IMPLEMENTASI SUPERVISI KEPALA SEKOLAH

IMPLEMENTASI SUPERVISI KEPALA SEKOLAH
DI SMP NEGERI 2 WARUNGPRING KABUPATEN PEMALANG

A. PENDAHULUAN
Pada saat ini, pendidikan untuk semua (education for all) menjadi dambaan setiap orang.Pendidikan seutuhnya (holistic education) juga banyak dibicirakan.Manusia akan menyadari bahwa mereka membutuhkan belajar,untuk memperoleh pengalaman berarti memperoleh hakikat kemanusiaannya.Orang yang belajar memerlukan bantuan dalam proses pembelajaran.Pembalajaran mendambakan orang yang mampu mendapat bantuan (assisting),mendapat sport (supporting),dan diajak untuk tukar-menukar pendapat (sharing).
Dibidang pengajaran dan pendidikan diperlukan penyelia (supervisor) yang dapat berdialog serta membantu pertumbuhan pribadi dan proses akan setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesi.
Supervise adalah program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran. Program itu pada hakikatnya adalah perbaikan dalam hal belajar dan mengajar.(Sahertian,2000 :17).Menurut Burton dan Bruckner (1955 : 1),Supervisi adalah suatu teknik yang tujuan utamanya adalah mempelajari dan memberbaiki bersama-sama factor-faktor yang memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak. Lebih luas lagi pandangan Kimball Wiles yang menjelaskan bahwa supervisi adalah bantuan yang diberikan untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar lebih baik.Dijelaskan bahwa situasi belajar mengajar di sekolah akan lebih baik tergantung terhadap supervisor sebagai pemimpin.Seorang supervisor yang baik memiliki lima kemampuan dasar yaitu :
a.) Keterampilan dalam hubungan – hubungan kemanusiaan
b.) Keterampilan dalam proses kelompok
c.) Keterampilan dalam kepemimpinan pendidikan
d.) Keterampilan dan mengatur personalia sekolah
e.) Keterampilan dalam evaluasi (Wiles,1955).
Kegiatan supervisi pendidikan sangat diperlukan oleh guru, karena bagi guru yang bekerja setiap hari di sekolah tidak ada pihak lain yang lebih dekat dan mengetahui dari dalam segala kegiatannya, kecuali Kepala Sekolah. Guru merupakan salah satu faktor penentu rendahnya mutu hasil pendidikan. Dalam rangka pelaksanaan program supervisi pendidikan maka harus mencakup semua komponen yang terkait dan mempengaruhi terhadap keberhasilan program supervisi pendidikan. Keberhasilan tersebut dilihat dari komponen perencanaan, implementasi dan dampak dari program supervisi pendidikan. Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai supervisor secara efektif, maka Kepala Sekolah memiliki kompetensi yaitu kemanusiaan, manajerial, dan. teknis.
Dari pendapat diatas dapat dirumuskan permasalahan umum pada makalah ini adalah bagaimankah pelaksanaan supervisi pengajaran di SMP Negeri 2 Warungpring Kabupaten Pemalang bahwa supervisi tidak lain dari usaha memeberi layanan kepada guru-guru, baik sevara individu atau secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran. Kata kunci dari pemberi supervise pada akhirnya ialah memberikan layanan dan bantuan.(Sahertian,2000 : 19).

B. RUMUSAN MASALAH
(1) Bagaimanakah program supervisi pengajaran kepala sekolah di SMP Negeri 2 Warungpring
(2) Bagaimanakah pelaksanaan teknik-teknik supervisi pengajaran oleh kepala sekolah di SMP Negeri 2 Warungpring ?
(3) Apa saja yang menjadi faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan supervisi pengajaran di SMP Negeri 2 Warungpring ?

C. TUJUAN PENULISAN
(1) program supervisi pengajaran kepala sekolah di SMP Negeri 2 Warungpring
(2) pelaksanaan teknik-teknik supervisi pengajaran oleh kepala sekolah di SMP Negeri 2 Warungpring
(3) faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan supervisi pengajaran di SMP Negeri 2 Warungpring

D. PEMBAHASAN
a. Program supervisi pengajaran kepala sekolah di SMP Negeri 2 Warungpring
1. Kompetisi Supervisor
Menurut Willes dan Bondi ada delapan kompetisi yang harus dimiliki supervisor:
1. Supervise adalah pengebang manusia.
2. Supervise adalah pengebang kurikulum
3. Supervise adalah Spealis pengajaran.
4. Supervise adalah Pekerja hubungan manusia.
5. Supervise adalah pengebang Staf.
6. Supervise adalah Administrator.
7. Supervise adalah Pemimpin perubahan staf.
8. Supervise adalah penilai.
Supervisor yang kompeten adalah yang melaksanakan kewajibannya secara efektif. Untuk itu perlu memiliki kompetensi-kompetensi (kemampuan) berikut :
1. Supervisor harus orang yang beragama,agama membuat supervisor selalu ingat bahwa diatasnya masih ada yang berkuasa.Denngan demikian,supervisor akan mawas diri.
2. Supervisor harus berperi kemanusiaan,ia tidak kejam,harus bisa merasakan perasaan orang lain dan bertindak manusiawi.
3. Supervisor harus berperasaan social,ia harus membantu orang,ia harus menyampaikan ilmunya kepada orang lain,ia tidak boleh berpendirian “saya tidak akan memberitahu seluruhnya,yang ini saya simpan untuk sendiri “,ia juga harus rela bahwa suatu waktu lebih pandai darinya.
4. Supervisor harus bertindak demokratis, artinya harus terbuka, memberikan kesempatan kepada orang lain mengemukakan pendapatnya. Supervisor harus mendengarkan pendapat orang lain. Supervisor harus sadar bukan hanya dia yang berhak mempunyai pendapat, tetapi orang lain juga. Supervisor harus menerima kenyataan bahwa ada kalanya pendapatnya tidak diikuti, tetapi sebagai supervisor ia tidak dapat selepasnya melepas tanggung jawabnya.
5. Supervisor harus memiliki kepribadian yang simpatik artinya orang senang bertemu dan berbicara dengannya.Pada air mukanya dan gerak-geriknya dapat dilihat dan dirasakan bahwa ia senang didatangi.
6. Supervisor harus termpik dan komunikasi,artinya teknik berkomunikasi harus dikuasainya,karena komunikasi merupakan titik tolak bagi pelaksanaan supervise.Tidak ada komunikasi,berarti tidak ada kemungkinan berinteraksi,tidak ada interaksi kemungkinan tidak ada bawahan (Supervisee yang disupervisi) yang menerima secara sukarela pendapat supervisor.
7. Supervisor harus bersikap ilmiam,ini berarti tindakan dan keputusan haruslah berdasarkan bukti,tidak hany emosi dan dugaan.Supervisee harus dapat mengerti mengapa supervisor mempunyai pendapat yang berbeda,mengapa penilaian supervisor terhadap dirinya tidak seperti yang diharapkan.
8. Supervisor harus menguasai teknik supervisi. Ada teknik individual dan kelompok,lisan dan tulisan,langsung dan tidak langsung.Tenik yang satu cocok dengan teknik yang situasinya tertentu,tetapi belum tentu cocok dengan situasi lain.Kadang-kadang situasi membutuhkan beberapa teknik.
9. Supervisor harus bekerja berdasarkan tujuan,ia tidak dapat mengadakan supervise yang befektif tanpa lebih dahulu mengetahuai tujuan yang akan dicapai,baik tujuan supervise dengan kegiatannya maupun tujuan supervise yang akan dilaksanakan.Dengan mengetahui tujuan yang kan dicapai supervisor dapat memilih teknik yang sesuai.
10. Supervisor harus dapat mebuat alat evaliasi dan dalam rangka supervisinya mempergulakan alat evaluasi itu ;serta
11. Supervisor harus patuh pada etika jabatannya (Baharudin Harahap,1983🙂
2. Tujuan Supervisi
Adapun tujuan khusus supervise pendidikan difokoskan pada pembinaan situasi pembelajaran.
Menurut Sahertian (2000 : 19), tujuan supervise adalah memberikan bantuan dan layanan untuk meningkatkan kualitas guru mengjar di kelas yang gilirannya dapat meningkatkan kualitas belajar sisiwa. Bukan saja memperbaiki kemampuan belajar tetapi juga untuk mengembangkan potensi dan kualitas guru. Pendapat ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Olive bahwa sasaran (dominan) supervise pendidikan ialah sebagai berikut.
1. Mengembangkan kurikulumyang sedang dilaksanakan di sekolah.
2. Meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah; dan
3. Mengembangkan kemampuan seluruh staf karyawan sekolah.
3. Prinsip Supervisi
Menurut Baharudin Harahap (1983 : 8), prinsip supervise adalah :
1. Supervise merupakan bagian dari supervise pendidikan sebagai suatu kesatuan
2. Pada dasarnya guru dan kepala sekolah memerlukan supervise dan terlibat dalam supervise itu.Oleh sebab itu supervise harus dilaksanakan seefektif mungkin.
3. Supervise hendaknya membantu penjelasan tujuan dan sasaran pendidikan.
4. Supervise membantu menciptakan hubungan manusiawi antarstaf sekolah(guru,kepala sekolah,pegawai lain),sebab menjalankan supervise berarti melaksanakan supervise terhadap pelaksanaan suatu kegiatan,yang dengan sendirinya menampakan hubungan antar manusia.
5. Tanggung jawab program supervise terletak pada guru,kepala sekolah dan pengawas atau pemilik.
6. Supervise akan efektif jika biaya supervise disediakan
Supervise harus memperhatikan dan mampu menerangkan hasil penemuan (riset) Sedangkan menurut Sahertian (2000 : 20),prinsip supervise dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Prinsip Ilmiah (Scientific)
Kegiatan supervise dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data,seperti angket,observasi,percakapan pribadi,dan seterusnya. Setiap kegiatan supervise dilaksanakan secara sisitematis,berencana dan kontinyu.
2. Prinsip Demokratis
Layanan dan bantuan yang diberikan kepada guru didasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan hangat,sehingga guru merasa aman dalam menjalankan tugasnya.
3. Pinsip kerja sama
Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilahnya supervise sharing of idea,sharing of experience,memeberi support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

4. Prinsip Kontruktif dan Kreatif
Setiap gutu merasa termotivasidalam mengembangkan kreasi dan potensi jika supervise mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan melalui cara yang menakutkan.
Fungsi Supervise
Fungsi supervise lebih luas adalah
1. Mengkordinasi usaha sekolah.
2. Melengkapi kepemimpinan sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru.
4. Menstimulasi usaha usaha yang kreatif.
5. Member fasilitas dan penilaian yang terus menerus.
6. Menganalisis situasi belajar mengajar.
7. Member pengetahuan dan ketrampilan kepada staf sekolah.
8. Member wawasan yang lebih luas dan terintregasi dalam merumuskan tujuan pendidikan serta meningkatkan kemampuan mengajar guru.
Fungsi supervise menurut Baharudin Harahap (1983 : 6) adalah sebagai berikut .
1. Supervise dapat menemukan kegiatan yang sudah sesuai dengan tujuan.
2. Supervise dapat menemukan kegiatan yang belum sesuai dengan tujuan.
3. Supervise dapat memberikan keterangan tentangb apa yang perlu dibenahi terlebih dahulu (diprioritaskan).
4. Melalui supervise dapat diketahui petugas (guru,kepala sekolah)yang harus ditatar.
5. Melalui supervise dapat diketahui petugas (guru,kepala sekolah)yang harus diganti.
6. Melalui supervise dapat diketahui buku yang tidak sesuai dengan tujuan pengajaran.
7. Melalui supervise dapat diketahui kelemahan kurikulum
8. Melalui supervise mutu belajar dan mengajar dapat ditingkatkan
9. Melalui supervise suatu yang baik dapat dipertahankan.
Adapun menurut Sahertian (2000 : 21) bahwa fungsi utama supervise pendidikan ditunjukan pada kebaikan dan peningkatan kualitas pengajaran.Fungsi tersebut meliputi kegiatan-kegiatan berikut.
1. Mengoordinir semua usaha sekolah
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah
3. Memperluas pengalaman guru-guru
4. Menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif
5. Memberikan penilaian dan fasilitas secara terus menerus
6. Menganalisis situasi belajar mengajar
7. Melengkapi staf dengan pengetahuan dan ketrampilan yang baru
8. Memadukan dan menyelaraskan tujuan pendidikan dan membentuk kemampuan-kemampuan.
5. Peranan Supervisi
Dalam bukunya tentang supervise pendidikan,Sahertian (2000 : 25) mengemukakan bahwa “Supervisi ber-fungsi membantu (assisting),member support (supporting),dan mengajak mengikutsertakan (sharing)dalam Kimbal Wiles,1955.Dilihat dari fungsinya,tampak dengan jelas peranan supervise.Peranan itu tampak pada kinerja supervisor yang menjalankan tugasnya.Mengenai peranannya supervise dapat dikemukakan para ahli.Seorang supervisor dapat berperan sebagai :
1. Koordinasi
2. Konsultan
3. Pemimpin kelompok
4. Evaluator
(Peter F.Olivia,1976 :19-20)
Objek Supervise
Menurut Sahertian (2000 :26)objek pengkajian supervise adalah perbaikan situasi belajar mengajardalam arti yang luas.Sedangkan Olivia dalam bukunya Supervision for Today’s Schools menggunakan istilah domain.Ia mengemukakan supervise pendidikan memiliki 3 domain yaitu:
1. Memperbaiki pengajaran
2. Pengembangan kurikulum
3. Pengembangan staf
Objek supervise dimasa yang akan dating mencakup :
1. Pembinaan kurikulum
2. Perbaikan proses pembelajaran
3. Pengembangan staf
4. Pemeliharaan dan perawatan moral serta semangat kerja guru-guru.
6. Model Supervisi
Beberapa model supervise pendidikan menurut Sahertian (2000 : 34) adalah sebagai berikut :
1. Model Konvesional (Tradisional)
Model ini tidak lain merupakan reflikse kondisi masyarakat pada suatu saat.Perilaku supervise adalah mengadakan inspeksi untuk mencari serta menemukan masalah.Kadang-kadang model ini bersifat mengurui.
2. Model Ilmiah
Model ini mempunyai ciri-ciri : terencana, kontinyu, sistematis, procedural, objektif dan menggunakan instrument.
3. Model Klinis
Supervise model klinis adalah supervise yang difokuskan pada peningkatan mengajar melalui siklus sistematis,baik dalam perencanaan maupun pengamatan serta analisi yang intensif dan cermat pada penampilan mengajar yang nyata,serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara rasional.

7. Teknik Supervise
Umumnya alat dan teknik supervise dapat dibedakan dalam 2 macam alat /teknik.(John Minor Gwyn 1963 :326-327).Teknik yang bersifat individual yaitu teknik yang dilaksanakan oleh seorang guru secara individual dan teknik yang bersifat kelompok yaitu teknik yang digunakan untuk melayani lebih dari seorang guru.
Teknik yang bersifat individual
1. Kunjungan kelas
2. Observasi kelas
3. Percakapan pribadi
4. Inter-visitasin (saling mengunjungi kelas)
5. Penyekelsi berbagai sumber materi untuk mengajar
6. Menilai diri sendiri

b. Pelaksanaan teknik-teknik supervisi pengajaran oleh kepala sekolah di SMP Negeri 2 Warungpring
Pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah di SMP Negeri 2 Warungpring adalah:
Pertama, kepala SMP Negeri 2 Warungpring belum memiliki program supervisi pengajaran yang ditulis dan dibuat sedemikian rupa sehingga mengakibatkan disamping kegiatan supervisi pengajaran yang dilakukan sangat kurang terarah, sulit untuk dimonitor dan diawasi kemajuan pelaksanaannya dari hari ke hari. Di samping itu dengan kondisi tersebut membuat guru-guru yang secara langsung juga terlibat dalam kegiatan disupervisi yang dilakukan kepala sekolah sulit untuk memahami tujuan pelaksanaan supervisi, juga menyulitkan mereka untuk berpartisipasi secara optimal.
Kedua, teknik-teknik supervisi pengajaran yang dilaksanakan oleh kepala SMP Negeri 2 Warungpring belum sesuai dengan pedoman yang berlaku. Teknik supervisi yang baru dilaksanakan adalah sebatas teknik kunjungan kelas, rapat guru, pertemuan individual, pelaksanaan teknik supervisi ini sudah mengikuti tata cara pelaksanaan yang tercantum di dalam berbagai buku teks dan buku pedoman pelaksanaan supervisi pengajaran yang di keluarkan oleh Depdiknas. Tapi pelbagai teknik supervisi lainnya seperti teknik supervisi berupa penyelenggaraan perpustakaan jabatan yang memadai, memberikan tugas khusus kepada guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya, buletin supervisi, penugasan untuk melakukan pengkajian suatu hasil penelitian atau kemajuan di bidang pendidikan, dan lainnya belum dilaksanakan.
Ketiga, hambatan yang dihadapi oleh kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi pengajaran di SMP Negeri 2 Warungpring sangat banyak dan kompleks, antara lain adalah pemahaman kepala sekolah sendiri yang belum baik terhadapa supervisi pengajaran. Kepala sekolah sangat sibuk dengan tugas-tugas rutin dari kantor lainnya. Keterbatasan sarana, prasarana, dan dana, belum adanya aturan yang jelas tentang kewajiban kepala sekolah untuk mengadakan supervisi pengajaran dan pengawasan terhadap pelaksanaan supervisi pengajaran yang dilakukan oleh pihak yang berwenang masih kurang, sedangkan faktor pendukung pelaksanaan supervisi pengajaran SMP Negeri 2 Warungpring adalah kesiapan guru untuk menerima dengan baik supervisi dari kepala sekolah, adanya hubungan kekeluargaan yang sudah terbina sedemikian rupa di sekolah, dan adanya dukungan yang baik dari jajaran Depdiknas Kota, termasuk melalui para pengawas yang secara periodik datang ke sekolah.

c. faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan supervisi pengajaran di SMP Negeri 2 Warungpring

Faktor Penghambat dan Pendukung
Adalah suatu hal yang sangat alamiah dan sangat wajar terjadi jika dalam pelaksanaan suatu program apapun ditemui pelbagai hambatan dan pendukung. Demikian pula dengan pelaksanaan supervisi pengajaran oleh kepala sekolah SMP Negeri 2 Warungpring. Adapun faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan supervisi pengajaran di SMP Negeri 2 Warungpring adalah sebagai berikut.
1. Hambatan Pelaksanaan Supervisi Pengajaran
Sebagai suatu kegiatan profesional untuk membantu guru menjadi lebih baik dalam pelaksanaan program pembelajaran kepala sekolah menghadapi berbagai hambatan. Hambatan-hambatan tersebut ada yang tergolong tidak terlalu serius atau berat, seperti guru yang belum siap untuk disupervisi, kesibukan kepala sekolah dan guru, sampai kepada hambatan yang serius antara lain berupa pemahaman kepala sekolah dan guru tentang supervisi pengajaran yang belum sempurna. Secara lebih lengkap hasil penelitian tentang hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi pengajaran oleh SMP Negeri 2 Warungpring dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pertama, pemahaman kepala sekolah yang belum baik terhadap supervisi pengajaran. Ini sebenarnya wajar terjadi karena selama dan sebelum menjadi kepala sekolah yang bersangkutan belum pernah mendapatkan penataran tentang supervisi pengajaran. Memang dari pihak Depdiknas dan pihak lain seperti LPMP belum dapat memberikan pelatihan tentang supervisi pengajaran kepada semua kepala sekolah yang telah menjabat, apalagi bagi guru-guru yang diproyeksikan untuk diangkat sebagai kepala sekolah. Pembinaan kepala sekolah tentang supervisi pengajaran dilakukan biasanya dengan jalan mengirimkan kepada pelbagai sekolah yang ada buku-buku pedoman pelaksanaan supervisi. Kepala sekolah diharapkan dapat belajar sendiri dari buku-buku supervisi pengajaran tersebut, dan sangat disarankan juga untuk belajar dari pelbagai sumber yang lain, atau buku lainnya yang banyak diperjual-belikan di pasaran. Kepala sekolah juga dapat mengakses perpustakaan yang ada, atau bahkan menelusuri referensi atau bahkan bacaan melalui internet. Harapan seperti ini ternyata tidak mudah dalam implementasinya. Dalam arti sungguhpun sudah cukup banyak himbauan agar kepala sekolah dan guru-guru terus-menerus belajar dari sumber belajar yang memungkinkan untuk itu, namun dalam kenyataannya dengan berbagai alasan tidak banyak yang melakukannya. Kebiasaan belajar yang belum tertanam dengan baik dalam diri guru dan kepala sekolah akan pentingnya belajar sepanjang hayat belum menjadi budaya. Disisi lainnya kepala sekolah juga belum melihat adanya urgensiu yang tinggi utnuk meningkatkan pemahamannya terhadap hakekat supervisi pengajaran baik pada dataran teori maupun pada dataran implementasi. Mereka merasa dengan kemampuan yang sudah cukup untuk memimpin suatu lembaga pendidikan atau sekolah.
Kedua, kesibukan Kepala Sekolah memang terlihat sangat sibuk dengan tugas-tugas rutin sehari-hari. Kegiatannya demikian banyak dari kegiatan pengaturan dan monitoring kegiatan yang bersifat teknis sampai kepada penyelesaian tugas-tugas berat lainnya. Kesibukan kepala sekolah dimulai pagi hari dengan kegiatan monitoring siswa masuk sekolah. Ketertiban mereka dalam berpakaian seragam. Kondisi kesehatan siswa tidak luput juga dari perhatian kepala sekolah. Di lain pihak kepala sekolah juga bertugas untuk memantau guru-guru yang datang kesekolah dari pagi hari. Pemantauan ini dimaksudkan untuk memastikan apakah ada guru yang tidak masuk. Jika ada guru yang tidak masuk dan kebetulan yang bersangkutan belum sempat memberitahukan kepada kepala sekolah maka kepala sekolah langsung dapat meminta guru piket untuk mengisi kelas yang kosong atau kepala sekolah sendiri yang masuk kelas. Sebagai kepala sekolah juga bertugas dan bertanggung jawab untuk membereskan urusan administrasi sekolah. Ini bukan pekerjaan yang mudah, apalagi ketika kepala sekolah harus membuat laporan pertanggungjawaban pemanfaatan dana bantuan Proyek. Pekerjaan yang terakhir ini memang tidak mudah. Berulang kali mengadakan konsultasi dengan Pihak Dinas dan konsultan dana
BOS dalam rangka penyusunan laporan ini penting karena pengetahuan tentang tatacara pengelolaan dana BOS termasuk didalamnya tatacara menyusun laporan masih merupakan hal yang baru bagi kepala sekolah pada umumnya, termasuk bagi kepala SMP Negeri 2 Warungpring. Tidak adanya tenaga administrasi yang secara khusus ditugaskan disekolah sebagaimana halnya di SMPN semakin membuat tugas kepala sekolah menjadi sangat berat. Kepala sekolah juga sering sibuk ke kantor Dinas Diknas untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah. Banyak lagi kegiatan dan kesibukan kepala sekolah sehari-hari yang membuat waktu demikian tersita sehingga amat menyulitkan dalam menyediakan waktu yang memadai untuk pelaksanaan supervisi pengajaran.
Ketiga, keterbatasan sarana prasarana dan dana. Keterbatasan ini sangat jelas terlihat di sekolah sehingga bukan hanya kegiatan supervisi pengajaran yang tidak dapat terlaksana secara optimal tetapi banyak program sekolah lainnya yang terganggu karena sarana prasarana dan bahkan dana untuk itu tidak tersedia dalam jumlah yang memadai. Salah satu keterbatasan yang paling menonjol adalah tidak tersedianya perpustakaan profesional yang memadai yang dapat digunakan guru dan kepala sekolah untuk memajukan profesinya. Pihak yang berwenang memang sampai saat ini belum memberikan prioritas untuk mendirikan perpustakaan guru di masing-masing sekolah. Disamping itu sekolah juga mengalami kekurangan sarana dan alat bantu pembelajaran. Buku-buku pegangan guru termasuk buku eksiklopedia juga sangat terbatas sehingga membuat guru sangat sulit untuk mengembangkan profesinya di sekolah.
Keempat, belum adanya aturan yang jelas tentang kewajiban kepala sekolah untuk mengadakan supervisi pengajaran. Pihak Depdiknas memang tidak memiliki aturan yang mewajibkan kepala sekolah melaksanakan supervisi pengajaran yang diatur dalam pedoman tertentu, dan jika kepala sekolah diwajibkan melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Jika kepala sekolah tidak melaksanakan maka akan diberikan sanksi. Yang ada adalah masih lebih banyak berupa himbauan atau pedoman umum yang sifatnya tidak terlalu mengikat kepala sekolah untuk melaksanakannya. Lain misalnya dengan kegiatan pelaksanaan apel bendera pada pagi senin, perayaan hari besar nasional tertentu, dan lain sebagainya yang sudah diatur sedemikian rupa. Karena tidak adanya aturan yang jelas maka kepala sekolah cenderung mempersepsikan tugas memberikan supervisi pengajaran sebagai tugas yang perlu dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki oleh kepala sekolah. Bukan berdasarkan kebutuhan guru. Dengan kondisi sepeti ini maka membuat pelaksanaan supervisi pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah jauh dari apa yang diharapkan.
Kelima, pengawasan dari berbagai pihak, terutama pengawas, terhadap pelaksanaan supervisi pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah masih kurang. Walaupun pengawasan secara periodik datang kesekolah untuk mengadakan supervisi dana pembinaan umumnya lainnya, namun mereka rata-rata belum memberikan sejenis petunjuk dan perintah yang tegas agar kepala sekolah benar-benar melaksanakan supervisi pengajaran dengan baik dengan program yang jelas dan jadwal yang pasti. Kemudian perintah ini dimonitoring sedemikian rupa pelaksanaannya oleh kepala sekolah. Jika tidak dilaksanakan sesuai dengan yang diminta perlu diklasifikasi apa yang menyebabkan kondisi seperti itu terjadi. Kemudian kalau pelaksanaaannya belum optimal atau belum sejalan betul dengan apa yang diharapkan maka diberikan pembinaan yang optimal. Dengan pembinaan secara terus-menerus diyakini akan sangat membantu kepala sekolah dalam mengintensifkan pelaksanaan supervisi pengajaran di sekolahnya.
2. Faktor Pendukung
Di samping faktor penghambat dalam pelaksanaan supervisi pengajaran oleh kepala SMP Negeri 2 Warungpring ditemui berbagai faktor pendukung yang sesungguhnya sangat besar manfaatnya jika dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Faktor pendukung dimaksud seperti kesiapan guru untuk menerima bimbingan dan bantuan kepala sekolah melalui pelaksanaan supervisi pengajaran. Sudah terbinanya hubungan kekeluargaan yang baik sesama guru. Dukungan dari pihak atasan dalam hal ini pengawas dan pejabat di jajaran Dinas Dikjar Lubuklinggau dan siswa. Untuk lebih jelasnya terhadap masing-masing faktor pendukung tersebut diuraikan secara singkat berikut ini.
Pertama, kesediaan guru menerima pembinaan dari kepala sekolah SMP Negeri 2 Warungpring menunjukkan guru senior tidak keberatan jika kepala sekolah secara terus-menerus membina mereka bahkan hal ini dipandang sebagai suatu keharusan baik dalam kapasitas sebagai kepala sekolah yang memang memiliki salah satu tugas membina guru. Juga dilihat dari tingkat kepangkatan kepala sekolah yang lebih tinggi dari guru. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang demikian pesat juga disadari dan direfleksikan oleh guru sebagai adanya kebutuhan bagi mereka untuk mengembangkan diri.
Kedua, adanya hubungan kekeluargaan diantara guru dengan guru, dan antara guru dengan kepala sekolah. Guru-guru merasa bagaikan keluarga sehingga sangat mendukung upaya penciptaan iklim organisasi yang baik di sekolah. Hubungan antara guru yang satu dengan lain dibangun atas dasar kebersamaan disegala bidang, tidak ada yang merasa lebih baik atau lebih penting dari yang lainnya. Mereka sama-sama merasa sebagai guru yang seluruh aktivitasnya di sekolah harus di curahkan untuk kemajuan belajar murid. Hubungan kepala sekolah dengan guru juga demikian adanya. Walaupun kepala sekolah secara formal diangkat sebagai pemimpin di sekolah tetapi dalam menjalankan kepemimpinannya tidaklah otoriter. Tetapi berdasarkan kepemimpinan yang demokratis . Komunikasi dengan guru lebih banyak di bangun atas dasar komunikasi yang lebih bersifat informal ketimbang komunikasi formal. Kondisi hubungan seperti ini sangat mendukung pelaksanaan supervisi pengajaran jika dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Ketiga, dukungan dari pihak atasan. Dukungan ini diberikan secara terus-menerus baik melalui pengiriman berbagai pedoman dan buku petunjuk ke sekolah juga melalui berbagai pertemuan yang diadakan oleh pimpinan Dinas dengan kepala sekolah. Kedatangan pengawas secara periodik kesekolah juga dapat diartikan sebagai bentuk dukungan langsung dari mereka terhadap upaya peningkatan kualitas pembelajaran guru. Dengan dukungan seperti itu maka membuat kepala sekolah seharusnya tidak perlu ragu-ragu lagi untuk secara intensif melaksanakan supervisi pengajaran. Menggerakkan segenap potensi yang ada disekolah secara optimal agar kegiatan penting tersebut dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya

E. KESIMPULAN
Secara singkat dapat disimpulan bahwa fungsi utama dan atau tugas supervise ialah sebagai berikut:
1. Menjalankan aktifitas untuk mengetahui situasi administrasi pendidikan, sebagaimkegiatan pendidikan sekolah dalam segala bidang.
2. Menentukan syarat syarat yang diperlukan untuk menciptakan situasi pendidikaan di Sekolah.
3. Menjalankan aktifitas untuk mempertinggi hasil dan untuk menghilangkan hambatan hambatan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Choliq, Supervisi Pendidikan,(Yogyakarta: Mitra Cendekia,2011),
Adams dan Dicky, Basic Principle of Supervision, (1959).
Burton w.H & Lee J. Bruckner, Supervision, (New York: Apleton Century Craff,Inc, 1955).
Indrafachrudi, Soekarto, Bagaimana Memimpin Sekolah yang Efektif, (Jakarta:Ghalia Indonesia,2006).
Sahertian,Piet A, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia,(Jakarta: Rineka Cipta, 2008).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s