PROPOSAL TESIS IMPLEMENTASI PERATURAN SEKOLAH TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI SMK NEGERI 1 PEMALANG

IMPLEMENTASI PERATURAN SEKOLAH

TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

DI SMK NEGERI 1 PEMALANG

 

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan mempunyai nilai yang strategis dan urgen dalam pembentukan suatu bangsa. Pendidikan itu juga berupaya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa tersebut. Sebab lewat pendidikanlah akan diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa tersebut, karena itu pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, dan how to do, tetapi yang amat penting adalah how to be, bagaimana supaya how to be terwujud maka diperlukan transfer budaya dan kultur (Daulay, 2006: 9).

Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekaligus. Pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat; kedua, mentransfer (memindahkan) pengetahuan sesuai dengan peranan yang diharapkan; ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat dan peradaban (Karim, 1991: 27). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya, tidak hanya bertujuan sekedar proses alih budaya (transfer of culture) atau alih pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga sekaligus sebagai proses alih nilai (transfer of value) ajaran Islam.

Islam sebagai ajaran yang datang dari Allah sesungguhnya merefleksikan nilai-nilai pendidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia sehingga menjadi manusia sempurna. Islam sebagai agama universal telah memberikan pedoman hidup bagi manusia menuju kehidupan bahagia, yang pencapaiannya bergantung pada pendidikan. Pendidikan merupakan kunci penting untuk membuka jalan kehidupan manusia (Ismail, 2001: 56). Dengan demikian,  Islam sangat berhubungan erat dengan pendidikan. Hubungan antara keduanya bersifat organis-fungsional; pendidikan berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan Islam (Aly, 1999: 2). Islam menjadi kerangka dasar pengembangan pendidikan Islam, serta memberikan landasan sistem nilai untuk mengembangkan berbagai pemikiran tentang pendidikan Islam (Priatna, 2004: 1).

Nilai-nilai Islam, baik yang bersifat Ilahiyah maupun yang insaniyah, ditransformasikan dan diinternalisasikan terhadap manusia lain melalui arah, proses, dan sistem pendidikan yang Islami pula. Pendidikan Islam merupakan suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berlangsung sepanjang hayat (life long of education).  Islam memandang bahwa pendidikan merupakan kemutlakan dan kebutuhan manusia dalam hidup dan kehidupannya. Dalam hal ini Rupper C. Lodge dalam bukunya ”Phylosophi of Education” mengatakan, “Education is life, life is education” (Zuhairini, 1992: 10). Dengan demikian , pendidikan menurut Islam tidak lain adalah kehidupan itu sendiri, dan merupakan kebutuhan mutlak untuk dapat melaksanakan Islam.

Pendidikan adalah salah satu bentuk interaksi manusia, sekaligus tindakan sosial yang dimungkinkan berlaku melalui suatu jaringan hubungan-hubungan kemanusiaan yang mampu menentukan watak pendidikan dalam suatu masyarakat melalui peranan-peranan individu di dalamnya yang diterapkan melalui proses pembelajaran (Langgulung, 2003: 16).

Proses pembelajaran atau pendidikan memungkinkan seseorang menjadi lebih manusiawi (being humanize) sehingga disebut dewasa dan mandiri. Itulah visi atau tujuan dari proses pembelajaran (Harefa, 2000: 37). Guru sebagai pendidik dan peserta didik sebagai subyek didik. Keduanya adalah manusia yang sejajar dengan peranan yang berbeda. Pandangan  guru tentang manusia termasuk dirinya  sendiri sangat mempengaruhi sikap dari perilakunya dalam mengelola tugas-tugas kependidikan sehari-hari ( W. Gulo, 2002: 18).

Belajar sendiri merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, yang idealnya harus menyentuh tiga aspek pembelajaran, meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik (Slameto, 2003: 2). Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan metode belajar mengajar yang efektif dan terarah karena berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik. Dalam hal ini diperlukan peran aktif guru (tenaga didik) untuk mempengaruhi karakteristik kognitif, afektif maupun psikomotorik siswa, dengan memberi dorongan moral, membimbing dan memberi fasilitas belajar terbaik melalui metode pembelajaran.

Metode yang umum dipakai dalam proses belajar mengajar, salah satunya adalah dengan menggunakan pendekatan hukuman terhadap siswa secara preventif maupun represif, dengan harapan melalui hukuman tersebut kiranya dapat mencegah berbagai pelanggaran peraturan atau sebagai tindakan peringatan keras yang sepenuhnya muncul dari rasa takut terhadap ancaman hukuman (Durkheim, 1990: 116).

Berbicara tentang hukum (norma, aturan) dan hukuman, tidak terlepas dari permasalahan yang menyangkut tentang tingkah laku (behaviour) dan perbuatan manusia dalam dunia ini, tentang tanggung jawab dari segala tingkah laku manusia itu, tentang yang salah dan yang benar, tentang yang baik dan yang buruk, yang untung dan yang rugi. Selain itu masalah hukuman juga berkaitan dengan upaya memotivasi individu, yang efektivitasnya  secara kuat berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan individu itu sendiri, dan semakin jelas relevansinya apabila dikaitkan dengan tanggung jawab dan tugasnya sebagai manusia. Manusia menurut Kartini Kartono (1992: 38) merupakan makhluk yang peka/dapat dididik (homo educable), makhluk yang harus dididik (homo educandum), dan merupakan makhluk yang dapat mendidik (homo educandus).

Amir Daien Indrakusuma menjelaskan pengertian hukuman adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa, dan dengan nestapa itu anak akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya (Ahmadi, 2003: 153). Hukuman ialah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadi pelanggaran, kejahatan atau kesalahan (Purwanto, 2007: 186).

Hukuman (punishment) dalam istilah psikologi terjadi di saat situasi kehilangan (deprivation) muncul. Hukuman juga merupakan pengalaman tidak enak yang ditimbulkan oleh individu atau satu kelompok tertentu secara sengaja, dan merugikan kelompok lain disebabkan oleh pelanggaran atau kejahatan (misdeed) tersebut. Tingkah laku yang salah (misbehavior) tersebut bisa berupa pelanggaran hukum, aturan, undang-undang, perintah atau juga harapan bersama. Punishment terkadang juga dilimpahkan karena dan oleh individu sendiri tanpa melibatkan orang lain, seperti bunuh diri yang disebut dengan self punishment (Mas’ud, 1997: 23).

Awalnya, hukuman dilakukan dengan paradigma retributive dan merupakan reaksi langsung atas perbuatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Paradigma retributive ini terlihat dalam semangat mengganjar  secara setimpal berkaitan dengan perbuatan dan atau efek dari perbuatan yang  telah dilakukan. Paradigma penghukuman belakangan muncul dengan semangat agar orang tidak melakukan perbuatan yang diancamkan. Dengan kata lain, penghukuman dilakukan dengan semangat menangkal (deterrence).

Perkembangan pemahaman mengenai kegunaan penghukuman sebagai instrumen dalam rangka metode pengubahan tingkah laku terlihat melalui munculnya paradigma rehabilitative. Paradigma tersebut melihat bahwa seseorang yang melanggar atau menyimpang dari aturan yang ada pada dasarnya adalah orang yang rusak, sakit, kekurangan, bermasalah atau memiliki ketidakmampuan sehingga melakukan perilaku tersebut. Oleh karena itu, melalui penghukuman atasnya, orang tersebut pada dasarnya hendak diperbaiki atau disembuhkan dari kekurangannya. Seiring dengan perubahan paradigma tersebut, bentuk-bentuk hukuman pun berkembang, bervariasi dan  konon semakin manusiawi. Metode hukuman, dijabarkan dari keistimewaan yang lahir dari tabiat Rabbaniyah, dan diselaraskan dengan fitrah manusia, yang merupakan ciri khas pendidikan Islam (an-Nahlawi, 1992: 413). Bahkan Nabi SAW-pun dalam menanggulangi kekeliruan tidak memakai cara yang berlebihan atau cara yang sembrono, artinya beliau tidak memakai sikap keras lagi kejam dan tidak pula dengan sikap remeh lagi menganggap enteng (Rahman, 2005: 295).

Prinsip pokok dalam mengaplikasikan pemberian hukuman yaitu bahwa hukuman adalah jalan yang terakhir dan harus dilakukan secara terbatas dan tidak menyakiti anak didik. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menyadarkan peserta didik dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan (Arief, 2002: 131).  Muhammad ’Athiyah al-Abrasyi dalam karyanya al-Tarbiyah al-Islamiyah mengungkapkan bahwa, hukuman atau punishment (al-uqubah) lebih sebagai usaha edukatif untuk memperbaiki dan mengarahkan siswa ke arah yang benar (al-irsyad wa al-ishlah). Hukuman  bukan semata-mata tindakan yang memasung kreativitas (al-zajr wa al-intiqam), melainkan sebagai usaha mengembalikan siswa ke arah yang baik dan memotivasinya menjadi pribadi yang imajinatif, kreatif dan produktif (al-Abrasyi, 2003: 165-166).  Fungsi hukuman dalam perspektif pendidikan Islam adalah salah satu alat untuk mengarahkan dan membimbing fitrah anak didik ke arah maksimalitas pertumbuhan dan perkembangannya, yakni mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebaik-baiknya.

Situasi makro di atas, dalam penelitian ini ditarik ke situasi spesifik yang ditemui dalam konteks pendidikan siswa di sekolah. Ada berbagai pendapat yang  berbeda-beda jika kita bicara tentang hukuman di sekolah. Sebagaimana orang menganggap bahwa memberikan hukuman kepada siswa seolah-olah telah memperkosa hak seorang siswa dan tidak menunjukkan jiwa pendidik. Sedangkan sebagian orang lagi menyetujui hukuman sebagai cara untuk menghentikan tingkah laku yang tidak diinginkan guru. Oleh karena itu, pendidik harus mengerti mengapa perlu atau tidak seorang siswa dihukum, kapan dan untuk tujuan apa?

Di sekolah, guru menjumpai masalah pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan siswa. Guru mau tidak mau harus menangani masalah-masalah ini. Kita pernah mendengar keluhan guru bahwa siswanya tidak juga berhenti menyontek dan  berkelahi, padahal sering diberi hukuman. Selain itu juga dijumpai kenakalan lain seperti tawuran, keterlibatan dengan narkoba maupun aktivitas  seksual dini.  Hal-hal tersebut umumnya menjadikan siswa sebagai obyek dari tindakan afirmatif atau tindakan tegas dari sekolah melalui guru.

 Kenyataan yang dihadapi oleh para pendidik sekarang terasa menyedihkan, katakanlah serba salah. Anak didik diperlakukan dengan cara halus mereka tidak mengerti. Diperlakukan dengan cara kasar, apalagi, kadang-kadang berakibat runyam. Keserbasalahan pendidik inilah yang sering menimbulkan kesalahan-kesalahan dalam mendidik (demagog), yang oleh Ridwan Salim (1985: 80) disebut wan-edukasi (dis education), lebih-lebih sikap kasar (menghukum)  yang terkadang menimbulkan terjadinya kesalahan menghukum dan dapat berakibat negatif, baik bagi peserta didik maupun bagi pendidik sendiri, seperti adanya unsur balas dendam, merendahkan citra, wibawa dan martabat pendidik sendiri.

Guru adalah subyek kedua yang penting dalam menangani perilaku anak sesudah orang tua. Guru sebagai pendidik hanya diperbolehkan menggunakan hukuman jika dianggap efektif untuk mengubah perilaku siswa. Oleh karenanya, konsep hukuman tidak boleh diabaikan sebab akan membantu memelihara fitrah yang baik itu. Kendatipun demikian, pemahaman tentang fungsi hukuman dalam keadaan-keadaan tertentu tidak boleh dikacaukan dengan penerapan hukum kekerasan tanpa pandang bulu (Abdullah, 2007: 236). Hukuman harus menghindari kesan sadis dan menakutkan, yang sarat dengan kekerasan.

Adanya pelanggaran yang dilakukan siswa dan kenakalan para siswa, menarik minat penulis untuk meneliti bagaimana implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang.

Adapun lokasi penelitian di SMK Negeri 1 Pemalang dipilih karena beberapa alasan:

  1. Secara kuantitas peserta didik, sekolah ini memiliki prestasi khusus yaitu mampu menampung peserta didiknya sejumlah 958 anak (semuanya beragama Islam) yang terdiri 24 kelas dari kelas X sampai XII. Untuk tahun pelajaran 2007/2008 sekolah ini hanya menerima sekitar 35 % dari pendaftar, hal ini menunjukkan tingginya animo masyarakat untuk masuk di sekolah tersebut.
  2. Sekolah ini juga memiliki BKK yaitu Bursa Kerja Khusus. Bidang inilah yang menyalurkan tenaga kerja profesional yang dihasilkan sekolah itu untuk bekerja di dunia usaha dan dunia  industri (DUDI) baik dalam maupun keluar negeri.
  3. Kualitas akademik dan non akademik sekolah ini juga sangat patut diperhitungkan. Dalam tahun pelajaran 2007/2008 semua siswa lulus dalam ujian nasional. Sementara  dalam prestasi non akademik, dari  berbagai lomba yang diikuti, sekolah ini sering meraih juara, baik di level kecamatan, kabupaten, maupun propinsi.
  4. Pelaksanaan peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam juga telah dilaksanakan. Jumlah peserta didik yang cukup besar merupakan tantangan tersendiri bagi guru SMK Negeri 1 Pemalang yang beragama Islam dalam menerapkan peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam.  Namun demikian SMK Negeri 1 Pemalang mampu melaksanakan peraturan sekolah tersebut secara efektif dan efisien.
  5. Suasana sekolah yang cukup harmonis dan kekeluargaan yang hangat (hal ini peneliti rasakan saat pertama datang di sekolah tersebut), menjadi alasan lain atas ketertarikan peneliti untuk memilih sekolah tersebut.

Atas dasar realitas tersebut peneliti tertarik untuk meneliti dan mengkaji lebih mendalam bagaimana guru dalam mengimplementasikan peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam. Mengacu pada hal itu, peneliti mencoba meneliti tentang “Implementasi Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang”.

 

  1. B.     Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang?
  2. Bagaimana implikasi pelaksanaan peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam terhadap pencapaian tujuan pendidikan Islam  di SMK Negeri 1 Pemalang?

  1. C.    Tujuan Penelitian

Penelitian mengenai Implementasi Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam  di SMK Negeri 1 Pemalang ini mempunyai beberapa tujuan yang menjadi kerangka acuan dalam kerja penelitian. Tujuan ini adalah:

  1. Untuk mengetahui implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam   di SMK Negeri 1 Pemalang.
  2. Untuk mengetahui implikasi pelaksanaan peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam terhadap pencapaian tujuan pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang.

  1. D.    Signifikansi Penelitian

Hasil penelitian ini berupa pedoman implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang yang diharapkan membawa manfaat secara teoritis maupun praktis bagi para pemerhati pendidikan.

Manfaat teoritis berupa informasi yang jelas tentang implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang. Sedang manfaat praktis yaitu untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang pentingnya peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam. Juga memberikan solusi praktis atas problematika yang muncul dalam masalah hukuman di sekolah sebagai upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam.

  1. E.     Tinjauan Pustaka

Sejauh yang peneliti dapatkan dari penelitian sebelumnya, belum ada penelitian yang membahas tentang implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam khususnya di SMK Negeri 1 Pemalang. Memang ada penelitian sejenis mengenai reward (hadiah) dan punishmant (hukuman), antara lain:

  1. Tulisan Abdurrahman Mas’ud yang berjudul, Reward dan Punishment dalam Pendidikan Islam (Mas’ud, 1997).  Dalam tulisan ini, Abdurrahman Mas’ud membahas kondisi faktual mengenai penerapan reward dan punishment di Indonesia dan di Barat (Amerika), sekaligus mengkomparasikannya. Menurutnya, pendidikan di Indonesia masih cenderung menerapkan punishment daripada reward, sedangkan dunia pendidikan Barat justru bersikap sebaliknya, yaitu lebih mengedepankan reward daripada punishment.  Padahal Islam telah menggariskan prinsip-prinsip pendidikan yang diperkenalkan Rasulullah SAW, seperti sikap sabar, ulet, pemaaf, tanpa dengki dan dendam terhadap orang yang berbuat kesalahan, serta bersikap mencintai dan menyayangi sesama muslim. Oleh karena itu, pendidikan Islam di Indonesia harus menegakkan prinsip-prinsip tersebut dan mengaplikasikannya secara proporsional.
  2. Tesis dengan judul Reward dan Punishment sebagai Metode Pendidikan Anak menurut Ulama Klasik (Studi Pemikiran Ibnu Maskawaih, al-Ghazali dan al-Zarnuji) yang ditulis oleh Maimunah, M. Ag. (2001). Dalam tesisnya, Maimunah memaparkan pandangan-pandangan serta pemikiran-pemikiran para ulama klasik yaitu Ibnu Maskawaih, al-Ghazali, dan al-Zarnuji tentang bagaimanakah konsep reward dan punishment tersebut diaplikasikan dalam Islam. Tesis yang disusun oleh Maimunah lebih cenderung membahas aspek normatifnya saja.
  3. Tulisan Abdullah Ulwan yang berjudul Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam (Kamalie, 1981). Dalam tulisan ini ada salah satu pasal yang menyinggung bagaimanakah sebenarnya hukuman itu diaplikasikan dalam pendidikan anak, di antaranya adalah dengan rasa lemah lembut dan kasih sayang, menjaga tabiat anak yang salah dalam menerapkan hukuman dan proses pemberian hukuman itu harus dilakukan secara bertahap (gradually).
  4. Tesis Anton Widyanto yang berjudul Aplikasi Konsep Reward dan Punishment di Pesantren Walisongo Ngabar Ponorogo Jawa Timur (Widyanto, 2002). Anton menjelaskan bahwa reward dan punishment sebagai salah satu metode pendidikan Islam, pada hakekatnya bersifat kompleks dikarenakan sangat terkait dengan aspek-aspek lain baik aspek psikologis, peraturan maupun kedisiplinan. Pada dasarnya reward ditujukan untuk memotivasi individual agar memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah baik dan karenanya dia harus mengulanginya atau bahkan meningkatkannya. Adapun punishment pada hakikatnya agar individu memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah tidak benar karena itu dia tidak boleh mengulanginya.

Penelitian yang disebutkan di atas, semuanya membahas tentang reward (hadiah) dan Punishment (hukuman, sanksi) baik secara normatif maupun dalam penerapannya. Berbeda dengan penelitian-penelitian diatas,  penulis mencoba menfokuskan diri  pada hukuman (punishment) dalam pendidikan Islam dengan judul Implementasi Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang.

  1. F.     Metode Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini rencana metodologi yang akan dipergunakan antara lain sebagai berikut;

  1. Pendekatan Penelitian

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu strategi dan teknik penelitian yang digunakan untuk memahami masyarakat, masalah atau gejala dalam masyarakat dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta mendalam, data disajikan dalam bentuk verbal bukan bentuk angka (Muhajir, 1996 : 20). Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimental) di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. (Sugiyono, 2007: 15).

Dilihat dari jenisnya, penelitian ini lebih menekankan pada jenis field research (penelitian kancah atau lapangan) dan bersifat kualitatif. Adapun pendekatan kualitatif ini dilakukan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data diskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 2000 : 4).

Adapun lapangan yang menjadi sasaran penelitian adalah SMK Negeri 1 Pemalang, selain itu juga tidak lepas dari library research (penelitian kepustakaan) untuk memperoleh landasan teoritis secara ilmiah.

  1. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah meliputi:

  1. Metode Observasi

 Metode observasi yaitu dengan pengamatan yang dilakukan dengan cara pengamatan dan melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen (Arikunto, 1996: 232). Dalam penelitian ini penulis akan mengamati secara langsung implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dalam pendidikan Islam di sekolah tersebut. Kondisi secara umum di sekolah tersebut juga akan menjadi obyek pengamatan penulis.

Agar data diperoleh secara lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak, maka observasi penelitian ini menggunakan observasi partisipatif dengan tipe partisipatif moderat sehingga terdapat keseimbangan peneliti antara menjadi orang dalam dan orang luar.

Observasi dilakukan selama lebih kurang tiga bulan dengan rangkaian kegiatan yang meliputi; observasi umum kegiatan yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Pemalang dan observasi khusus terhadap peraturan sekolah tentang hukuman.

  1. Metode Wawancara

 Wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden (Singarimbun, 1989: 192). Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil (Sugiyono, 2007: 194).

Wawancara untuk mengungkap data  dilakukan dengan teknik wawancara kombinasi terbuka dan tertutup, yaitu dilakukan wawancara bebas dipadukan dengan wawancara yang draf pertanyaannya sudah disiapkan. Wawancara dilakukan secara bervariasi dan melihat momen, kapan dan di mana akan dilakukan wawancara secara informal, wawancara dengan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan wawancara baku terbuka.  Materi wawancara mengacu pada implementasi peraturan sekolah tentang hukuman.

Penetapan wawancara terhadap subjek-subjek penelitian dilakukan atas pertimbangan bahwa subjek penelitian tersebut lebih memahami dan terkait dengan tujuan atau informasi yang akan dikumpulkan.

Adapun wawancara tersebut dilakukan terutama terhadap kepala sekolah untuk mendapatkan informasi tentang kebijakan-kebijakan dan manajemen yang diterapkan di sekolah  dan  waka kurikulum, guru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran pendidikan agama Islam dan guru mata pelajaran lain yang beragama Islam. Wawancara tambahan dilakukan hanya sepintas kepada guru senior, atau peserta didik untuk mendapatkan data yang diperlukan.

  1. Metode Dokumentasi

 Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang mengandung makna barang-barang tertulis (Hadi, 1986: 181). Metode dokumentasi berarti mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya (Arikunto, 1996: 202).

Studi dokumentasi digunakan untuk mempelajari berbagai sumber dokumentasi yang sudah tersedia di lapangan, sehingga data yang didapatkan berupa data sekunder. Metode ini digunakan untuk melengkapi data yang diperlukan dan untuk mencocokkan beberapa informasi dengan data yang ada di lapangan.

Kelebihan dari studi dokumentasi adalah data yang diperoleh stabil dan tidak cepat berubah-ubah dan apabila terjadi kekeliruan atau kekurangan data dalam pembahasan maka dapat ditelusuri kembali dari sumber data yang sama yang kondisinya tidak banyak berubah.

Studi dokumentasi dilakukan terhadap dokumen-dokumen tertulis misalnya; sejarah pendirian, profil, program sekolah, dokumen tentang guru dan siswa, dokumen peraturan sekolah tentang hukuman, data pelanggaran siswa, program penilaian, buku daftar nilai siswa, jurnal pelaksanaan program belajar mengajar  sekolah, atau foto-foto penyelenggaraan kegiatan.

  1. Sumber Data Penelitian

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang memberikan data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2005: 62). Dalam penelitian kualitatif posisi nara sumber sangat penting, bukan sekedar memberi respon, melainkan juga sebagai pemilik informasi, sebagai sumber informasi (key informan) (Suprayogo dan Tobroni, 2001: 134).

Sumber data berupa data primer berupa kata-kata dan tindakan yang diperoleh dari situasi alami yang terjadi di lingkungan sekolah, baik dari pimpinan sekolah, para guru serta peserta didik. Subjek penelitian adalah pimpinan sekolah, guru mata pelajaran yang aktif terlibat dalam mengimplementasikan peraturan sekolah tentang hukuman, bersedia dan mempunyai waktu untuk memberi informasi serta peserta didik.

b. Sumber Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono, 2005: 62). Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa dokumen tertulis dan foto-foto. Jenis data yang diperoleh hasil pengamatan terhadap implementasi peraturan sekolah tentang hukuman dari wawancara dan hasil studi dokumentasi yang isinya mempunyai korelasi dengan pembahasan obyek penelitian ini.

  1. Metode Analisis Data

  Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, katagori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2000: 103).

Tahap selanjutnya setelah data-data terkumpul penulis melakukan penelaahan dan penganalisasian terhadap data-data tersebut, mulai dari hasil wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dari catatan lapangan, dokumen resmi dan sebagainya. Kemudian diteruskan dengan melakukan reduksi data melalui cara abstraksi, menyusunnya dalan satuan-satuan, mengadakan kategorisasi dan melakukan proses pemeriksaan  keabsahan data.  Data yang sudah diperiksa keabsahannya diinterpretasikan dan disajikan secara deskriptif.

  1. G.    Sistematika Penulisan

Hasil penelitian ini akan dituangkan dalam bentuk tulisan dengan sistematika sebagai berikut:

Bab pertama, pendahuluan yang membahas latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penelitian.

Bab kedua, berisi pembahasan tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam dan Tujuan Pendidikan Islam yang terdiri 2(dua) sub bab yaitu sub bab Hukuman dalam Pendidikan Islam, meliputi Pengertian,  kedudukan dan Signifikansi; Tujuan dan Fungsi Hukuman dalam Pendidikan Islam; Prosesual dan Unsur-unsur Hukuman dalam Pendidikan Islam; Jenis-jenis Hukuman dalam Pendidikan Islam; Prinsip-prinsip Pelaksanaan Hukuman dalam Pendidikan Islam, terdiri dari Prinsip Amr Ma’ruf Nahi Munkar; Prinsip Keadilan (Egalite); Prinsip Kasih Sayang; Prinsip Lemah Lembut; Prinsip Targhib dan Tarhib. Sub bab Tujuan Pendidikan Islam, meliputi Pengertian dan Fungsi; Prinsip-prinsip Pengembangan Tujuan  Pendidikan Islam; Tujuan Pendidikan Islam, terdiri dari Tujuan Akhir dan Tujuan Khusus Pendidikan Islam.

Bab ketiga berisi tentang Kondisi Obyektif Sekolah dan Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang yang terdiri dari: Situasi Umum SMK Negeri 1 Pemalang; Visi dan Misi Sekolah; Faktor Personal; Fasilitas Penunjang dan Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam.

Bab keempat adalah tentang Analisis Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang yang meliputi Tahapan-tahapan Implementasi Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang; dan Implikasinya terhadap Pencapaian Tujuan Pendidikan Islam.

Bab kelima adalah penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, Abdurrahman Saleh, 2007, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati, 2003, Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Aly, Hery Noer, 1999,  Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Arief, Armai, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press.

Arikunto, Suharsimi, 1996, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.

Daulay, Haidar Putra, 2006, Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendekatan Nasional di Indonesia, Jakarta: Kencana.

Durkheim, Emile, 1990, Moral Education, (terj. Lukas Ginting), Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hadi, Sutrisno, 1985, Metodologi Research, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Hadi, Sutrisno, 1986, Statistik  II, Yogyakarta: UGM Press.

Harefa, Andreas, 2000, Menjadi Manusia Pembelajar, Jakarta: Kompas.

Ismail SM, 2001, Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Karim, M. Rusli, 1991, Pendidikan Islam sebagai Upaya Pembebasan Manusia, dalam Muslih Usa, Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kartono, Kartini, 1992, Pengantar Ilmu Mendidik teoritis, Bandung: Mandar Maju.

Langgulung, Hasan, 2003,  Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru.

Mahfudhz, K.H. MA. Sahal, dkk., 2000, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Maimunah, 2001, Reward dan Punishment sebagai Metode Pendidikan Anak menurut Ulama Klasik (Studi Pemikiran  Ibnu Maskawaih, al-Ghazali dan al-Zarnuji), tesis, Program Pascasarjana IAIN Walisongo, Semarang.

Mas’ud, Abdurrahman, Reward dan Punishment dalam Pendidikan Islam, Media,  Edisi 28/Th. VI/Nopember/1997.

Moleong, Lexy J., 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Priatna,  Tedi, 2004, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam , Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Purwanto, M. Ngalim, 2007, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Singarimbun, Masri,  dkk. , 1989, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES.

Slameto, 2003, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Edisi Revisi, Jakarta: Rineka  Cipta.

Sugiyono, 2005, Memahami Penelitian Kualitatif, dilengkapi dengan Contoh Proposal dan Laporan Penelitian, Bandung: Alfabeta.

                , 2007, Metode Penelitian pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D), Bandung: Alfabeta.

Suprayogo, Iman dan Tobroni, (2001), Metode Penelitian Sosial Agama, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ulwan, Abdullah, 1981, ’Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam’, dalam Saifullah Kamalie dkk.., Pedoman pendidikan Anak dalam Islam, Semarang: Assy-Syifa.

W. Gulo, 2002, Strategi Belajar mengajar, Jakarta: Grasindo.

Widyanto, Anton, 2002, Aplikasi Konsep Reward dan Punishment di Pesantren

Walisongo Ngabar Ponorogo Jawa Timur, Tesis, Program Pascasarjana IAIN Walisongo, Semarang.

Zuhairini, dkk., 1991, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

OUT LINE

IMPLEMENTASI PERATURAN SEKOLAH TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI SMK NEGERI 1 PEMALANG

BAB    I    Pendahuluan

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Perumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Signifikansi Penelitian
  5. Tinjauan Pustaka
  6. Metode Penelitian
  7. Sistematika Penelitian

BAB   II    Kajian Tentang Hukuman Dalam Pendidikan Islam dan Tujuan Pendidikan Islam

  1. Hukuman Dalam Pendidikan Islam
    1. Pengertian, Kedudukan, dan Signifikansi
    2. Tujuan dan Fungsi Hukuman dalam Pendidikan Islam
    3. Tujuan Hukuman dalam Pendidikan Islam
    4. Fungsi Hukuman dalam Pendidikan Islam
      1. Proses dan Unsur-unsur Hukuman dalam Pendidikan Islam
        1. Proses Hukuman dalam Pendidikan Islam
        2. Unsur-unsur Hukuman dalam Pendidikan Islam
        3. Jenis-jenis Hukuman dalam Pendidikan Islam
        4. Pembagian Hukuman
        5. Hukuman Fisik dalam Pendidikan Islam
          1. Prinsip-prinsip Pelaksanaan Hukuman dalam Pendidikan Islam
            1. Prinsip Amr Ma’ruf Nahi Munkar
            2. Prinsip Keadilan (Egalite)
            3. Prinsip Kasih Sayang
            4. Prinsip Lemah Lembut
            5. Prinsip Targhib dan Tarhib
            6. Tujuan Pendidikan Islam
              1. Pengertian dan Fungsi Tujuan
              2. Prinsip-prinsip Perumusan Tujuan Pendidikan Islam
              3. Tujuan Pendidikan Islam
                1. Tujuan Umum (Akhir) Pendidikan Islam
                2. Tujuan Khusus Pendidikan Islam

BAB III    Kondisi Obyektif Sekolah dan Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang

  1. Situasi Umum SMK Negeri 1 Pemalang
  2. Sejarah SMK Negeri 1 Pemalang
  3. Letak Geografis
  4. Struktur Organisasi Sekolah
    1. Visi dan Misi Sekolah
    2. Faktor Personal
    3. Keadaan Guru
    4. Keadaan Karyawan
    5. Keadaan Siswa
      1. Fasilitas Penunjang
      2. Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam

BAB   IV Analisis Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang

  1. Tahapan-tahapan Implementasi Peraturan Sekolah tentang Hukuman dalam Pendidikan Islam di SMK Negeri 1 Pemalang
  2. Implikasi Hukuman dalam Pendidikan Islam terhadap Pencapaian Tujuan Pendidikan Islam

BAB    V   Penutup

  1. Kesimpulan
  2. Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s