasional, sehingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menggagas perlunya pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi pada setiap satuan pendidikan.

Gagasan tersebut nampaknya sangat berlebihan, sebab secara kuantitatif prestasi pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan yg cukup baik (misalnya hasil UN setiap tahun meningkat, beberapa siswa indonesia berhasil menjuari lomba tingkat internasional. Disamping itu setiap satuan pendidikan telah mengajarkan mapel agama, PKN, malahan di madrasah mapel agama jumlahnya cukup banyak.

Tugas yang perlu di selesaikan adalah:

1. Mengapa tujuan pendidikan nasional dianggap belum berhasil, meskipun standart UN selalu meningkat setiap tahunnya dan beberapa siswa Indonesia berhasil dalam ajang internasional?

2. Sebagai kepala madrasah/sekolah, bapak dan ibu dituntut untuk melakukan penyempurnaan KTSP yang telah ada, agar pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi dapat berhasil tanpa harus menambah jam pelajaran (karena beban peserta didik makin berat). Apa yang harus bapak & ibu kerjakan/ lakukan untuk menyempurnakan KTSP di madrasah/ sekolah yg sudah ada?

1. Bagaimana pendapat saudara tentang perubahan kurikulum 2013 mendatang. Berikan penjelasan dan alasan secukupnya.

Jawaban 1

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, sudah dikenal beberapa macam kurikulum yang pernah diterapkan dan dipakai di dunia pendidikan seperti Kurikulum ’76, Kurikulum’84, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 (KBK), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Menurut hemat saya bahwa perubahan kurikulum adalah hal yang pasti, sebagai upaya untuk mengikuti perkembangan sains, teknologi dan seni serta tuntutan kebutuhan masyarakat. Akan diberlakukannya kurikulum 2013 di awal tahun pelajaran yang akan datang menimbulkan pendapat pro dan kontra, namun rupanya pemerintah (kementrian) berkukuh untuk tetap menyelenggarakannya. Keresahan para guru bukan tanpa sebab, karena banyak yang belum tahu perubahan apa saja dalam kurikulum. Secara filosofis kurikulum 2013 berbasis kepada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Sementara perubahan kurikulum lebih berorientasi kepada pengembangan kompetensi.

Salah satu hal yang menarik dalam perubahan kurikulum adalah penyempurnaan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing karakter bangsa. Begitu pentingkah metode pembelajaran? Bagaimana membangun karakter dari nilai budaya bangsa? Ragam metode pembelajaran adalah bentuk cara-cara penyampaian materi supaya efektif dan mudah dipahami oleh peserta didik. Metode pembelajaran yang berpusat kepada murid (active learning), dan populer disebut dengan cara belajar siswa aktif. Pendekatan semacam ini sebenarnya telah dikenalkan semenjak kurikulum 1984, pendekatan pengajarannya berpusat pada siswa melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dan diarahkan pada perkembangan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Perubahan kurikulum memberikan banyak harapan akan perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, meski pada kenyataannya ide bagus dan tujuan mulia tersebut kerap tersungkur di lapangan. Implementasi kurikulum akan bersintuhan langsung dengan guru-guru yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Apabila guru sebagai ujung tombak tidak memiliki kecakapan-kecakapan profesional sebagaimana yang dipersyaratkan maka tidak tertutup kemungkinan strategi dan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) akan kembali terjeremus kepada plesetan Catat Buku Sampai Abis. Kenapa demikian? Semua berkenaan dengan kemampuan dan kemauan guru untuk mengembangkan diri baik dari sisi penguasaan materi sebagai syarat profesionalisme mau pun penguasaan paedagogik. Bukan hal yang mudah, ketika guru-guru yang ada di sekolah hanya menjadi sebagai pentransfer ilmu dan menganggap dirinya selalu lebih tahu daripada peserta didik. Guru belum bisa bertindak sebagai fasilitator yang melayani klien (peserta didik) untuk mengembangkan diri.

Namun perlu dipertimbangkan juga bahwa kurikulum 2013 apakah tidak akan membuat ribuan bahkan jutaan guru kehilangan pekerjaan sebab akan ada banyak kelebihan guru ditengah minimnya jam mengajar yang akan diterapkan pemerintah melalui kurikulu 2013 ini.

Kurikulum 2013 cenderung mematikan kreatifitas guru dan tidak mempertimbangkan konteks budaya lokal, Kurikulum 2013 guru akan diberikan buku pegangan dan silabus yang isinya sama sekali tanpa memikirkan konteks lokal. Kurikulum 2013 bersifat sentralistik, dan bertentangan dengan semangat reformasi yang menghendaki desentralisasi, yaitu desentralisasi pengelolaan pendidikan. Lagipula Kebijakan perubahan kurikulum inipun dinilai terburu-buru.

2.1. Mengapa tujuan pendidikan nasional dianggap belum berhasil, meskipun standart UN selalu meningkat setiap tahunnya dan beberapa siswa Indonesia berhasil dalam ajang internasional?

Jawaban 2.1

Untuk meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di lndonesia. Dengan masukan ilmiah ahli itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai.

Masukan ilmiah yang disampaikan para ahli dari negara-negara yang berhasil menerapkannya, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru dan Singapura selalu memunculkan konsep yang tidak selalu bisa diadopsi dan diadaptasi. Karena berbagai macam latar yang berbeda. Situasi, kondisi, latar budaya dan pola pikir bangsa kita tentunya tidak homogen dengan negara-negara yang diteladani. Malahan, konsep yang di impor itu terkesan dijadikan sebagai “proyek” yang bertendensi pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Artinya, proyek bukan sebagai alat melainkan sebagai tujuan.

Beberapa penerapan pola peningkatan mutu di Indonesia telah banyak dilakukan, namun masih belum dapat secara langsung memberikan efek perbaikan mutu. Di antaranya adalah usaha peningkatan mutu dengan perubahan kurikulum dan proyek peningkatan lain; Proyek Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), Proyek Perpustakaan, Proyek Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM), Proyek Bantuan lmbal Swadaya (BIS), Proyek Pengadaan Buku Paket, Proyek Peningkatan Mutu Guru, Dana Bantuan Langsung (DBL), Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS) dan Bantuan Khusus Murid (BKM). Dengan memperhatikan sejumlah proyek itu, dapatlah kita simpulkan bahwa pemerintah telah banyak menghabiskan anggaran dana untuk membiayai proyek itu sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Upaya pemerintah yang begitu mahal belum menunjukkan hasil menggembirakan. Ada yang berpendapat mungkin manajemennya yang kurang tepat dan ada pula yang mengatakan bahwa pemerintah kurang konsisten dengan upaya yang dijalankan. Karena itu, kembali pada apa yang kita sebut sebagai kekayaan lokal, bahwa tidak sepenuhnya apa yang dapat dipraktikkan dengan baik di luar negeri bisa seratus persen juga berhasil di Indonesia, semua itu membutuhkan tahapan, namun dengan kerangka yang jelas dan tidak dibebani oleh proyek yang demi kepentingan sesaat atau golongan. Hal-hal berikut adalah elemen dasar bagaimana kita dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Insan Pendidikan Patut Mendapatkan Penghargaan Karenaitu Berikanlah Penghargaan

“Manajemen Sumber Daya Manusia” mengatakan, penghargaan diberikan untuk menarik dan mempertahankan SDM karena diperlukan untuk mencapai saran-saran organisasi. Staf (guru) akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, bonus dan komisi) maupun penghargaan instrinsik (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karir). Mc. Keena & Beech (1995 : 161).

Manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memiliki lima tingkatan (hierarchy of needs) yakni, mulai dari kebutuhan fisiologis (pangan, sandang dan papan), kebutuhan rasa aman ( terhindar dari rasa takut akan gangguan keamanan), kebutuhan sosial (bermasyarakat), kebutuhan yang mencerminkan harga diri, dan kebutuhan mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat. Abraham H. Maslow

Pendidik dan pengajar sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.

Meningkatkan Profesionalisme Guru dan Pendidik

Kurikulum dan panduan manajemen sekolah sebaik apapun tidak akan berarti jika tidak ditangani oleh guru profesional. Karena itu tuntutan terhadap profesinalisme guru yang sering dilontarkan masyarakat dunia usaha/industri, legislatif, dan pemerintah adalah hal yang wajar untuk disikapi secara arif dan bijaksana.

Tujuan pendidikan berdasarkan UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.

Berdasarkan Pasal di atas ada dua hal yang menjadi tujuan pendidikan nasional di Indonesia :

1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan serta akhlak mulia

2. Mencerdaskan Kehidupan bangsa.

Ada banyak kendala mengapa tujuan pendidikan nasional belum berhasil. Semua kendala tersebut harus bisa diselesaikan oleh Bangsa Indonesia, seluruh komponen bangsa mulai dari Pemerintah, Guru, Orang Tua, Wali murid, siswa, masyarakat dan siapa saja yang peduli dengan cita-cita pendidikan nasional.

Dan tanpa tedeng aling-aling harus saya katakan bahwa penyebab cita-cita pendidikan nasional belum tercapai bukan hanya pemerintah, guru, orang tua, siswa akan tetapi adalah bangsa Indonesia sendiri. Ya, tanggungjawab terletak di pundak kita semua sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kemudian bahwa permasalahan pendidikan yang tampak di permukaan.

Kurikulum yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Dengan kata yang lebih ekstrim, kurikulum yang ada saat ini justru melanggar UUD 1945.

Saat ini pendidikan di Indonesia seolah-olah hanya mengasah otak siswa agar cerdas. Dan mengesampingkan hati nurani serta etika siswa.

Masalah yang kedua adalah ada beberapa pendidik yang kurang profesional.

Pendidik, Guru, Dosen, ustaz atau apapun sebutannya adalah makhluk istimewa yang dipilih oleh Tuhan melalui seleksi CPNS, melalui tes atau karena kesadaran sendiri menjadi Guru Bantu.

Mereka memiliki profesi yang sangat mulia, mentransfer ilmu kepada orang lain. Mereka adalah pemberi bekal bagi murid-muridnya untuk menempuh perjalanan kehidupan di dunia ini. Mereka mengajari orang lain yang sebelumnya tidak bisa membaca dan menulis hingga menjadi pintar membaca dan menulis. Mereka mengerjakan dengan ikhlas.

Sebagian besar Guru di Indonesia sepertinya memang begitu. Yang menjadi permasalahan sekarang, ada beberapa guru yang tidak profesional. Tidak menjalankan tugas semestinya. Dana Sertifikasi justru menjadi alasan bagi beberapa orang untuk tidak bersikap profesional ketika mengajar. Tidak tepat waktu, sering meninggalkan kelas.

Orang Tua/ Wali Murid yang kurang bertanggung jawab terhadap anaknya.

Maksudnya adalah ada beberapa orang tua yang menyerahkan 100 persen pendidikan anak kepada instansi sekolah. Akibatnya, ketika seorang siswa tidak naik kelas atau dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran, pihak yang disalahkan oleh orang tua adalah Guru.

Solusi untuk mengatasi Kurikulum yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Solusinya adalah membuat Kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Kurikulum yang ada di Sekolah Dasar hingga menengah harus mencakup aspek pendidikan yang mengasah hati nurani dan kecerdasan otak. Bahkan pada level pendidikan Dasar, kurikulum yang ada harus menitikberatkan pada pendidikan moral yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan kebaikan, sopan santun, kedisiplinan dan berbagai macam pendidikan akhlak. Sebagai contoh, pada pelajaran agama Islam, perlu diajarkan ilmu tasawuf di Sekolah Dasar, yaitu sebuah ilmu tentang akhlak. Selain itu perlu juga diajarkan berbagai bentuk kearifan lokal seperti kebudayaan lokal daerah setempat.

Selain membuat kurikulum yang mendidik aspek hati, Pemerintah harus dengan tegas memilih Guru yang bermoral. Apa artinya, siswa diajari tentang moral, jika pada prakteknya, Guru ataupun Pemerintahnya diisi orang-orang tidak bermoral. Guru atau orang orang yang ada di dinas pendidikan yang tidak bermoral diberi kesempatan untuk memperbaiki moralnya, jika tidak berhasil dengan terpaksa harus diberi kesempatan untuk berkarir di bidang lain atau dengan kata lain dipecat.

Untuk mengatasi pendidik yang kurang profesional, Pemerintah harus bisa membuat mereka bekerja lebih profesional. Para Guru yang kurang profesional diberi pemahaman akan arti sebuah tanggung jawab. Misalnya tentang dana sertifikasi. Guru harus tahu bahwa tujuan dari sertifikasi guru adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Berarti dia harus bekerja lebih cerdas dan bekerja keras agar para siswa benar benar menjadi siswa yang bermoral dan cerdas.

Selain itu harus ada peraturan yang lebih tegas, agar para guru yang unprofesional tidak seenaknya makan gaji buta. Salah satunya adalah meninjau kembali kebijakan tentang Sertifikasi Guru. Harus ada sistem yang lebih ketat agar dana sertifikasi tidak jatuh ke tangan guru berwatak jahat.

Solusi untuk Orang Tua yang kurang memahami makna pendidikan anak adalah dengan mengajak dan mengundang orang tua/ wali untuk duduk bersama membicarakan tentang kondisi siswa. Guru harus terus terang bahwa, mereka tidak akan mampu mendidik dengan sempurna tanpa dibantu oleh orang tua.

Selain ketiga solusi di atas ada hal yang lebih penting yang harus diikutsertakan. Sebuah hal yang seringkali dilupakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam dunia pendidikan. Hal itu adalah Hati Nurani. Sebuah hal yang seringkali tidak dianggap oleh pemiliknya sendiri yaitu manusia. Padahal melalui hati nuranilah suara-suara kebenaran dititipkan oleh Tuhan pencipta Alam. Dari hati nuranilah lahir akhlak yang baik, moral yang baik. Lahirlah kejujuran, sikap amanah dan dapat dipercaya.

Permasalahan tentang dana, gedung yang rusak, sistem manajemen pendidikan, kepemimpinan, tata kelola sekolah akan bisa diatasi dengan baik, jika pihak-pihak yang berkompeten memiliki moral yang baik. Tanpa moral yang baik, segala macam bentuk pelatihan hanya omong kosong belaka. Perbaikan gedung yang rusak hanya akan jadi lahan korupsi belaka. Sistem manajemen pendidikan hanya sebuah formalitas tanpa isi. Ya, Pendidikan harus serius memperbaiki moral manusia-manusia yang terlibat dalam bidang pendidikan.

Sebuah pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai rapor, tentang uang, tentang sekolah favorit. Akan tetapi pendidikan yang benar-benar mencerdaskan hati dan otak. Melalui pendidikan hati, anak-anak akan bisa membedakan kebenaran dan kejahatan. Mereka tidak akan begitu saja mudah dibujuk untuk tawuran, membullly temannya, mencontek ataupun menyuap hanya untuk masuk sekolah favorit.

Guru sebagai suri tauladan juga harus bisa mendidik hatinya sendiri, sehingga dia bisa bekerja lebih profesional dan bertanggung jawab. Ketika itu terjadi, Guru akan menjadi pahlawan yang akan terus dikenang sepanjang masa.

Itulah sebenarnya tujuan dari pendidikan sesuai dengan yang diamanatkan UUD 1945. Mendidik manusia berbudi bekerti luhur dan bisa membedakan mana kebenaran dan mana kejahatan. Bukan hanya bisa membedakan akan tetapi bisa mengamalkan bentuk-bentuk kebaikan di bumi Indonesia ini. Sebuah pendidikan yang berlandaskan hati nurani.

2.2 . Sebagai kepala madrasah/sekolah, bapak dan ibu dituntut untuk melakukan penyempurnaan KTSP yang telah ada, agar pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi dapat berhasil tanpa harus menambah jam pelajaran (karena beban peserta didik makin berat). Apa yang harus bapak & ibu kerjakan/ lakukan untuk menyempurnakan KTSP di madrasah/ sekolah yg sudah ada?

Jawaban 2.2

KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan agar lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakaqn keharusan agar sistem pendidikan nasional tersebut selalu relevan dan kompetitive. Hal tersebut juga sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

G. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dapat dilakukan melalui pengembangan komponen-komponen kurikulum, di antaranya:

a. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan

Visi, dan Misi Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan harus berorientasi ke depan, dikembangkan bersama oleh seluruh warga sekolah, merupakan perpaduan antara langkah strategis dan sesuatu yang dicita-citakan, dinyatakan dalam kalimat yang padat bermakna, dapat dijabarkan ke dalam tujuan dan indikator keberhasilannya, berbasis nilai, dan membumi (kontekstual).

Penyusunan visi dalam KTSP melalui tiga tahap yaitu; tahap 1: hasil belajar siswa, dengan merumuskan apa yang harus dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah. Tahap 2: suasana pembelajaran, dirumuskan dengan mempertimbangkan suasana pembelajaran seperti apa yg dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu, dan tahap 3: suasana sekolah, dimana sekolah ditempatkan sebagai lembaga/organisasi pembelajaran dengan merumuskan seperti apa yang diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa.

Setiap tahapan dirumuskan dalam kalimat, kemudian dipindai setiap rumusan/kalimat untuk mendapatkan kata kunci, rumusan visi dari kata kunci tersebut secara singkat padat bermakna (kurang lebih tidak lebih dari 25 kata), berdasarkan Visi ini, bisa ditentukan missinya dimana missi dapat diartikan sebagai sejumlah langkah strategis untuk menuju dan mencapai sasaran dari visi yang telah dirumuskan.

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dan khususnya tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

b. Struktur dan Muatan KTSP

Struktur dan Muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah seperti tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran, yaitu; kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaranjasmani, oleh raga dan kesehatan.Keluasan dan kedalaman pada setiap kelompok mata pelajaran sebagai beban belajar bagi setiap pesera didik pada satuan pendidikan.

mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.

Kalender Pendidikan, untuk setiap satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.

H. Peluang dan Tantangan yang diberikan oleh KTSP

KTSP memberikan peluang munculnya diversifikasi sekolah, sebab kurikulum yang dikembangkan dalam KTSP sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, hanya berisikan standar kompetensi/kompetensi dasar yang merupakan standar nasional; sedangkan pengembangan selanjutnya sangat ditentukan oleh kebutuhan/karakteristik sekolah atau masyarakat yang berada di sekitar sekolah. Peluang ini dapat diterjemahkan sebagai tantangan bagi pihak sekolah (penyelenggara pendidikan) dalam rangka mempercepat pembangunan bangsa. Apakah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan akan jalan ditempat, “menunggu perintah dari atas” sebagaimana yang selama ini dikondisikan, atau pihak sekolah mengadopsi peluang itu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsanya. Diversifikasi ini memungkinkan dikembangkannya sistem persekolahan yang berdaya saing tinggi, sebab pihak sekolah diberi kewenangan penuh untuk mengembangkan kurikulumnya sebaik dan semaju mungkin tetapi juga melihat pada kebutuhan dan kemampuan pihak penyelenggara pendidikan (sekolah). Dengan adanya kemungkinan diverisifikasi ini maka penyelenggara pendidikan tidak lagi harus seragam, sehingga diharapkan percepatan pembangunan bangsa dapat dicapai.

Partisipasi masyarakat yakni peran komite sekolah memberi masukan dan saran tentang keunggulan lokal, menjadi poin berikutnya dalam peluang yang terkandung di KTSP. Keterlibatan pihak masyarakat, yang selama ini dipandang hanya sebagai “user” pasif, memunculkan tantangan yang lebih bermakna, sebab masuknya peran/partisipasi masyarakat akan melibatkan pemikiran-pemikiran baru tentang perlunya peningkatan kualitas yang berasal dari pihak pengguna. Masyarakat dapat mengikutsertakan dirinya untuk pengembangan dan kemajuan sekolah dengan mengedepankan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Artinya pengembangan pendidikan berasal dari kebutuhan wilayah sekitar (lokal) dan membawa warna keunggulan lokal, sehingga produk pendidikan tidak lagi menjadi suatu alieansi sebab kemajuan pendidikan daerah tersebut sangat ditentukan oleh pengembangan keunggulan lokalnya.

Peluang lain yang diberikan melalui KTSP adalah bahwa kurikulum berbasis sekolah. Hal ini mengindikasi selain kurikulum akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan pihak sekolah, juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa kurikulum harus dikembangkan oleh guru. Dalam hal ini guru bukan hanya sebagai pelaksana kurikulum, melainkan juga sebagai pengembang kurikulum di kelasnya. Konsekuensinya, guru dituntut untuk siap sebagai pengembang kurikulum, sehingga tidak lagi terdengar bahwa pengembangan perencanaan pembelajaran hanyalah merupakan “pekerjaan administratif belaka”. Konsekuensi lanjutan adalah perlunya pembinaan berkelanjutan yang intensif bagi pihak guru sebagai pengembang kurikulum di tingkat sekolah.

Profesionalisasi menjadi suatu kebutuhan, dan guru harus terus meningkatkan dirinya untuk mempercepat pembangunan bangsa. Di tangan gurulah terletak maju atau mundurnya pendidikan kita.

I. Kemungkinan Permasalahan dalam Proses Implementasinya

Penerapan KTSP telah berjalan tiga tahun, dan sampai saat ini tampaknya apa yang dilaksanakan di lapangan masih belum memenuhi tuntutan kurikulum tersebut. Tidak sedikit pengamat pendidikan yang mempertanyakan apa perbedaan antara KTSP dengan kurikulum sebelumnya, sementara di kalangan guru masih terjadi perbedaan pendapat di dalam menafsirkan tuntutan kurikulum. Guru kembali menggunakan kebiasaan mengajar seperti sebelumnya. Di lain pihak para guru merasa bahwa SK/KD tidak memberi arah dan tuntunan yang jelas (dan detail) sehingga mereka cenderung mencari “contoh silabus/RPP” yang sudah jadi dan meniru nya menjadi silabus/RPP yang akan digunakannya dalam pembelajarannya.

Hal-hal yang terjadi seperti dikemukakan di atas dapat diidentifikasi :

a. Sudah terlalu lamanya guru menggunakan gaya mengajar yang mengacu kepada posisi guru sebagai user kurikulum (segala sesuatu telah ditetapkan dari atas sehingga guru tinggal melaksanakannya), dan terdapat kecenderungan untuk mempertahankan gaya tersebut (status quo), sedangkan KTSP mensyaratkan guru untuk menjadi curriculum developer.

b. Kurangnya proses sosialisasi KTSP yang pada awal berlakunya kurikulum tersebut hanya dilakukan one-shot training. Bagaimana guru dapat memahami isi dan tuntutan kurikulum dengan baik jika pengenalan dilakukan hanya dalam waktu terbatas.

Kurangnya pemahaman guru terhadap orientasi kurikulum. Dalam hal ini orientasi kurikulum (yang merupakan salah satu dari landasan kurikulum) merupakan dasar dikembangkannya bentuk kurikulum, sehingga memahami orientasi kurikulum akan memudahkan untuk memahami kurikulum secara keseluruhan. Sebagai contoh KTSP pada posisi pencapaian tujuan kurikuler berkiblat pada orientasi Transaction yang artinya siswa sebagai pusat sebab orientasi ini menganggap siswa memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan dan proses ditekankan pada proses (Seller & Miller, 1985 : 62-67) dan pengembangan aktivitas siswa merupakan tujuan antara dalam rangka mencapai tujuan kurikuler. Dengan demikian apabila guru tidak memahami orientasi kurikulum yang tersirat dalam KTSP, maka kemungkinan yang terjadi adalah guru memberikan sejumlah informasi (faktual) kepada siswa, dan pada akhirnya siswa hanya tinggal menghafal fakta-fakta yang telah diberikan oleh guru tersebut (pembelajaran satu arah dan siswa pasif – cenderung rote learning).

Tampaknya kelemahan dalam proses implementasi KTSP lebih cenderung kepada kurangnya pemahaman guru terhadap apa yang menjadi tuntutan kurikulum tersebut. Dalam hal ini masalah implementasi tersebut lebih banyak berada pada posisi kekurangan yang ada pada guru sebagai pengembang kurikulum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s